Beranda / Palestina / Di Tengah Agresi Zionis, Perempuan Gaza Menemukan Ruang untuk Lebih Tenang dan Bersuara
Kabar Palestina
1 Agu 2026

Di Tengah Agresi Zionis, Perempuan Gaza Menemukan Ruang untuk Lebih Tenang dan Bersuara

Di Tengah Agresi Zionis, Perempuan Gaza Menemukan Ruang untuk Lebih Tenang dan Bersuara
Bagikan:

Alaa Daoud (29), koordinator Community Development Projects, menuturkan bahwa ruang aman ini dibangun untuk menjadi tempat perlindungan dan pemulihan bagi perempuan Gaza yang terdampak perang. (Abdelhakim Abu Riash/Al Jazeera)

GAZA (Al Jazeera) – Setiap pagi, setelah mengurus lima anaknya di Kamp al-Amal, Ola Saleh berjalan menuju sebuah tenda khusus perempuan. Di tempat itu, selama beberapa jam, ia bisa sejenak melepaskan diri dari beban sebagai ibu tunggal, muhajirin, dan penyintas kehilangan akibat perang.

Ruang aman tersebut merupakan bagian dari program Collective Development Projects, yang menyediakan dukungan psikologis, diskusi kelompok, dan panduan praktis untuk membantu perempuan menghadapi tekanan hidup di tengah perang.

Bagi Ola (39), tempat itu menjadi ruang untuk berbagi dengan perempuan lain yang mengalami ujian serupa. Sejak suaminya, Abdul Jalil Saleh (43), tewas pada Agustus tahun lalu saat mencari makanan dan kebutuhan keluarga, ia harus membesarkan lima anak berusia lima hingga 17 tahun seorang diri.

“Dia meninggal seketika. Sampai sekarang saya tidak tahu apakah ditembak penembak jitu atau drone,” ujar Ola. Kehilangan suami berarti kehilangan pencari nafkah utama sekaligus teman hidupnya.

“Setiap hari terasa lebih berat. Tanggung jawab terus bertambah dan kehilangan itu semakin terasa,” katanya.

Menurut UN Women, sekira 16 ribu perempuan di Gaza kehilangan suami sejak Oktober 2023, sehingga sekitar satu dari tujuh keluarga kini dipimpin oleh perempuan.

Di tengah kehidupan pengungsian yang serba terbatas, tanpa listrik dan fasilitas memadai, sebagian besar perempuan hampir tidak memiliki ruang untuk berduka karena harus fokus mencari makanan, air, dan kebutuhan dasar keluarga.

Alaa Daoud, koordinator lapangan program tersebut, mengatakan ruang aman ini dirancang agar perempuan dapat mengekspresikan diri secara bebas sekaligus memperoleh dukungan psikologis dan praktis.

“Setiap perempuan datang membawa pengalaman, luka, dan harapan yang berbeda,” ujarnya.

“Mengingatkan Bahwa Anda Juga Berharga”

Program yang berlangsung di Sekolah al-Farah, Gaza Tengah, baru diluncurkan pekan lalu dan direncanakan diperluas ke lokasi pengungsian lain di Gaza. Program serupa juga telah berjalan di wilayah utara.

Selain dukungan emosional, sesi-sesi tersebut membahas berbagai persoalan yang semakin mendesak selama perang, seperti tekanan keluarga, kesulitan ekonomi, kesehatan mental, serta tantangan mengasuh anak dalam kondisi pengungsian.

Jumlah peserta terus bertambah. Dari sekira 60 perempuan pada hari pertama, angka itu meningkat menjadi 65 pada hari kedua dan kemudian mencapai 70–75 peserta.

“Banyak perempuan mengatakan mereka membutuhkan tempat yang aman untuk berbicara, meluapkan emosi, mendapatkan energi positif, dan belajar menghadapi tantangan dalam keluarga maupun masyarakat,” kata Daoud.

Bagi Ola, ruang aman itu tidak menghilangkan kesedihannya, tetapi membantunya bertahan. Mendengarkan pengalaman perempuan lain, mengikuti diskusi, dan memperoleh pemahaman tentang trauma serta stres memberinya kekuatan baru.

“Saya pulang membawa harapan dan energi positif. Mungkin tidak menghapus semua penderitaan, tetapi membantu saya terus melangkah,” ujarnya.

“Tempat ini mengingatkan bahwa saya juga berharga, bahwa saya masih ada.”

Berbagi Pengalaman dan Kekuatan

Di antara peserta terdapat Suad al-Gharabali (63), salah satu anggota tertua kelompok tersebut. Berbeda dengan sebagian peserta yang datang untuk mencurahkan kesedihan, Suad lebih sering berbagi pengalaman dan memberi nasihat kepada para ibu muda.

Sebelum perang, ia tinggal di kawasan Shujaiya, Kota Gaza. Setelah rumahnya hancur, ia mengungsi ke Deir al-Balah bersama keluarga putranya.

Perang juga merenggut dua putranya yang berusia 24 dan 35 tahun dalam gempuran udara terpisah. Keduanya telah bertunangan dan sedang mempersiapkan pernikahan.

Meski masih sulit membicarakan kehilangan itu tanpa menangis, Suad berusaha menjadikan pengalamannya sebagai sumber dukungan bagi perempuan lain.

“Saya senang dengan pertemuan ini karena memberikan banyak wawasan. Setiap ibu perlu memberi perhatian lebih kepada anak-anaknya. Generasi ini menghadapi banyak tantangan,” katanya.

Menurut Suad, nilai penting program ini terletak pada pertukaran pengalaman antarpeserta. “Orang yang lebih tua satu hari dari Anda pun bisa mengetahui sesuatu yang belum Anda ketahui,” ujarnya.

Selama bertahun-tahun, ia bekerja menjahit dan berdagang untuk membesarkan serta menyekolahkan anak-anaknya. Sebelum mengikuti program ini, hari-harinya hanya dihabiskan di tenda pengungsian, beribadah, dan berbincang dengan tetangga.

Kini, pertemuan tersebut memberinya kesempatan untuk keluar dari isolasi dan kembali terhubung dengan orang lain.

“Ini pengalaman yang menyegarkan. Saya bisa berbagi hidup dengan perempuan lainnya,” katanya.

Mengakui Peran dan Pengorbanan Perempuan

Menurut Daoud, fungsi ruang aman ini tidak hanya sebatas konseling, tetapi juga menjadi bentuk pengakuan atas beban besar yang dipikul perempuan Gaza selama perang.

“Perempuan termasuk kelompok yang memikul tanggung jawab terbesar. Mereka menghadapi kemiskinan, pengungsian, dan tekanan yang luar biasa,” ujarnya.

Ketika perempuan diingatkan tentang pentingnya peran dan besarnya pengorbanan mereka, lanjut Daoud, mereka merasa perjuangan serta penderitaan yang dialami selama ini benar-benar dihargai dan diakui. (Al Jazeera)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami