Beranda / Palestina / Siang Hari, Keluarga Gaza Serasa Terpanggang di Tenda Pengungsian
Kabar Palestina
29 Agu 2026

Siang Hari, Keluarga Gaza Serasa Terpanggang di Tenda Pengungsian

Siang Hari, Keluarga Gaza Serasa Terpanggang di Tenda Pengungsian
Bagikan:

Seorang anak perempuan mengisi wadah dengan air yang diambil dari sisa aliran pipa bawah tanah di sebuah kamp pengungsian di kawasan Sheikh Radwan, Gaza, pada 6 Juli 2026. (Omar al-Qattaa/AFP)

GAZA (Middle East Eye) – Saat ditemui Middle East Eye pada Januari lalu, Rajaa Jendiya menyebut musim dingin di Gaza sebagai yang terberat selama hampir dua tahun hidup mengungsi.

Kini, tenda yang dulu gagal melindunginya dari dingin berubah menjadi perangkap panas di bawah terik matahari.

“Rasanya seperti tinggal di rumah kaca. Tenda ini memerangkap sinar matahari sehingga panasnya terkumpul di dalam,” kata ibu tunggal beranak tiga itu.

“Suhu dan kelembapannya begitu tinggi hingga terasa sesak napas. Saya terpaksa keluar tenda agar bisa bernapas.”

Jendiya kehilangan suaminya pada 14 Maret 2024, ketika serdadu ‘Israel’ membunuhnya dalam salah satu “pembantaian tepung” (flour massacres) di tengah pengepungan dan pelaparan di Gaza Utara.

Setelah rumahnya di kawasan Shujaiya, Gaza Timur, dihancurkan oleh gempuran ‘Israel’, ia kini tinggal di sebuah sekolah di pusat Kota Gaza yang diubah menjadi kamp pengungsian. Minimnya layanan dasar membuat musim panas menghadirkan kesulitan baru.

“Panas sudah menyiksa, ditambah lagi serangga. Sepanjang malam kami tidak bisa tidur karena nyamuk. Begitu matahari terbit, lalat memenuhi tempat ini. Kami tidak bisa tidur siang maupun malam. Kini muncul jenis-jenis serangga yang belum pernah kami lihat sebelumnya,” ujarnya.

Penyakit Kulit Meluas

Musim panas di Gaza ditandai kelembapan tinggi karena berada di pesisir Laut Mediterania. Suhu rata-rata mencapai 30–32 derajat Celsius, bahkan kerap melampaui 35 derajat Celsius saat gelombang panas.

Menurut UNICEF, sekitar 1,9 juta dari 2,1 juta penduduk Gaza masih mengungsi. Sebagian besar tinggal di tenda darurat dan menghadapi ancaman kesehatan serta lingkungan.

Jendiya mengaku sering membawa anak-anaknya ke rumah sakit akibat penyakit yang dipicu kondisi kamp pengungsian.

“Di sekitar sekolah, air limbah sering meluap, sampah menumpuk, lalu mengundang lalat dan serangga,” katanya. “Saat cuaca panas, kondisinya semakin buruk. Anak-anak saya berkali-kali terkena penyakit kulit.”

Petugas kesehatan melaporkan penyakit kulit seperti kudis (scabies), infeksi jamur, ruam, kutu rambut, dan gangguan kulit lainnya semakin banyak ditemukan, terutama pada anak-anak.

Hal serupa dialami Mona al-Mallahi (47), yang mendirikan tenda di median jalan dekat Universitas Al-Azhar Gaza. Ia lebih sering berada di luar tenda karena suhu di dalamnya tak tertahankan.

“Tidak ada cara menghindari panas. Siang hari kami tidak bisa berada di dalam tenda karena sangat menyengat. Di luar pun tidak ada tempat berteduh. Setiap hari kami hanya berusaha mencari cara agar tetap bisa bernapas.”

Penghancuran lebih dari 88 persen bangunan di Gaza oleh ‘Israel’ memperparah kondisi para muhajirin. Selain meratakan permukiman, serdadu ‘Israel’ juga menghancurkan banyak pepohonan sehingga tenda-tenda semakin terpapar terik matahari.

Meski gencatan senjata diberlakukan pada Oktober, ‘Israel’ tetap membatasi masuknya bahan bangunan untuk tempat tinggal darurat dan bantuan kemanusiaan, sehingga krisis hunian terus memburuk.

“Bermandikan Keringat”

Kerusakan lebih dari 80 persen infrastruktur air bersih, sanitasi, dan kebersihan membuat sebagian besar pengungsi bahkan tidak memiliki kemewahan berupa air mengalir.

“Kami bermandikan keringat sejak bangun hingga tidur. Saya ingin mandi sedikitnya lima kali sehari agar tubuh terasa segar, tetapi itu mustahil,” kata Mallahi. “Air yang kami miliki bahkan tidak cukup untuk kebutuhan paling dasar, apalagi untuk mendinginkan tubuh.”

Untuk mandi dan mencuci, banyak muhajirin mengambil air dari sekolah, rumah warga, atau lokasi pengungsian. Air minum lebih sulit lagi didapat. Banyak keluarga harus mengantre berjam-jam di truk distribusi air yang umumnya disediakan lembaga amal.

“Saat tengah hari, tempat ini benar-benar terasa sangat panas. Panasnya membakar kulit. Dulu kulit saya cerah dan bersih. Sekarang semakin gelap dan dipenuhi bercak akibat matahari dan panas,” ujarnya.

“Dulu saya sering mendengar kesulitan orang-orang yang tinggal di tenda dan berdo’a agar Allah menolong mereka. Saya tidak pernah membayangkan seberat ini sampai mengalaminya sendiri.”

Mallahi kehilangan rumahnya di kawasan Zeitoun, Gaza, beberapa hari sebelum gencatan senjata Oktober 2025 berlaku.

Sebelumnya, serdadu ‘Israel’ memerintahkan evakuasi massal di Kota Gaza bagian tenggara. Mallahi dan putranya yang telah berkeluarga mengungsi ke rumah saudaranya di kawasan Sabra.

Beberapa hari kemudian, perintah evakuasi kembali dikeluarkan untuk seluruh wilayah Gaza. Mallahi memilih tetap berada di kota itu, sedangkan putranya bertahan bersama anak-anaknya di rumah sang paman.

Tak lama kemudian, gempuran udara ‘Israel’ meratakan bangunan tersebut dan menewaskan putra beserta cucu-cucunya.

Tanpa Listrik

Bahkan warga yang rumahnya masih berdiri pun tidak terbebas dari ujian berat akibat panas.

“Perbedaannya hanya kami masih memiliki atap. Selebihnya, kami tetap kesulitan karena panas dan serangga dengan perlindungan yang sangat minim,” kata Emad al-Sirsawi, warga Tal al-Hawa, Gaza.

“Kami tidak memiliki pendingin ruangan atau kipas angin. Kalaupun masih ada, kami tidak bisa menggunakannya karena tidak ada listrik atau tidak mampu membeli listrik dari generator swasta.”

Sejak agresi militer ‘Israel’ dimulai pada Oktober 2023, Gaza terus mengalami pemadaman akibat kekurangan bahan bakar dan hancurnya infrastruktur kelistrikan. Hingga kini, meski telah ada gencatan senjata, otoritas listrik Gaza masih belum mampu memulihkan pasokan listrik.

Sebagai alternatif, pemilik generator swasta menjual listrik dengan harga sangat mahal. Di beberapa wilayah, tarifnya mencapai sekitar 35 shekel (sekitar 11,5 dolar AS) per kilowatt-jam, sehingga sebagian besar warga hanya mampu menggunakannya untuk penerangan dan mengisi daya ponsel.

“Kami juga tidak bisa menggunakan lemari pendingin. Makanan yang kami miliki biasanya sudah basi sebelum hari berakhir sehingga banyak yang terbuang,” kata al-Sirsawi, ayah enam anak.

“Kami terpaksa memasak setiap hari dengan kayu bakar karena tidak memiliki gas, bahkan di tengah panas yang menyengat.” (Middle East Eye)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami