Beranda / Palestina / Rentetan Gempuran Penjajah Merusak Rantai Produksi Zaitun Gaza
Kabar Palestina
7 Okt 2026

Rentetan Gempuran Penjajah Merusak Rantai Produksi Zaitun Gaza

Rentetan Gempuran Penjajah Merusak Rantai Produksi Zaitun Gaza
Bagikan:

GAZA (PIC) – Musim panen zaitun di Gaza tahun ini berusaha kembali berjalan di tengah kehancuran akibat agresi genosida. Namun, rantai produksi dari kebun hingga tempat pengolahan telah terputus di banyak titik.

Sebagian besar pohon dan lahan pertanian rusak, sementara petani kesulitan mencapai ladang dan biaya panen meningkat. Kondisi tempat pengolahan juga memburuk.

Kepala Komite Tempat Pengolahan Zaitun Gaza, Shaher al-Rifi, mengatakan jumlah fasilitas pengolahan turun drastis dari 39 unit pada 2022 menjadi hanya delapan saat ini. Padahal, seluruh fasilitas sebelumnya memiliki kapasitas produksi hingga 136 ton per jam. Delapan fasilitas yang tersisa sebagian besar berada di wilayah Gaza Tengah.

Fasilitas yang masih beroperasi pun menghadapi kekurangan suku cadang, biaya perawatan tinggi, serta krisis listrik dan bahan bakar. Berbagai upaya dilakukan untuk mendapatkan bahan bakar, oli generator, tenaga teknis, dan pelatihan agar mesin pengepres beroperasi.

Musim Panen yang Diperjuangkan

Meski kerusakan meluas, diperkirakan masih terdapat sekitar 5.000 ton zaitun di lahan seluas 5.000 dunum. Petani berusaha memanfaatkan hasil yang tersisa melalui pendampingan di lapangan dan bantuan untuk menekan biaya panen, yang melonjak akibat mahalnya tenaga kerja dan transportasi.

Pengolahan zaitun bukan sekadar tahap akhir pertanian. Di dalamnya terdapat mata rantai petani, pekerja, transportasi, penyimpanan, pengolahan, hingga pengemasan. Karena itu, beroperasinya tempat pengolahan berarti mempertahankan lapangan kerja dan sebagian aktivitas ekonomi yang tersisa.

Kehancuran Dimulai dari Ladang

Krisis sebenarnya bermula jauh sebelum buah mencapai mesin pengepres. Penilaian FAO dan UNOSAT menunjukkan 71,2 persen kebun dan pohon telah rusak pada September 2024. Pada Oktober 2025, angka kerusakan pada kebun zaitun mencapai sekitar 90 persen.

Artinya, musim panen tahun ini berlangsung di atas fondasi pertanian yang telah rusak parah. Petani harus menjangkau pohon yang selamat dari serangan, memulihkan lahan, serta mencari air, peralatan, dan tenaga kerja untuk memanen.

Ujian bagi Ekonomi Gaza

Zaitun memiliki arti lebih dari sekadar komoditas. Tanaman ini menopang pendapatan rumah tangga dan menghidupkan berbagai sektor, mulai dari pertanian hingga transportasi, penyimpanan, pengepresan, dan pengemasan.

Agresi zionis telah memutus sebagian besar rantai tersebut. Karena itu, musim zaitun tahun ini bukan sekadar musim panen, melainkan ujian atas sisa kapasitas produksi Gaza.

Dari pohon yang bertahan di tengah lahan hancur, petani yang berjuang memanen, hingga mesin pengepres yang membutuhkan bahan bakar dan suku cadang; setiap tetes minyak zaitun Gaza membawa cerita tentang bertahan hidup di tengah luasnya kehancuran.

Krisis Limbah Mengepung

Krisis limbah di Gaza kian memburuk akibat jaringan air limbah dan fasilitas pengolahan yang rusak dan tidak beroperasi. Ditambah dengan kelangkaan parah bahan bakar, suku cadang, dan perlengkapan operasional.

Akibatnya, pemerintah daerah di Gaza terpaksa membuang limbah yang belum diolah langsung ke laut, sehingga memicu peringatan akan bahaya serius bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat.

“Limbah yang belum diolah dibuang ke laut di beberapa wilayah sebagai langkah darurat, mengingat kondisi sulit yang dihadapi Gaza serta ketidakmampuan untuk mengoperasikan sistem pembuangan limbah dan sanitasi secara normal,” ujar Omar Shatat, wakil direktur eksekutif perusahaan layanan air untuk wilayah pesisir.

“Jika pembuangan limbah yang belum diolah ini terus berlanjut, dampak dari krisis limbah Gaza akan meluas jauh melampaui garis pantai, serta mengancam kesehatan masyarakat, keselamatan lingkungan, dan sumber daya air yang vital,” peringat Shatat.

Ia menekankan perlunya solusi segera untuk mengatasi krisis sistem pembuangan limbah ini, seraya menegaskan bahwa situasi tersebut tidak dapat lagi menoleransi penundaan lebih lanjut. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami