Beranda / Dunia Islam / Muhajirin Rohingya yang Hampir Buta Meninggal Setelah Ditinggalkan Jauh dari Rumah oleh Petugas AS
Dunia Islam Kabar Rohingya
9 Mar 2026

Muhajirin Rohingya yang Hampir Buta Meninggal Setelah Ditinggalkan Jauh dari Rumah oleh Petugas AS

Muhajirin Rohingya yang Hampir Buta Meninggal Setelah Ditinggalkan Jauh dari Rumah oleh Petugas AS
Bagikan:

NEW YORK (Al Jazeera English) – Seorang muhajirin Rohingya dari Myanmar yang hampir buta ditemukan meninggal dunia di Buffalo, New York, beberapa hari setelah Patroli Perbatasan Amerika Serikat meninggalkannya bermil-mil jauh dari rumahnya usai dibebaskan dari penjara kabupaten setempat.

Jenazah Nurul Amin Shah Alam, 56 tahun, ditemukan oleh petugas polisi di kota yang terletak di bagian utara negara bagian New York itu pada hari Selasa, 24 Februari 2026 lalu, kata juru bicara Departemen Kepolisian Buffalo.

Shah Alam dilaporkan hilang sejak 19 Februari, ketika agen Patroli Perbatasan AS menurunkannya di sebuah kedai kopi setelah pembebasannya dari penjara kabupaten.

Wali Kota Buffalo, Sean Ryan dari Partai Demokrat, menyatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu bahwa kematian Shah Alam seharusnya bisa dicegah dan merupakan akibat dari pengambilan keputusan yang “tidak manusiawi” oleh otoritas imigrasi federal.

“Seorang pria yang rentan — hampir buta dan tidak bisa berbahasa Inggris — ditinggalkan sendirian di malam yang dingin, tanpa upaya yang diketahui untuk menempatkannya di lokasi yang aman,” kata Ryan.

“Keputusan dari Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS itu tidak profesional dan tidak manusiawi,” tambahnya.

Beberapa anggota Kongres AS menyerukan penyelidikan atas kematian Shah Alam, termasuk Grace Meng, anggota Kongres dari Partai Demokrat yang mewakili wilayah New York City, yang menyebut kejadian ini sebagai “pelanggaran mengejutkan atas tanggung jawab dan kemanusiaan dasar oleh penegak federal”.

Mohamad Faisal, salah satu anak Shah Alam, mengatakan tidak ada yang memberitahu keluarga atau pengacara mereka di mana sang ayah ditinggalkan oleh pihak berwenang setelah dibebaskan dari penjara.

Faisal menjelaskan bahwa keluarganya adalah muhajirin Rohingya dari negara bagian Arakan — yang secara resmi dikenal sebagai Rakhine — di Myanmar, dan bahwa ayahnya tidak bisa membaca, menulis, maupun menggunakan perangkat elektronik.

Ia mengatakan penangkapan ayahnya setahun lalu terjadi akibat kesalahpahaman, setelah polisi dipanggil ketika Shah Alam tanpa sengaja memasuki lahan pribadi sambil membawa batang tirai yang ia beli sebagai tongkat jalan karena penglihatannya yang terganggu.

Ayahnya tidak memahami perintah polisi yang berbicara dalam bahasa Inggris untuk menjatuhkan batang tirai tersebut, sehingga ia ditahan hampir satu tahun sebelum akhirnya dibebaskan lewat kesepakatan pengakuan bersalah atas pelanggaran ringan.

Yang diinginkan ayahnya hanyalah “makan masakan rumah” dan “bersatu kembali dengan seluruh keluarga”, kata Faisal.

Dalam pernyataan kepada Investigative Post, media berbasis di Buffalo, juru bicara Bea Cukai dan Patroli Perbatasan AS mengatakan para agen menurunkan Shah Alam di kedai kopi setelah menentukan bahwa ia masuk ke negara itu sebagai pengungsi dan tidak dapat dideportasi.

“Agen Patroli Perbatasan menawarkan tumpangan sebagai bentuk kebaikan, yang ia terima menuju sebuah kedai kopi — yang dinilai sebagai lokasi hangat dan aman dekat alamat terakhirnya yang diketahui — daripada langsung dibebaskan dari stasiun Patroli Perbatasan,” kata lembaga tersebut.

“Ia tidak menunjukkan tanda-tanda tekanan, masalah mobilitas, atau disabilitas yang memerlukan bantuan khusus,” tambah juru bicara tersebut.

Suhu di Buffalo, kota dekat perbatasan Kanada, berada di bawah titik beku pada akhir pekan lalu.

Kematian ini sedang diselidiki oleh detektif pembunuhan, kata juru bicara Departemen Kepolisian Buffalo.

Kematian Shah Alam terjadi di tengah meningkatnya sorotan terhadap pengetatan imigrasi yang diberlakukan oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Setidaknya enam imigran telah meninggal dalam tahanan Badan Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) sejak awal tahun ini. (ADR)


Diterjemahkan dari Al Jazeera English, Lyndal Rowlands & Reuters

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami