Beranda / Palestina / Pasien Gagal Ginjal di Gaza: Ketika Cuci Darah Menjadi Perjuangan untuk Bertahan
Kabar Palestina
8 Okt 2026

Pasien Gagal Ginjal di Gaza: Ketika Cuci Darah Menjadi Perjuangan untuk Bertahan

Pasien Gagal Ginjal di Gaza: Ketika Cuci Darah Menjadi Perjuangan untuk Bertahan
Bagikan:

GAZA (PIC) – Di ruang hemodialisis Nasser Medical Complex, Khan Yunis, para pasien tidak sekadar menunggu berakhirnya sesi pengobatan rutin. Setiap kali datang, mereka menghadapi berbagai kendala untuk mendapatkan terapi.

Keterbatasan perlengkapan cuci darah dan krisis bahan bakar mengancam keberlangsungan terapi. Perjalanan menuju rumah sakit pun semakin sulit.

22 Tahun Cuci Darah, Kondisi Makin Berat

Khairiya Shaqfa, pasien gagal ginjal yang menjalani cuci darah sejak 2004, telah melewati lebih dari dua dekade dengan dialisis sebagai bagian dari kehidupannya. Namun, kondisi sekarang, katanya, jauh berbeda. Bahkan untuk mencapai rumah sakit, ia harus menempuh perjalanan berat dengan tubuh yang sudah terkuras oleh penyakit.

Terhentinya layanan transportasi dan sulitnya mendapatkan kendaraan membuat Khairiya dan pasien lain harus menggunakan beberapa moda transportasi untuk mencapai rumah sakit. Dulu, perjalanan itu jauh lebih mudah. Kini, seorang pasien gagal ginjal bahkan harus berpindah hingga tiga kendaraan untuk mendapatkan terapi.

Masalah tidak berhenti di perjalanan. Ia mengatakan durasi sejumlah sesi cuci darah bahkan dipangkas dari tiga jam menjadi hanya satu setengah jam. Bagi Khairiya, terapi yang dijalaninya kini ikut terdampak oleh kelangkaan berbagai kebutuhan medis.

Kondisinya semakin berat akibat cedera pada kaki. Ia menegaskan bahwa pasien ginjal membutuhkan perhatian khusus, termasuk ketersediaan obat, perlengkapan terapi, dan transportasi. Sebab, bagi pasien gagal ginjal, cuci darah secara rutin bukan kemewahan yang bisa ditunda.

Menunggu Berjam-jam di Tengah Keterbatasan

Khamis Muhammad, pasien gagal ginjal lainnya, menghadapi persoalan serupa setiap kali menjalani terapi. Menurutnya, waktu yang tersedia untuk cuci darah kini sering kali tidak mencukupi. Sebagian pasien bahkan terpaksa pulang ketika kebutuhan pengobatan mereka belum sepenuhnya terpenuhi.

Khamis mengatakan para pasien datang ke rumah sakit dalam kondisi serba sulit. Sebagian harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Sesampainya di rumah sakit, mereka masih harus menunggu ketersediaan waktu dan perlengkapan agar sesi cuci darah dapat dilakukan secara memadai.

Bagi pasien gagal ginjal di Gaza, setiap sesi ialysis kini bukan lagi sekadar rutinitas medis, melainkan kebutuhan mendesak yang harus mereka dapatkan di tengah keterbatasan yang terus berlangsung.

Dokter Terdesak, Pilihan Pengobatan Makin Terbatas

Di tengah keterbatasan bahan dan obat-obatan, para dokter di bagian medis berupaya mempertahankan layanan bagi pasien.

Dr. Raed Musleh, dokter spesialis ginjal di Nasser Medical Complex, menjelaskan bahwa pasien gagal ginjal membutuhkan terapi rutin serta obat dan perlengkapan khusus yang tidak boleh terputus. Namun, tidak tersedianya sejumlah kebutuhan tersebut membuat dokter memiliki pilihan yang semakin terbatas dalam menangani pasien.

Musleh menyebut ada obat dan terapi penting yang sangat dibutuhkan pasien ginjal. Ketika persediaannya tidak mencukupi, pengobatan yang sesuai terpaksa tertunda atau tidak dapat diberikan pada waktu yang dibutuhkan. Situasi ini berlangsung ketika sektor kesehatan Gaza sendiri tengah menghadapi krisis berkepanjangan terkait obat-obatan dan perlengkapan medis.

Bibag: Bahan Penting yang Mengancam Sesi Cuci Darah

Krisis perlengkapan ialysis menjadi semakin serius akibat menipisnya persediaan Bibag, salah satu bahan penting dalam sistem cuci darah.

Nasser Medical Complex memperingatkan bahwa jika kondisi ini berlanjut, mesin cuci darah terancam tidak dapat beroperasi secara optimal. Akibatnya, sesi terapi pasien yang bergantung pada ialysis secara rutin dapat terhenti.

Data terbaru menunjukkan layanan cuci darah di Gaza masih menghadapi keterbatasan berbagai perlengkapan medis, termasuk kebutuhan khusus untuk perawatan ginjal. Pada saat yang sama, kebutuhan kesehatan terus meningkat dan tekanan terhadap fasilitas medis tak kunjung mereda.

Angka Mengungkap Besarnya Krisis

Dampaknya semakin berat karena pasien gagal ginjal tidak dapat menunda atau menghentikan cuci darah sesuka hati.

Data kesehatan Palestina menunjukkan bahwa ratusan pasien mengalami kesulitan mengakses layanan dialysis selama agresi genosida. Sejumlah fasilitas kesehatan dan unit khusus bahkan tidak lagi beroperasi, sehingga beban pelayanan bertumpu pada sedikit fasilitas yang masih mampu memberikan terapi.

Di tengah persoalan Bibag, bahan bakar, dan obat-obatan, pasien ginjal di Gaza bukan hanya menghadapi penyakit. Mereka juga harus menempuh perjalanan sulit menuju rumah sakit, menunggu kendaraan dalam waktu lama, serta dibayangi kekhawatiran bahwa sesi terapi mereka sewaktu-waktu dapat terhenti.

Ketika Mencapai Ruang Cuci Darah Pun Menjadi Tantangan

Bagi Khairiya, Khamis, dan ratusan pasien lainnya, sesi cuci darah bukan sekadar beberapa jam di depan mesin. Itu adalah jadwal medis yang tidak boleh terlewat, karena keterlambatan dapat membawa konsekuensi serius bagi kesehatan mereka.

Di Gaza, ketika sektor kesehatan terus bergulat dengan keterbatasan obat, perlengkapan medis, dan bahan bakar, mencapai jadwal cuci darah berubah menjadi perjalanan panjang yang dipenuhi rasa sakit dan penantian.

Namun, kebutuhan para pasien sebenarnya sederhana dan jelas: mereka hanya ingin mendapatkan sesi pengobatan secara utuh, tepat waktu, lalu kembali dengan selamat kepada keluarga. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami