Beranda / Palestina / Warga Gaza di Kamp Halawa: Hidup di Antara Tenda Pengungsian dan Deru Tembakan
Kabar Palestina
3 Mei 2026

Warga Gaza di Kamp Halawa: Hidup di Antara Tenda Pengungsian dan Deru Tembakan

Warga Gaza di Kamp Halawa: Hidup di Antara Tenda Pengungsian dan Deru Tembakan
Bagikan:

GAZA (PIC) – Di ujung utara Gaza, ratusan warga Palestina yang mengungsi di Kamp Halawa menjalani hidup yang nyaris melampaui batas ketahanan manusia. Di tempat ini, waktu tak lagi dihitung dalam hari, melainkan dalam jam-jam yang berhasil dilalui tanpa luka, tanpa kematian, tanpa kehilangan mendadak.

Lokasi yang semula dimaksudkan sebagai tempat perlindungan sementara, kini berubah menjadi ruang terbuka yang berbahaya. Dentuman tembakan dan suara artileri menjadi latar harian, menenggelamkan setiap upaya menjalani kehidupan normal.

Tenda-tenda darurat yang terbuat dari nilon dan kain tipis nyaris tak memberi perlindungan. Alih-alih aman, kamp ini justru menjadi tempat di mana ancaman berulangkali hadir, dan ketidakpastian menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kamp di Bawah Bayang-Bayang Ancaman

Kamp Halawa berdiri hanya beberapa ratus meter dari zona berisiko tinggi yang diduduki penjajah, yang dikenal warga sebagai “garis kuning”. Kedekatan ini menempatkan kamp dalam jangkauan tembakan setiap saat.

Warga menggambarkannya sebagai “zona kematian tanpa pengumuman”—tempat di mana peluru bisa datang kapan saja tanpa peringatan.

“Kami hidup dalam keadaan darurat permanen,” kata Marwan Radwan, koordinator kamp. “Tidak ada waktu yang benar-benar aman, bahkan di dalam tenda. Peluru bisa menembus apa saja. Tidak ada yang melindungi kami.”

Tanpa infrastruktur perlindungan dan berada di lokasi rawan, setiap keluarga hidup dalam kewaspadaan terus-menerus—bahkan dalam keheningan.

Bagi Zehir Nasra, ibu empat anak, mempertahankan sedikit rasa normal saja sudah menjadi perjuangan yang melelahkan.

“Anak-anak saya bertanya kenapa mereka tidak bisa keluar seperti anak lain,” ujarnya. “Apa yang harus saya jawab? Kami khawatir. Kadang suara angin saja kami kira tembakan.”

Suaranya mencerminkan kelelahan mendalam yang dibentuk oleh rasa takut yang terus-menerus. “Kami memasak dengan cepat, mematikan lampu lebih awal, dan mencoba tidur, tetapi selalu gemetar,” tambahnya. “Malam-malam di sini terasa tak berujung.”

Rutinitas harian berubah menjadi strategi bertahan hidup: bergerak seminimal mungkin, menghindari bahaya, dan selalu siap menghadapi bahaya.

Masa Kecil yang Hilang

Anak-anak menjadi pihak yang paling terdampak. Ruang bermain berubah menjadi ruang larangan.

Imad Asaliya menceritakan anaknya yang gemar bermain bola kini tak lagi berani bermain. “Kami takut bola itu menggelinding ke arah garis kuning. Kalau dia mengejarnya, mungkin dia tidak akan kembali,” ujarnya. Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan, “Bahkan tertawa sekarang terasa berbahaya.”

Anak-anak di kamp tumbuh tanpa unsur-unsur dasar masa kecil, kebebasan bergerak, bermain, dan rasa aman; yang digantikan oleh kehati-hatian dan ketakutan.

Ancaman bukan sekadar bayang-bayang. Beberapa hari lalu, Adham (13) tewas ditembak saat mengambil air di malam hari—sebuah aktivitas harian sederhana yang berubah menjadi maut.

Sebelumnya, Khalil yang berusia 24 tahun kehilangan nyawanya dalam keadaan serupa, ditembak dalam insiden yang mencerminkan banyak kejadian lain di daerah tersebut.

“Kami menguburkan mereka dengan cepat,” kata seorang tetangga. “Rasa takut tidak memberi kami waktu untuk berduka. Bahkan kesedihan pun harus dipercepat.”

Peristiwa seperti ini bukan kejadian unggal. Di Halawa, aktivitas sehari-hari—mengambil air, berjalan antar tenda—bisa berujung pada kematian.

“Kami Hanya Ingin Hidup Tanpa Dibunuh”

Menurut perkiraan PBB, sebagian besar penduduk Gaza kini hidup dalam pengungsian berulang, dengan kekurangan parah makanan, air, dan layanan kesehatan. Di kamp seperti Halawa, kondisi ini diperparah oleh kedekatannya dengan zona berbahaya dan ketiadaan perlindungan.

Akses terhadap air bersih dan layanan medis sangat terbatas. Kepadatan dan minimnya sumber daya semakin memperburuk situasi.

Seorang perempuan pengungsi merangkum kondisi itu dengan sederhana namun tajam: “Kami tidak meminta hidup nyaman. Kami hanya ingin hidup tanpa dibunuh.” (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami