Beranda / Yaman / Tentara Bayaran AS ‘Dibayar Jutaan Dollar untuk Melakukan Pembunuhan bagi UEA di Yaman’
Kabar Yaman
25 Apr 2026

Tentara Bayaran AS ‘Dibayar Jutaan Dollar untuk Melakukan Pembunuhan bagi UEA di Yaman’

Tentara Bayaran AS ‘Dibayar Jutaan Dollar untuk Melakukan Pembunuhan bagi UEA di Yaman’
Bagikan:

Yaman (MDE) – Seorang mantan komandan pasukan khusus Amerika Serikat meraup jutaan dollar dengan menjalankan operasi pembunuhan bertarget untuk Uni Emirat Arab di Yaman, sebagaimana terungkap dari dokumen pengadilan.

Dokumen tersebut dikutip dalam laporan New York Post yang terbit awal April 2026 ini.

Abraham Golan, seorang tentara bayaran yang diduga berada di balik percobaan pembunuhan terhadap Anssaf Ali Mayo, turut disebut sebagai tergugat oleh anggota parlemen Yaman yang nyaris tewas tersebut.

Dokumen pengadilan dilaporkan menunjukkan mantan komandan pasukan khusus AS mengakui pembunuhan yang disahkan oleh Emirat

Golan dan Isaac Gilmore, mantan anggota Navy SEAL, mendirikan Spear Operations Group pada Agustus 2015. Keduanya kemudian menawarkan dan mengamankan kesepakatan dengan UEA untuk menjalankan “pembunuhan bertarget” atas nama Emirat, sebagaimana tercantum dalam gugatan yang dikutip New York Post.

Sebagai imbalannya, Spear dilaporkan dibayar $1,5 juta per bulan ditambah bonus untuk setiap pembunuhan yang berhasil dilaksanakan.

“Ada program pembunuhan bertarget di Yaman. Saya yang menjalankannya. Kami melakukannya. Dan itu disahkan oleh UEA dalam koalisi,” demikian pengakuan Golan sebagaimana tercatat dalam dokumen pengadilan.

Pasukan bersenjata melintas di jalanan kota pelabuhan Aden, Yaman, pada 8 Januari 2026 (AFP/Saleh al-Obeidi)

Kesepakatan antara Spear dan UEA dicapai di Abu Dhabi dalam sebuah pertemuan yang, menurut laporan New York Post, turut dihadiri Mohammed Dahlan — politisi Palestina yang kini menjadi penasihat Presiden UEA Mohamed bin Zayed Al Nahyan.

Setelah kesepakatan tercapai, Golan dan Gilmore merekrut personel militer, termasuk Dale Comstock, mantan anggota Pasukan Khusus Angkatan Darat AS, yang dilaporkan dibayar $40.000 per bulan ditambah bonus untuk memimpin tim pembunuhan.

Investigasi sebelumnya mengungkap kampanye yang lebih luas

Investigasi Buzzfeed sebelumnya mengungkap bahwa UEA telah menyewa tentara bayaran untuk membunuh tokoh-tokoh terkemuka al-Islah, sayap Yaman dari Ikhwanul Muslimin.

Laporan tersebut mencakup rekaman drone yang bocor dari percobaan gagal pada Desember 2015 untuk membunuh Mayo beserta semua orang di kantornya.

Dalam sebuah dokumenter BBC yang tayang pada 2024, Gilmore mengakui bahwa Mayo termasuk dalam daftar target yang hendak dibunuh.

Mayo kemudian mengungkapkan bahwa ia mengalami “trauma psikologis dan emosional” akibat percobaan pembunuhan itu, dan kini hidup dalam pengasingan di Arab Saudi, sementara istri dan dua anaknya masih berada di Yaman.

Menurut New York Post, Golan merancang operasi-operasi pembunuhan untuk UEA dari sebuah rumah mewah senilai $7 juta di San Diego.

Gugatan itu menyatakan bahwa Golan memberitahu Comstock bahwa Spear telah disewa UEA untuk melakukan pembunuhan atas namanya.

Percobaan pembunuhan terhadap Mayo memicu serangkaian pembunuhan bertarget di Yaman antara 2015 hingga 2018, yang dalam kurun waktu tersebut organisasi hak asasi manusia Reprieve menyelidiki 160 kasus pembunuhan.

Reprieve menemukan bahwa hanya 23 dari mereka yang terbunuh memiliki kaitan dengan organisasi teroris.

“UEA bersedia menghancurkan seluruh negeri dan mendatangkan tentara bayaran dari seluruh dunia untuk memusnahkan al-Islah,” kata Mohammed Abdulwadood, anggota partai di Taiz, kepada Middle East Eye pada 2018. “UEA itu licik, tapi Allah tidak menolong orang yang licik untuk berhasil.”

Pemerintah UEA membantah telah menarget individu yang tidak terkait dengan terorisme, dan menyatakan bahwa aktivitas kontraterorisme mereka dilakukan atas undangan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Investigasi BBC juga menemukan bahwa selain tentara bayaran AS, UEA turut merekrut mantan anggota al-Qaeda untuk menyediakan layanan keamanan di Yaman.

Seorang pelapor memberitahu BBC bahwa mantan anggota kelompok militan tersebut — yang telah lama hadir di Yaman selatan — dipekerjakan bersama Southern Transitional Council (STC) yang berafiliasi dengan UEA dalam kapasitas keamanan.

Pelapor itu memberikan nama 11 mantan anggota al-Qaeda yang diduga bekerja bersama STC. STC pada saat itu membantah klaim keterlibatan al-Qaeda dalam kekuatan militernya.

UEA dan al-Islah sebelumnya berada di pihak yang sama dalam perang Yaman sejak 2015, bersama-sama melawan gerakan Houthi yang secara resmi dikenal sebagai Ansar Allah. Namun hubungan keduanya memburuk secara signifikan, dan pada Oktober 2017 terjadi bentrokan di Aden antara milisi al-Islah dan milisi proksi UEA.


Diterjemahkan dari Middle East Eye, 3 April 2026. Artikel asli dapat dibaca di sini.


Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami