GAZA (PIC) – Anak-anak muhajirin di Gaza kini menghadapi ancaman baru di tengah agresi genosida yang belum benar-benar usai: wabah cacar air yang terus menyebar di kamp-kamp pengungsian.
Para ahli kesehatan memperingatkan, lonjakan kasus terjadi saat kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza berada pada titik paling rapuh setelah berbulan-bulan agresi genosida dan ancaman serangan lanjutan dari penjajah zionis.
Kamp-kamp pengungsian yang penuh sesak menjadi tempat ideal bagi penularan penyakit. Ribuan keluarga hidup berhimpitan di tenda-tenda sempit, sementara akses air bersih, sanitasi, dan layanan kesehatan nyaris runtuh total. Di tengah kondisi itu, anak-anak menjadi kelompok paling rentan.
Cacar air yang biasanya dapat ditangani dengan perawatan dasar kini berubah menjadi ancaman serius karena rumah sakit kekurangan obat-obatan, tenaga medis, dan fasilitas penanganan. Banyak keluarga bahkan kesulitan memperoleh air bersih untuk menjaga kebersihan anak-anak mereka yang sakit.
Laporan Al-Araby Al-Jadeed menyebutkan penyakit ini telah menyebar luas di antara keluarga-keluarga muhajirin. Penyebaran cepat dipicu oleh pengungsian massal, buruknya sanitasi, dan krisis air bersih yang semakin parah akibat perang berkepanjangan.
Infeksi Menyebar di Tenda-Tenda Pengungsian Gaza
Di dalam tenda pengungsian yang sempit di kawasan Al-Attar, Khan Younis, Nermine Mohammed hanya bisa melihat satu per satu anggota keluarganya jatuh sakit.
Awalnya, suaminya, Saed, mengalami gejala seperti flu biasa. Namun tak lama kemudian, ruam merah mulai muncul di tubuhnya. Virus itu lalu menular kepada Abdullah, putra mereka yang baru berusia delapan tahun, sebelum akhirnya menyebar ke tiga anak lainnya.
Di tengah kepadatan kamp pengungsian, Nermine mencoba melakukan isolasi seadanya di dalam tenda. Namun ruang yang sempit dan kondisi yang serba darurat membuat upaya itu nyaris mustahil berhasil.
Salah satu putrinya sampai pingsan akibat komplikasi penyakit. Kondisi suaminya juga memburuk ketika luka dan ruam mulai menjalar ke area sekitar mata. “Penyakit ini sudah menyebar ke mana-mana di kamp,” katanya.
Menurut Nermine, penularan terus terjadi karena keluarga-keluarga muhajirin hidup berdempetan tanpa fasilitas kebersihan yang layak. Sementara interaksi antarwarga hampir tak bisa dihindari di tengah kehidupan kamp yang padat dan serba kekurangan.
Di Kota Gaza, kisah serupa dialami Sobhiya Al-Jamal. Putranya yang baru berusia empat tahun, Adam, harus dilarikan ke Rumah Sakit Al-Rantisi setelah mengalami demam tinggi yang membahayakan nyawanya.
Dokter kemudian mendiagnosis Adam menderita pneumonia yang disertai cacar air. Kondisinya sangat mengkhawatirkan karena bocah itu terlahir dengan kelainan jantung dan sebelumnya pernah menjalani operasi jantung terbuka.
Wabah Menyebar Cepat di Tengah Kepadatan Kamp Gaza
Di tenda pengungsian yang sesak, satu anak sakit bisa berarti seluruh keluarga ikut terinfeksi. Itulah yang dialami Taghreed Abu Al-Aoun di Gaza.
Semua bermula ketika putranya yang berusia enam tahun, Yahya, jatuh sakit. Taghreed berusaha mengisolasinya di dalam tenda sempit tempat mereka tinggal. Namun seperti banyak keluarga muhajirin lainnya, ruang terbatas membuat pemisahan hampir mustahil dilakukan. Tak lama kemudian, dua saudara perempuan Yahya—Aya (11 tahun) dan Nour (4 tahun)—ikut tertular.
Anak-anak itu mengalami demam tinggi, sakit kepala, nyeri sendi, dan ruam yang menyebar ke seluruh tubuh. Rasa gatal yang hebat membuat mereka sulit tidur berhari-hari, sementara akses pengobatan sangat terbatas.
Kisah serupa dialami Ahmad Abu Samra yang baru berusia lima tahun. Menurut ibunya, penyakit itu bermula dari suhu tubuh yang melonjak tinggi sebelum lepuh berisi cairan memenuhi tubuh anaknya setelah tertular dari sang kakak.
Dr. Sharif Matar, dokter spesialis anak di Rumah Sakit Al-Rantisi, menjelaskan bahwa cacar air merupakan penyakit virus yang sangat mudah menular. Gejalanya biasanya dimulai dengan demam dan kelelahan sebelum muncul lepuh berisi cairan di kulit yang menyebar ke seluruh tubuh.
Meski umumnya tergolong ringan, penyakit ini dapat menjadi sangat berbahaya bagi anak-anak dengan penyakit kronis atau sistem kekebalan tubuh yang lemah. Dalam kasus tertentu, komplikasi serius seperti infeksi bakteri hingga gangguan saraf dapat terjadi. Menurut Matar, pasien tetap dapat menularkan virus selama fase ruam yang bisa berlangsung hingga dua minggu.
Wabah Meluas, Anak-Anak Gaza Terancam
Rumah-rumah sakit di Gaza kini menghadapi lonjakan kasus penyakit menular di tengah sistem kesehatan yang nyaris lumpuh akibat perang berkepanjangan.
Safaa Al-Kahlout – dari divisi pengendalian infeksi rumah sakit – mengatakan jumlah penyakit menular meningkat drastis di seluruh wilayah Gaza sejak genosida meletus. Setiap hari, rumah sakit menerima sekira 20 hingga 25 kasus dugaan cacar air, dan sedikitnya lima pasien harus menjalani perawatan inap.
Di kamp-kamp pengungsian yang penuh sesak, virus menyebar sangat cepat. Penyakit ini dapat menular melalui udara maupun kontak langsung, menjadikan tenda-tenda sempit yang dihuni banyak keluarga sebagai tempat yang sangat rentan.
Langkah pencegahan dasar seperti mencuci tangan, memakai barang pribadi terpisah, atau menjaga jarak sebenarnya masih penting. Namun semua itu hampir mustahil dilakukan. Air bersih sangat terbatas. Banyak keluarga hidup berhimpitan dalam satu tenda. Anak-anak bermain, tidur, dan makan di ruang yang sama tanpa perlindungan memadai.
Abdel Raouf Al-Manaama, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Islam Gaza, memperingatkan bahwa wabah ini berpotensi semakin meluas. Ia menjelaskan, cacar air disebabkan virus varicella-zoster—virus yang di kemudian hari juga dapat muncul kembali sebagai herpes zoster atau cacar ular.
Menurutnya, anak-anak di bawah usia lima tahun menjadi kelompok paling rentan, terutama mereka yang mengalami gizi buruk atau memiliki daya tahan tubuh lemah.
Vaksinasi sebenarnya menjadi perlindungan paling efektif, disertai isolasi pasien dan pengurangan kontak fisik. Tetapi kondisi pengungsian massal membuat semua langkah itu nyaris tidak realistis diterapkan.
Ribuan keluarga Gaza masih bertahan di tenda-tenda padat penduduk, di tengah krisis air bersih, sanitasi yang rusak, dan layanan medis yang kekurangan hampir segalanya. Akibatnya, wabah penyakit kini berkembang menjadi ancaman kemanusiaan baru—yang diam-diam mengincar warga sipil paling rentan yaitu anak-anak. (PIC)
