JENIN (PIC) – Pemandangan yang tersaji di Desa Zububa, sebelah barat Jenin, bukan sekadar operasi pembongkaran lahan pertanian. Bagi warga setempat, peristiwa itu terasa seperti pencabutan akar kenangan yang telah tumbuh dan diwariskan selama puluhan tahun.
Selama tiga hari berturut-turut, serdadu penjajah ‘Israel’ terus menumbangkan dan mencabut ratusan pohon zaitun tua yang telah lama berdiri di kawasan tersebut. Akibatnya, hamparan lahan yang selama ini menjadi sumber penghidupan bagi puluhan keluarga berubah menjadi tanah kosong yang gersang.
Warga menilai langkah tersebut bukan hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga merupakan bagian dari tindakan yang menyasar manusia dan tanah secara bersamaan. Bagi mereka, pohon-pohon zaitun itu bukan sekadar tanaman produktif, melainkan ymbol keterikatan dengan tanah, sejarah keluarga, dan sumber mata pencarian yang telah menopang generasi demi generasi.
Dari Penutupan Akses hingga Menyasar Lahan Pertanian
Ujian warga Zububa tidak dimulai ketika buldoser mulai meratakan lahan. Selama sekitar delapan bulan terakhir, desa tersebut telah menghadapi serangkaian tindakan yang dilakukan serdadu zionis. Mulai dari penerobosan rumah, penangkapan warga, hingga penutupan berulang akses masuk ke desa. Kini, tindakan itu memasuki fase yang dinilai lebih berbahaya dengan menyasar langsung lahan-lahan pertanian.
Kepala Dewan Desa Zububa, Zaki Jaradat, mengatakan bahwa serdadu zionis selama ini kerap menutup akses menuju desa dengan alasan “keamanan”. Hal tersebut membuat Zububa terisolasi dari wilayah sekitarnya dan menyulitkan aktivitas serta mobilitas warga.
Langkah-langkah tersebut kemudian berkembang dengan diterbitkannya serangkaian pemberitahuan untuk menebang dan mencabut pohon-pohon zaitun. Awalnya, pemberitahuan itu hanya mencakup area yang terbatas, namun secara bertahap diperluas hingga meliputi sekitar 126 dunum lahan di tiga lokasi berbeda.
Namun, kata Jaradat, apa yang terjadi di lapangan jauh melampaui cakupan pemberitahuan tersebut. Operasi perataan lahan yang dilakukan belakangan ini mengakibatkan lebih dari 120 dunum lahan pertanian rusak dan sekitar 1.200 pohon zaitun tercabut dari akarnya.
Jaradat memperingatkan bahwa rencana tersebut masih berpotensi meluas hingga mencakup sekitar 500 dunum lahan tambahan. Jika hal itu terjadi, sebagian besar lahan pertanian yang tersisa di Desa Zububa terancam hilang, sehingga berdampak langsung pada sumber penghidupan banyak keluarga yang mengandalkan sektor pertanian.
Mata Pencarian yang Kini Terancam
Nilai penting lahan-lahan pertanian di Zububa semakin besar setelah pecahnya perang di Gaza pada 2023. Banyak warga desa kehilangan pekerjaan mereka di wilayah dalam Garis Hijau, sehingga pertanian menjadi satu-satunya tumpuan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Namun kini, menurut warga setempat, mata pencarian itu juga menjadi sasaran. Kondisi itu terjadi ketika luas wilayah desa terus menyusut secara rastic. Jika sebelum 1948 Zububa membentang di area sekitar 48.000 dunum, kini yang tersisa hanya sekitar 1.200 dunum.
“Mereka Mencabut Ibu Saya Sebelum Mencabut Pohon-Pohon Itu”
Bagi para petani, kehilangan pohon-pohon zaitun bukan hanya soal kerugian ekonomi. Bersama pohon-pohon yang tercabut, ikut hilang pula kenangan dan bagian dari sejarah keluarga mereka.
Petani Munir Jaradat menuturkan bahwa sebagian pohon yang dihancurkan serdadu zionis telah berusia lebih dari 60 tahun. Pohon-pohon itu ditanam dan dirawat langsung oleh ibunya, yang setiap hari membawa air dari tempat yang jauh demi memastikan tanaman tersebut tumbuh dan berbuah.
Munir mengenang ikatan keluarganya dengan pohon-pohon tersebut. “Pohon-pohon ini bukan sekadar pohon zaitun. Mereka adalah bagian dari kehidupan ibu saya dan kenangan masa kecil kami,” ujarnya.
Petani Samer Maqalda mengatakan bahwa tindakan serdadu zionis tidak berhenti pada pencabutan pohon-pohon zaitun. Mereka juga menghancurkan sebuah rumah kaca pertanian, tiga sumur air, serta satu kolam penampungan air untuk kebutuhan pertanian. Selain itu, ia menerima pemberitahuan untuk membongkar lahan pertanian lain miliknya yang memiliki luas sekitar 15 dunum.
Maqalda menuturkan bahwa setelah menerima pemberitahuan tersebut, ia terpaksa membongkar sendiri salah satu rumah kaca yang dimilikinya. Akibatnya, tanaman zucchini yang ditanam di dalamnya rusak dan menyebabkan kerugian lebih dari 30.000 shekel.
Secara keseluruhan, kata Maqalda, kerugian yang ia alami telah melampaui 300.000 shekel, mencakup kerusakan lahan, fasilitas pertanian, serta hilangnya hasil produksi yang menjadi sumber penghasilan keluarga.
Lima keluarga dari saudara-saudaranya selama ini mengandalkan lahan tersebut setelah kehilangan pekerjaan dan sumber pendapatan di wilayah dalam Garis Hijau. “Lahan ini adalah satu-satunya sumber mata pencarian yang tersisa bagi kami,” ujarnya.
Menurut Maqalda, ketika pekerjaan lain sudah tidak lagi tersedia, pertanian menjadi harapan yang diandalkan keluarganya. Namun kini, lahan dan fasilitas pertanian mereka menjadi sasaran serangan penjajah.
Isolasi yang Terus Berlanjut
Dampak yang dirasakan warga Zububa tidak hanya berupa perataan lahan pertanian. Hingga kini, sebagian besar akses masuk ke desa masih ditutup, membatasi mobilitas warga dan memperdalam isolasi yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Serdadu zionis juga menutup jalan menuju kawasan Al-Waer, yang dihuni sekitar 16 keluarga, dengan timbunan tanah. Akibatnya, warga terpaksa menempuh jalur-jalur yang sulit dan tidak layak untuk mencapai rumah mereka maupun mengakses layanan dasar sehari-hari.
Pakar urusan permukiman ilegal ‘Israel’, Abdul Hadi Hantash, menilai bahwa apa yang terjadi di Zububa tidak dapat dipisahkan dari kejahatan yang telah lama diterapkan zionis di wilayah-wilayah yang berdekatan dengan tembok aneksasi.
Hantash mengatakan bahwa alasan “keamanan” kerap digunakan untuk membenarkan perataan lahan dan pencabutan pohon. Namun, menurutnya, tujuan yang lebih luas adalah menciptakan zona penyangga dan memperluas kontrol atas tanah-tanah Palestina, sebagai langkah yang dapat mempermudah aneksasi atau membatasi akses pemiliknya di masa mendatang.
Pencabutan pohon zaitun memiliki dampak yang melampaui kerugian ekonomi semata. Bagi masyarakat Palestina, pohon zaitun tidak hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga simbol keberadaan mereka di tanah tersebut serta salah satu bukti keterikatan dan kepemilikan atas lahan yang diwariskan turun-temurun.
Karena itu, menurut Hantash, penargetan terhadap pohon-pohon zaitun juga berkaitan dengan upaya mengubah realitas geografis dan demografis di kawasan tersebut.
Hantash memperingatkan bahwa jika langkah-langkah seperti ini terus berlanjut, luas lahan pertanian di Zububa akan semakin menyusut. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh sektor pertanian, tetapi juga oleh puluhan keluarga yang mengandalkannya. Kejahatan tersebut dinilai semakin memperkuat isolasi yang dialami desa-desa Palestina. (PIC)