Beranda / Palestina / Realita Anak-anak Autis di Gaza: Terjebak di Tengah Reruntuhan dan Bungkamnya Dunia
Kabar Palestina
11 Apr 2026

Realita Anak-anak Autis di Gaza: Terjebak di Tengah Reruntuhan dan Bungkamnya Dunia

Realita Anak-anak Autis di Gaza: Terjebak di Tengah Reruntuhan dan Bungkamnya Dunia
Bagikan:

GAZA (PIC) – Di Gaza, autisme tak lagi sekadar kondisi kesehatan yang membutuhkan perhatian khusus. Di tengah agresi genosida yang tak memberi ruang bagi ketenangan dan stabilitas, autisme berubah menjadi kesulitan berlapis.

Dentuman bom yang tak henti, rumah-rumah yang runtuh, serta keluarga yang tercerabut dari tempat tinggalnya, memaksa ratusan anak autis menjalani kenyataan pahit—jauh melampaui kemampuan mereka untuk memahami, apalagi beradaptasi.

Saat dunia memperingati Hari Kesadaran Autisme Sedunia pada 2 April, suasana itu terasa begitu jauh dari Gaza. Bagi banyak keluarga di wilayah yang terkepung ini, perjuangan bukan lagi tentang terapi atau perawatan, melainkan sekadar bertahan hidup dari hari ke hari.

Di Tengah Reruntuhan, Perawatan menjadi Mustahil

Di sebuah rumah yang hancur di kawasan Sheikh Radwan, Gaza utara, Layan Abu Qoussa (16) tinggal bersama keluarganya. Lingkungan tempat ia hidup kini jauh dari kata aman—bahkan tak menyerupai ruang layak bagi anak autis.

Ayahnya, Hammad Qoussa, mengisahkan bahwa kondisi Layan sudah menjadi tantangan sejak sebelum perang. Namun kini, situasinya memburuk secara drastis.

Layan membutuhkan terapi rutin dan program rehabilitasi, tetapi keterbatasan sumber daya membuat semua itu mustahil. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar perawatan pun, keluarga kini tak lagi mampu.

Di tengah reruntuhan, hal-hal sederhana berubah menjadi tantangan besar. Layan membutuhkan pengawasan terus-menerus di lingkungan yang penuh bahaya. Keluarga tak bisa meninggalkannya sendirian, bahkan sesaat.

Kondisi ini membatasi ruang gerak seluruh anggota keluarga, yang juga harus menghadapi tekanan psikologis dan kemanusiaan yang berat.

“Semakin besar Layan, semakin sulit kami menanganinya. Dengan kehancuran di sekeliling kami, mengendalikan perilakunya menjadi jauh lebih rumit dan berbahaya,” ujar sang ayah, merangkum getirnya kenyataan yang mereka hadapi setiap hari.

Perang dan Pengungsian Memutus Jalan Terapi

Perang tidak hanya meruntuhkan bangunan di Gaza, tetapi juga memutus perjalanan panjang anak-anak autis menuju pemulihan. Di tengah pengungsian dan ketidakpastian, terapi yang selama ini menjadi harapan, kini terhenti tanpa kejelasan.

Kisah Islam Shamali menjadi salah satu potret pilu itu. Putranya, Yahya, sebelumnya menunjukkan perkembangan signifikan setelah menjalani perawatan intensif, bahkan sempat mendapatkan terapi di Mesir yang membawa perubahan nyata. Namun semua itu sirna dalam sekejap ketika genosida melanda Gaza.

Kembalinya mereka ke Gaza bertepatan dengan dimulainya agresi, memaksa keluarga ini memasuki siklus pengungsian yang melelahkan. Berpindah dari satu tempat tidak layak ke tempat lain—dari tenda hingga bangunan setengah jadi—mencabut rasa aman yang sangat dibutuhkan anak autis seperti Yahya.

Tanpa rutinitas yang stabil, kondisi Yahya memburuk drastis. Ia kerap keluar dari tenda tanpa memahami bahaya di sekelilingnya, di lingkungan yang sama sekali tidak memberi perlindungan. Dalam upaya yang sulit untuk menjaga kestabilannya, keluarga terpaksa menyewa apartemen yang belum selesai dibangun, dengan biaya yang jauh melampaui kemampuan mereka.

Saat Orangtua Terpaksa Berperan Menjadi Dokter

Krisis ini tidak hanya menimpa keluarga, tetapi juga sistem layanan kesehatan yang nyaris lumpuh total. Bahkan sebelum perang, Gaza sudah kekurangan tenaga ahli dan pusat rehabilitasi khusus. Kini, layanan tersebut hampir sepenuhnya hilang.

Para orangtua pun terpaksa mengambil peran sebagai terapis dan dokter bagi anak-anak mereka—tanpa bekal pengetahuan maupun fasilitas yang memadai. Akibatnya, banyak anak mengalami kemunduran signifikan, baik dalam kemampuan maupun perilaku.

Dalam situasi ini, anak-anak tidak hanya kehilangan akses pengobatan, tetapi juga dukungan psikologis dan interaksi sosial yang penting bagi perkembangan mereka. Hari-hari berubah menjadi ujian berat bagi keluarga, yang harus bertahan tanpa dukungan nyata.

Di saat dunia berbicara tentang inklusi dan pemberdayaan penyandang autisme, anak-anak di Gaza justru semakin tersisih. Mereka terjebak dalam pusaran penindasan yang tak mereka pahami—tanpa suara, tanpa pilihan.

Di tengah semua ini, para orang tua tidak lagi menuntut hal-hal besar. Mereka hanya menginginkan yang paling mendasar: tempat yang aman, sedikit ketenangan, dan kesempatan bagi anak-anak mereka untuk hidup tanpa rasa takut.

Di Tengah Perang, Harapan akan Dunia yang Lebih Inklusif Kian Menjauh

Di tengah kepungan konflik dan kehancuran, nasib anak-anak autis di Gaza kian terpinggirkan. Hingga kini, tidak ada data pasti atau survei khusus yang mencatat jumlah mereka.

Namun para pekerja di bidang ini memperkirakan jumlahnya mencapai ratusan orang—hidup dalam bayang-bayang minimnya perhatian, lemahnya layanan rehabilitasi, serta keterbatasan tenaga ahli di pusat-pusat perawatan.

Kondisi ini bukan hal baru, tetapi perang membuatnya jauh lebih buruk. Sistem yang sejak awal rapuh kini nyaris runtuh; meninggalkan keluarga tanpa dukungan berarti untuk merawat anak-anak mereka yang membutuhkan perhatian khusus.

Di saat dunia memperingati Hari Kesadaran Autisme Sedunia, pesan dari Sekretaris Jenderal PBB terdengar kontras dengan realitas di Gaza. Ia menyatakan bahwa penyandang autisme, seperti halnya setiap manusia, berhak menentukan pilihan hidup mereka dan berkontribusi dalam membentuk masa depan bersama.

“Bakat, cara pandang, dan kontribusi mereka sangat memperkaya dunia,” tegasnya. Ia juga menekankan bahwa untuk mewujudkan hal tersebut, dunia harus memastikan adanya kesetaraan dalam pendidikan, keadilan dalam kesempatan kerja, serta akses layanan kesehatan yang layak bagi semua. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami