Beranda / Palestina / Semangka Dingin: “Kemewahan” yang Dirindukan Keluarga Gaza
Kabar Palestina
26 Jul 2026

Semangka Dingin: “Kemewahan” yang Dirindukan Keluarga Gaza

Semangka Dingin: “Kemewahan” yang Dirindukan Keluarga Gaza
Bagikan:

GAZA (PIC) – Semangka yang dulu menjadi sajian khas musim panas di Gaza kini berubah menjadi barang yang sulit dijangkau banyak keluarga Palestina.

Di tengah melonjaknya harga kebutuhan pokok, melemahnya daya beli, dan meningkatnya kemiskinan akibat agresi genosida, warga Gaza tidak lagi mempersoalkan kualitas atau kematangan buah tersebut. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah mereka masih mampu membelinya.

Bahkan bagi mereka yang berhasil mendapatkan sepotong semangka, kenikmatan sederhana yang selama ini melekat pada buah tersebut sering kali tetap tidak bisa dirasakan.

Krisis listrik berkepanjangan membuat banyak keluarga tidak memiliki akses ke pendingin atau kulkas yang berfungsi, sehingga semangka harus disantap dalam keadaan hangat di tengah suhu musim panas yang menyengat.

Harga Kian Tak Terjangkau

Abu Mohammed (48), seorang pegawai pemerintah di Gaza, mengatakan semangka kini menjadi ymbol beratnya tekanan ekonomi yang dialami masyarakat.

“Sebelum perang, kami membeli semangka tanpa memikirkan harganya. Buah itu selalu menjadi yang pertama masuk ke kulkas,” ujarnya kepada PIC.

Kini, ia harus menghitung dengan cermat biaya setiap kilogram sebelum memutuskan membeli. Tidak jarang ia pulang dengan tangan kosong. Kalaupun berhasil membeli, semangka tersebut tetap harus dimakan tanpa didinginkan karena kulkas di rumahnya tidak berfungsi.

Kondisi serupa dialami Um Ahmad, ibu lima anak yang kerap melewati lapak penjual semangka bersama keluarganya. “Setiap kali lewat, anak-anak meminta dibelikan semangka,” katanya. “Saya hanya bisa berjanji akan membelinya nanti jika keadaan memungkinkan.”

Menurutnya, kelaparan di Gaza tidak hilang, melainkan berubah bentuk. “Dulu selama perang, kelaparan berarti tidak ada makanan sama sekali. Sekarang makanan, sayuran, dan buah tersedia di pasar, tetapi harganya di luar jangkauan banyak keluarga,” ujarnya.

Seorang pedagang semangka di Kamp Pengungsi Nuseirat, Gaza tengah, membenarkan kondisi tersebut.

“Banyak orang hanya bertanya harga lalu pergi. Ada yang membeli sepotong kecil, bukan satu buah utuh. Bahkan buah-buahan kini dibeli seminimal mungkin karena sebagian besar keluarga hanya mampu memenuhi kebutuhan dasar,” katanya.

Semangka Hangat di Tengah Cuaca Terik

Kesulitan warga Gaza tidak berhenti pada persoalan membeli. Mahmoud (27) mengaku baru bisa menikmati semangka lagi setelah berbulan-bulan.

“Saya berharap bisa mendinginkannya di kulkas meski hanya satu jam,” katanya. “Tetapi tidak ada listrik dan tidak ada pendingin. Saya memakannya begitu saja. Rasanya manis, tetapi tidak menghadirkan sensasi semangka dingin yang saya rindukan saat cuaca sangat panas.”

Di kamp pengungsian, Um Khaled mengenang masa ketika keluarganya masih bisa menikmati hal-hal sederhana.

“Dulu kami membeli semangka besar, mendinginkannya di kulkas, lalu menikmatinya bersama pada malam hari,” tuturnya.

“Sekarang rumah yang kami kenal sudah tidak ada. Tidak ada kulkas yang berfungsi, tidak ada listrik, dan sering kali tidak ada uang untuk membeli semangka. Semangka dingin hanya tersisa sebagai kenangan dan harapan.”

Para pedagang mengatakan permintaan semangka menurun tajam. Bukan karena masyarakat tidak menginginkannya, melainkan karena kebutuhan hidup yang lebih mendesak harus didahulukan.

Bagi banyak orang di luar Gaza, keinginan menikmati semangka dingin mungkin terdengar sederhana. Namun bagi warga Gaza, hal itu mencerminkan betapa beratnya kondisi hidup yang mereka hadapi.

Laporan terbaru PBB menunjukkan sebagian besar penduduk Gaza masih hidup dalam situasi kemanusiaan yang sangat memprihatinkan. Banyak warga tetap mengungsi dan mengalami keterbatasan akses terhadap listrik, air bersih, sanitasi, serta layanan kesehatan.

Ribuan keluarga masih tinggal di tempat penampungan atau bangunan yang rusak dan tidak layak huni. PBB juga berulang kali memperingatkan bahwa kemiskinan, kekurangan pangan, dan keterbatasan kebutuhan dasar terus membayangi ratusan ribu rumah tangga di wilayah tersebut. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami