Foto: Pria-pria Rohingya baru tiba dari Myanmar, di distrik Cox’s Bazar, Bangladesh, November 2016.
Shilkhali (Keyoukshang), Maungdaw –Menurut laporan terbaru dari dalam Shilkhali (Keyoukshang), Tentara Arakan (Arakan Army/AA) dilaporkan telah membebaskan 26–27 pria Rohingya dari sekitar 40 tahanan yang awalnya mereka tangkap pada 29 November.
Pembebasan ini terjadi setelah tiga hari penyiksaan fisik yang parah, pemukulan, dan interogasi brutal yang disebut AA sebagai “investigasi.”
Para saksi melaporkan bahwa sembilan pria masih hilang, dibawa ke lokasi yang tidak diketahui dalam kondisi yang sangat buruk. Mereka diyakini termasuk di antara tokoh senior dan tetua desa yang dihormati sehingga menimbulkan kekhawatiran bahwa mereka mungkin akan mengalami perlakuan yang lebih kejam.
Para penyintas menggambarkan periode tiga hari tersebut ditandai dengan praktik-praktik yang tidak manusiawi dan merendahkan martabat, termasuk penyiksaan yang dilakukan di hadapan para perempuan dan anak-anak. Penduduk setempat percaya bahwa penyiksaan di depan umum ini sengaja digunakan untuk menghancurkan moral, martabat, dan stabilitas psikologis seluruh masyarakat.
Mereka yang kembali ke rumah dilaporkan mengalami trauma mendalam, sebagian terlihat cedera dan sebagian lainnya tidak dapat berjalan atau berbicara karena kebrutalan yang mereka alami.
Tentara Arakan Kepung Desa Rohingya
Sebelumnya, diwartakan darurat kemanusiaan yang parah sedang terjadi di desa Rohingya di Shilkhali (Keyoukshang) setelah Tentara Arakan (Arakan Army/AA) melancarkan operasi penyisiran pada 29 November 2025, yang membuat penduduknya ketakutan dan terisolasi. Para saksi mata mengonfirmasikan bahwa krisis ini bermula dari penangkapan massal terkoordinasi yang dilakukan sekitar pukul 13.00 pada hari yang sama.
Menurut para penyintas dan laporan lokal, personel Tentara Arakan memasuki desa tersebut tak lama setelah tengah hari dan menculik semua pria Rohingya berusia antara 20 dan 45 tahun. Setidaknya 40 pria dibawa paksa dari rumah mereka dan diangkut ke lokasi yang dirahasiakan, tanpa informasi yang diberikan kepada keluarga mereka.
Komunikasi yang bocor dari dalam wilayah tersebut menunjukkan bahwa banyak pria yang ditahan mungkin telah menghadapi pemukulan, penyiksaan, dan interogasi yang keras sehingga menimbulkan kekhawatiran akan penganiayaan yang lebih parah yang belum terungkap.
Setelah penculikan tersebut, semua penduduk yang tersisa—perempuan, anak-anak, dan lansia—ditahan di rumah-rumah mereka dengan pengamanan ketat. Penduduk desa melaporkan bahwa mereka tidak mendapatkan makanan, air bersih, dan kebutuhan pokok sehingga beberapa keluarga berada di ambang dehidrasi dan penyakit. Pembatasan pasokan penting yang disengaja ini telah menempatkan perempuan hamil, bayi, dan lansia dalam risiko langsung.
Dalam apa yang digambarkan para ahli sebagai upaya untuk mencegah dokumentasi pelanggaran, Tentara Arakan telah memberlakukan pemadaman komunikasi penuh, menonaktifkan jaringan seluler, memblokir akses internet, dan mencegah kontak apa pun dengan dunia luar.
Pemantau kemanusiaan memperingatkan bahwa pemadaman ini telah menghasilkan kekosongan informasi yang berbahaya sehingga mustahil untuk memverifikasi skala penuh pelanggaran yang terjadi secara langsung. (*)