Beranda / Palestina / Donor Kornea Pulihkan Penglihatan dan Bangkitkan Harapan Pasien di Gaza
Kabar Palestina
13 Okt 2026

Donor Kornea Pulihkan Penglihatan dan Bangkitkan Harapan Pasien di Gaza

Donor Kornea Pulihkan Penglihatan dan Bangkitkan Harapan Pasien di Gaza
Bagikan:

GAZA (PIC) – Di Gaza, kondisi mata yang dialami Wiam Zino selama dua setengah tahun bukan sekadar gangguan kesehatan. Ia tak dapat melihat putrinya maupun menjalani berbagai aktivitas sederhana dalam keseharian.

Namun, donor kornea dari Iman Abu Shaluf, yang gugur dalam perang, mengubah keadaan itu. Donor tersebut membuka kesempatan bagi Wiam untuk kembali melihat dan menata hidupnya.

Dua Setengah Tahun dalam Gelap dan Penantian

Masalah mata Wiam bermula setelah ia mengungsi. Gejala alergi dan kemerahan muncul pada salah satu matanya, lalu memburuk hingga terbentuk lapisan putih dan membuatnya tak lagi mampu melihat.

Ia membutuhkan transplantasi kornea, tetapi agresi zionis dan perpindahan tempat tinggal membuat akses terhadap pengobatan serta pemeriksaan medis semakin sulit.

Selama lebih dari dua tahun, Wiam menjalani hari-hari dalam kondisi tersebut sambil menahan rasa sakit. Tinggal di tenda, menghadapi panas, dan kerasnya kehidupan sebagai muhajirin turut memperberat keadaannya.

Yang paling menyakitkan baginya adalah tidak dapat melihat putrinya yang membutuhkan perhatian dan perawatannya. Meski demikian, Wiam tetap berusaha memenuhi kebutuhan sang anak dengan segala keterbatasan.

Kembali Melihat Putrinya

Setelah menjalani transplantasi kornea, sebagian penglihatan Wiam kembali. Ia menyebut pengalaman itu seperti memulai kehidupan baru.

“Dia selalu duduk di pangkuanku, selalu bersamaku,” tutur Wiam. Kini, ia dapat kembali melihat putrinya meski belum sepenuhnya. Bagi Wiam, kesempatan itu adalah nikmat besar yang kembali menyalakan harapan.

Dari Duka Kehilangan Menjadi Hadiah Kehidupan

Di balik kornea yang kini membantu Wiam melihat kembali, ada keputusan kemanusiaan keluarga Iman Abu Shaluf. Mereka memilih mendonorkan kornea putri mereka agar dapat dimanfaatkan oleh pasien yang membutuhkan.

Bagi Wiam, donor tersebut menjadi kesempatan yang telah lama dinantikannya. Setelah merasakan manfaatnya, ia mengajak keluarga para syuhada yang memungkinkan untuk mendonorkan kornea orang yang mereka cintai. Baginya, sebuah keputusan di tengah duka dapat menjadi jalan bagi orang lain untuk kembali menikmati kehidupan.

Saat Seorang Ibu Kembali Melihat Putrinya

Dr. Osama Abu Al-Wafa, konsultan sekaligus kepala Departemen Oftalmologi Nasser Medical Complex, mengatakan kasus Wiam bukan sekadar keberhasilan medis. Di dalamnya ada kisah seorang ibu yang begitu lama tidak dapat melihat anaknya.

Ia menjelaskan bahwa Wiam mengalami gangguan penglihatan berat yang turut memengaruhi kondisi psikologisnya, terutama karena tidak mampu melihat putrinya.

Keberhasilan transplantasi kemudian memungkinkan Wiam melihat kembali. Bagi Abu Al-Wafa, momen ketika sang ibu dapat melihat anaknya menjadi bagian paling mengharukan dari keberhasilan tersebut.

Menurutnya, transplantasi itu tidak hanya menangani masalah medis, tetapi juga membantu Wiam mendapatkan kembali sebagian kehidupan normalnya. Abu Al-Wafa menyampaikan terima kasih kepada keluarga Iman Abu Shaluf atas keputusan mendonorkan kornea putri mereka.

Operasi Berhasil Pulihkan Penglihatan Pasien Gaza

Melalui Program Nasional Transplantasi Kornea, tim medis di Gaza terus melakukan transplantasi bagi pasien yang membutuhkan. Program ini sekaligus bertujuan memperkuat layanan khusus tersebut di rumah sakit setempat dan mengurangi beban pasien yang memerlukan penanganan.

Tim yang dipimpin Dr. Hussam Dawood, Direktur Rumah Sakit Mata sekaligus konsultan senior oftalmologi, bedah mata, dan transplantasi kornea, berhasil melakukan transplantasi terhadap seorang pasien berusia 64 tahun.

Operasi tersebut ditujukan untuk membantu memulihkan penglihatannya sekaligus mengurangi sakit yang telah dialaminya.

Pasien tersebut sebelumnya menjalani operasi katarak sekaligus transplantasi kornea. Namun, perang membuat pemeriksaan lanjutan, termasuk pelepasan jahitan operasi, tidak dapat dilakukan secara optimal.

Akibatnya, transplantasi mengalami kegagalan dan pasien kemudian mengalami keratopati bulosa, kondisi yang menimbulkan nyeri hebat, rasa terbakar pada mata, serta gangguan penglihatan selama bertahun-tahun. Operasi terbaru diharapkan dapat mengatasi komplikasi tersebut sekaligus memperbaiki kondisi pasien.

Kornea Donor untuk Pasien Lain

Di Nasser Medical Complex, tim medis juga berhasil melakukan transplantasi kornea terhadap Ahmed Muhammad Al-Masri. Kornea yang digunakan berasal dari Bashar Abu Awn, sebagai bagian dari keberlanjutan Program Nasional Transplantasi Kornea di Gaza.

Di tengah keterbatasan layanan kesehatan, program ini memberi kesempatan bagi pasien yang membutuhkan untuk memperoleh penanganan khusus di dalam negeri.

Sistem Terpadu, dari Donasi hingga Transplantasi

Program transplantasi kornea di Gaza ditopang oleh sistem kerja terpadu yang melibatkan Kementerian Kesehatan, Bank Mata, Unit Transfer dan Transplantasi Organ, serta tim medis spesialis. Asosiasi Qirataan turut berperan dalam menyebarkan kesadaran tentang pentingnya donor kornea.

Rangkaian prosesnya meliputi pendataan dan seleksi pasien, pemeriksaan medis serta laboratorium, koordinasi pengambilan dan pengiriman kornea, persiapan jaringan untuk transplantasi, hingga operasi dan pemantauan pascaoperasi.

Abu Al-Wafa mengatakan seluruh tahapan berjalan secara berkala, mulai dari penentuan pasien hingga pemanfaatan perlengkapan bedah yang tersedia. Dengan sistem tersebut, Program Nasional Transplantasi Kornea tetap berjalan di tengah kondisi yang sulit.

Donor Iman: Kornea yang Menjadi Cahaya Kehidupan

Di tengah duka kehilangan, keluarga Iman Abu Shaluf memilih mendonorkan kornea putri mereka melalui kampanye “Dan Barangsiapa Menyelamatkannya” dalam Program Nasional Transplantasi Kornea.

Donasi tersebut kemudian dimanfaatkan untuk dua pasien yang telah lama mengalami gangguan penglihatan. Tim medis berhasil melakukan dua transplantasi, memberi mereka kesempatan untuk menjalani kehidupan dengan kondisi yang lebih baik.

Kebaikan Iman pun tidak berhenti pada keluarga dan orang-orang yang mengenalnya. Donasinya menjangkau pasien yang membutuhkan, menjadikan kornea yang didermakan sebagai bentuk kemanusiaan yang terus memberi manfaat setelah kepergiannya.

Kebutuhan Perlengkapan Medis Tetap Mendesak

Meski program terus berjalan, para dokter dan Bank Mata kembali menyerukan kepada lembaga internasional dan organisasi kemanusiaan untuk memperkuat dukungan berupa peralatan dan perlengkapan medis penunjang. Dukungan tersebut diperlukan agar tim spesialis dapat mempertahankan layanan transplantasi kornea.

Di Gaza, keberhasilan operasi memiliki arti yang jauh melampaui hasil medis. Bagi pasien yang bertahun-tahun tak dapat melihat, transplantasi berarti dapat kembali menyaksikan wajah anak, mengenali raut wajah ibu, atau menikmati kembali berbagai detail kehidupan yang sempat hilang.

Ketika perang masih membayangi kehidupan, donor kornea menjadi jembatan dari sebuah keputusan kemanusiaan menuju kehidupan pasien. Dalam kisah Wiam Zino, jembatan itu membawanya kembali kepada wajah putrinya—sosok yang selama bertahun-tahun hanya dapat ia rindukan untuk dilihat. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami