Beranda / Palestina / Warga Al-Zaytoun Terjepit di Antara Gempuran Zionis dan Gelombang Pengungsian Baru
Kabar Palestina
31 Jul 2026

Warga Al-Zaytoun Terjepit di Antara Gempuran Zionis dan Gelombang Pengungsian Baru

Warga Al-Zaytoun Terjepit di Antara Gempuran Zionis dan Gelombang Pengungsian Baru
Bagikan:

GAZA (PIC) – Bagi warga lingkungan Al-Zaytoun di timur Kota Gaza, pertanyaan yang kini mengemuka bukan lagi kapan perang genosida akan berakhir, melainkan ke mana mereka harus pergi jika kembali dipaksa mengungsi.

Di tengah meluasnya pergerakan militer zionis di sekitar kawasan tersebut, warga yang masih bertahan hidup dalam ketidakpastian. Sementara itu, keluarga yang terpaksa mengungsi menghadapi kesulitan baru akibat minimnya tempat aman dan terbatasnya hunian yang dapat menampung gelombang pengungsian yang terus berulang.

Sumber lokal melaporkan bahwa pada Rabu (22/7/2026) pekan lalu, serdadu ‘Israel’ menyerbu Jalan Al-Sikka di tenggara Al-Zaytoun. Kendaraan militer dengan dukungan gempuran udara dan tembakan intensif, juga memasuki Persimpangan Dawla di timur Kota Gaza.

Serdadu zionis turut melakukan penghancuran besar-besaran di wilayah timur Gaza, sementara peluru kejut meledak di langit tenggara Kota Gaza.

Warga menyebut situasi di lapangan berubah cepat dalam beberapa hari terakhir. Tembakan yang terus berlangsung dan drone yang beroperasi di udara membuat sebagian besar kawasan Al-Zaytoun semakin berbahaya untuk dihuni. Banyak keluarga memilih pergi, sementara sebagian lainnya tetap bertahan karena tidak memiliki pilihan lain.

Bertahan di Bawah Ancaman

Aktivis Maysara Arafat mengatakan pengungsian belum mencakup seluruh warga Al-Zaytoun. Sejumlah keluarga masih tinggal di beberapa bagian kawasan, terutama di sepanjang Jalan Salah Al-Din dan wilayah barat lingkungan tersebut, meski kondisi keamanan sangat sulit.

Menurutnya, gempuran penjajah ‘Israel’ disertai tindakan yang semakin meningkatkan kekhawatiran warga, termasuk penahanan sejumlah warga yang kemudian dibebaskan. Peristiwa itu mendorong lebih banyak keluarga meninggalkan kawasan karena khawatir ditangkap atau menjadi sasaran serangan.

Ia menambahkan bahwa kini warga hanya merasakan jeda ketenangan yang singkat. Tembakan dapat terjadi kapan saja, memaksa warga berlindung di bangunan rusak atau di antara tenda-tenda pengungsian.

Di tengah ancaman yang terus membayangi, kehidupan sederhana masih berlangsung. Sejumlah pedagang kembali membuka lapak kecil untuk menjual kebutuhan pokok, sementara yang lain menyediakan kayu bakar dan perlengkapan penting lainnya bagi keluarga yang masih bertahan.

Warga menegaskan bahwa aktivitas tersebut bukan tanda kondisi telah membaik, melainkan upaya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan bertahan hidup.

Bagi banyak keluarga, kesulitan tidak berhenti saat meninggalkan rumah, melainkan berlanjut dalam pencarian tempat berlindung yang baru.

Muhammad Al-Bal’awi (60) mengaku meninggalkan rumahnya ketika operasi militer semakin mendekat dengan harapan dapat menemukan tempat tinggal lain. Namun, ia justru mendapati hunian sangat langka dan harga sewa melonjak jauh di luar kemampuannya.

Kepada PIC, ia mengatakan masih terus mencari tempat yang dapat menampung dirinya, istrinya, dan tiga putrinya. Sebagian barang miliknya bahkan terpaksa dititipkan kepada tetangga hingga ia menemukan tempat tinggal sementara.

Tekanan Meningkat di Area Pengungsian

Sebagian besar muhajirin bergerak menuju wilayah barat Kota Gaza. Namun, kawasan tersebut sudah lebih dulu mengalami kepadatan tinggi dan kekurangan lahan untuk mendirikan tenda maupun menampung pengungsi baru.

Pemerhati kemanusiaan memperingatkan bahwa gelombang pengungsian yang terus berlanjut akan semakin membebani layanan dasar serta memperparah kesulitan penyediaan tempat tinggal, air bersih, dan pangan. Kondisi ini terjadi ketika pusat-pusat penampungan sudah beroperasi dengan kapasitas yang sangat terbatas.

Pilihan Sulit di Tengah Krisis yang Kian Rumit

Pengamat menilai perkembangan di Al-Zaytoun tidak hanya berdampak secara militer, tetapi juga menimbulkan konsekuensi kemanusiaan bagi ribuan warga sipil. Mereka dihadapkan pada pilihan yang sama-sama berat: mengungsi atau bertahan tanpa kepastian dan jaminan keamanan.

Di tengah situasi tersebut, warga Al-Zaytoun terus berusaha beradaptasi dengan kondisi yang berubah dari hari ke hari. Mereka berharap dapat menemukan tempat yang aman dan terhindar dari putaran baru pengungsian, sementara krisis kemanusiaan di Gaza semakin memburuk. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami