GAZA (PIC) – Di Gaza, abu reruntuhan kini menyatu dengan ingatan panjang tentang pengusiran dan kehilangan. Di tengah kehancuran yang terus meluas, tenda-tenda pengungsian berdiri sebagai simbol baru kesulitan rakyat Palestina — rapuh, sesak, dan tak mampu melindungi dari panas musim panas maupun dingin musim dingin.
Di wilayah yang terus diguncang, waktu seolah tidak lagi berjalan sebagai pergantian hari. Yang terjadi justru pengulangan luka lama dalam bentuk yang lebih menyakitkan. Warga Gaza bertahan dengan sisa-sisa kehidupan di tengah kehancuran infrastruktur, krisis pangan, dan minimnya kebutuhan dasar.
Di sebuah tenda sederhana di barat Kota Gaza, Umm Yazan al-Haj berusaha menjaga keluarganya tetap bertahan setelah suaminya gugur pada awal agresi zionis ‘Israel’. Duduk di lantai tenda yang sempit, ia menggambarkan hidup yang kini jauh dari kata normal.
“Kami tidak lagi menjalani kehidupan biasa. Setiap hari dimulai dengan mencari air dan makanan. Bahkan tidur pun sudah tidak aman seperti dulu,” ujarnya lirih.
Yang paling berat baginya adalah pertanyaan anak-anaknya. “Mereka terus bertanya kapan bisa pulang ke rumah. Dan saya tidak punya jawaban selain diam.”
Bagi banyak warga Palestina, pemandangan tenda-tenda pengungsian hari ini membangkitkan kembali memori Nakba 1948 — tragedi pengusiran massal rakyat Palestina dari tanah mereka.
Setelah 78 tahun berlalu, warga Gaza merasa luka sejarah itu kini terulang kembali, namun dengan wajah yang lebih brutal: agresi genosida total, blokade, dan penghancuran sistematis terhadap kehidupan sipil.
Nakba yang Belum Pernah Usai
Di berbagai wilayah Gaza, kisah serupa terus berulang. Tenda-tenda darurat yang awalnya dianggap tempat perlindungan sementara kini berubah menjadi “rumah” jangka panjang bagi hampir dua juta warga Palestina.
Salim Nasser, warga Gaza utara yang mengungsi bersama keluarganya, mengaku dulu mengira Nakba hanya cerita sejarah di buku pelajaran.
“Ternyata sekarang kami hidup di dalamnya,” katanya. “Kami tidak punya apa-apa lagi selain tenda yang bahkan tidak mampu melindungi dari panas atau dingin. Tapi itulah satu-satunya yang tersisa.”
Krisis Kesehatan Memburuk
Seiring rusaknya infrastruktur, kondisi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk. Krisis air bersih, pencemaran lingkungan, hingga merebaknya serangga dan tikus di area pengungsian memicu penyebaran berbagai penyakit.
Direktur Pusat Kanker Gaza, Dr. Mohammed Abu Nada, mengatakan sektor kesehatan berada dalam tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jumlah pasien dan korban luka terus meningkat, sementara obat-obatan dan perlengkapan medis semakin langka.
Menurutnya, rumah sakit juga mengalami gangguan serius akibat rusaknya banyak peralatan vital. “Ketersediaan obat terus menurun, terutama obat kanker, antibiotik, dan pengobatan penyakit kronis lainnya. Ini membuat nyawa pasien berada dalam bahaya langsung.”
Ia menambahkan, pemadaman listrik dan kelangkaan bahan bakar semakin memperparah situasi. Ruang operasi, unit perawatan intensif, hingga alat diagnostik tidak bisa bekerja optimal.
“Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa intervensi mendesak, kami khawatir sistem kesehatan Gaza akan runtuh sepenuhnya dan angka kematian meningkat drastis akibat penyakit yang sebenarnya bisa diobati,” tegasnya.
Anak-Anak Kehilangan Masa Kecil dan Pendidikan
Kesulitan penduduk Gaza tidak berhenti di sektor kesehatan. Dunia pendidikan juga mengalami kehancuran besar. Ribuan anak kehilangan akses belajar setelah sekolah-sekolah rusak parah atau dialihfungsikan menjadi tempat pengungsian.
Guru Najla Siam mengatakan anak-anak Gaza telah kehilangan terlalu banyak hal dalam hidup mereka. “Mereka kehilangan masa kecilnya. Tapi di tengah semua itu, mereka masih ingin belajar,” katanya.
Di tengah deretan tenda pengungsian, para guru berusaha menciptakan ruang harapan kecil bagi anak-anak Palestina. “Kami mencoba memberi mereka secercah harapan, meski belajar harus dilakukan di dalam tenda, di tengah kehilangan dan kehancuran di sekeliling mereka.”
Data lapangan menunjukkan sebagian besar sekolah di Gaza mengalami kerusakan berat. Akibatnya, proses pendidikan kini menghadapi salah satu krisis terburuk dalam sejarah wilayah tersebut. (PIC)
