Seorang anak laki-laki menyapu puing-puing bangunan yang hancur akibat bombardir penjajah ‘Israel’ di Kamp Pengungsian Maghazi, Gaza bagian tengah, pada 12 Juni 2026. (Eyad Baba/AFP)
GAZA (Middle East Eye) – Saat itu musim panas, aku melakukan pertemuan daring rutin bersama para pembimbing akademikku. Salah seorang dari mereka, yang baru saja kembali dari negara asalnya, bercerita tentang kebahagiaan saat berkumpul dengan keluarga, kenyamanan berada di tempat-tempat yang akrab, serta rasa memiliki yang tenang ketika pulang ke rumah.
Lalu ia mengucapkan satu frasa yang terus terngiang di benakku sejak saat itu: “Hak istimewa untuk memiliki rumah.”
Sebelum momen itu, aku tak pernah menganggap rumah sebagai sebuah keistimewaan. Bagiku, rumah adalah sesuatu yang biasa—sesuatu yang wajar dimiliki oleh siapa saja.
Namun sejak meninggalkan Gaza hampir setahun lalu, tiga kata itu terus bergema dalam pikiranku, memaksaku menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah perlu kupikirkan sebelumnya: Apa sebenarnya arti rumah? Kapan ia menjadi bagian dari identitas kita?
Bisakah rumah dihancurkan bukan hanya secara fisik, melainkan juga secara psikologis? Dan apa yang terjadi ketika tak ada lagi tempat untuk pulang?
Ironisnya, aku merasa baru benar-benar memahami arti rumah ketika pertama kali tiba di Inggris pada 2019 untuk menempuh gelar magister. Seperti kebanyakan mahasiswa internasional lainnya, aku merindukan kampung halaman.
Aku rindu keluarga, suara-suara khas Gaza yang tak asing, berbicara bahasa Arab tanpa harus berpikir, makan siang bersama di hari Jum’at, dan rutinitas harian yang selama ini kuanggap biasa. Namun di balik seluruh kerinduan itu, ada satu kepastian yang saat itu nyaris tak kusadari: Gaza masih ada di sana.
Keluargaku masih di sana. Lingkunganku masih di sana. Rumahku masih berdiri tegak di sana. Jarak di antara kami hanyalah soal geografis, bukan eksistensial.
Aku tahu, begitu studiku usai, aku akan pulang. Kepastian itu diam-diam membentuk segalanya. Ia memberiku ruang untuk merangkul budaya baru, menjalin persahabatan, dan membayangkan masa depan tanpa pernah meragukan di mana sejatinya aku berada.
Hanya Tersisa dalam Ingatan
Semua berubah pada Februari 2024, ketika rumah keluarga kami hancur. Sejak hari itu, aku tak lagi memiliki rumah. Hancurnya rumah kami bukan sekadar kehilangan dinding atau perabotan. Itu adalah hilangnya tempat yang merawat masa kecilku, kenangan keluargaku, dan pemahamanku tentang dari mana hidupku bermula.
Rumah tak lagi menjadi tempat yang bisa kukunjungi kembali. Ia kini menjelma tempat yang hanya bisa kuingat. Ketika aku kembali ke Inggris sebagai mahasiswa PhD setelah dievakuasi dari Gaza di tengah genosida ‘Israel’, perjalanan fisikku tampak persis sama seperti perjalanan lima tahun lalu. Namun secara psikologis, rasanya benar-benar berbeda.
Kali ini, aku seolah tidak sedang pergi untuk sementara. Aku seolah dipisahkan darinya secara permanen. Bahkan jika suatu hari aku bisa kembali ke Gaza, aku sering bertanya pada diri sendiri—sebuah pertanyaan yang tak pernah terlintas saat pertama kali tinggal di Inggris: Ke mana sebenarnya aku akan pulang?
Pertanyaan itu diam-diam terus menemaniku selama menempuh studi PhD. Saat banyak mahasiswa doktoral menyambut kelulusan dengan penuh antusias dan gairah, aku justru semakin takut menghadapi akhirnya. Semakin dekat aku dengan garis akhir, semakin membayangi satu pertanyaan ini: Ke mana aku harus pulang?
Ini bukan sekadar persoalan pekerjaan atau imigrasi. Ini adalah soal rasa memiliki. Hidup kerap mengandaikan bahwa setelah bertahun-tahun di luar negeri, selalu ada tempat yang mengenalimu: rumah keluarga, jalanan yang akrab, tetangga yang menyapa namamu, sebuah tempat di mana kisah hidupmu berlanjut secara alami.
Pengandaian itu kini tak lagi ada bagiku. Mungkin itulah mengapa ucapan pembimbingku meresap begitu dalam. Ini musim panas di Inggris, saat kampus-kampus mulai sepi karena mahasiswa pulang ke rumah keluarga dan para akademisi bepergian untuk berlibur. Bandara dipenuhi orang-orang yang melakukan perjalanan biasa—perjalanan yang begitu alamiah hingga tak perlu dipikirkan ulang.
Pulang ke rumah diperlakukan sebagai ritme hidup yang lumrah. Namun bagi kami yang dievakuasi dari Gaza, liburan justru menjadi pengingat yang menyakitkan atas apa yang telah lenyap dari hidup kami.
Titik Asal
Ketika orang lain pulang, kami tetap bertahan. Kami menjadi penghuni sementara di negara-negara yang menawarkan rasa aman, sembari mengusung kenyataan pahit bahwa tempat yang kami sebut rumah tak lagi ada sebagaimana yang dulu kami kenal.
Kini aku benar-benar memahami apa arti hak istimewa untuk memiliki rumah. Rumah jauh melebihi sekadar bangunan fisik: ia adalah kepastian yang menenangkan bahwa kamu berakar di suatu tempat. Ia adalah rasa memiliki atas orang-orang, kenangan, bahasa, dan bentang alam yang tetap merengkuhmu meski kamu sedang tak berada di sana.
Ia adalah kesadaran bahwa ketika hidup terasa begitu menghimpit, selalu ada tempat untuk pulang; tempat di mana kamu bisa beristirahat, memulihkan diri, dan memulai kembali.
Aku sering membayangkan hidup seperti sebatang anak panah. Rumah adalah titik asal tempat anak panah itu pertama kali dilepaskan. Seiring hidup berjalan, anak panah melintasi tempat-tempat baru, hubungan, ambisi, dan kekecewaan—namun arah dan kekuatannya selalu dibentuk oleh titik asalnya.
Sejauh apa pun ia melesat, ia selalu bisa berbalik. Kemungkinan untuk pulang itulah yang memberi kita keberanian untuk terus melangkah.
Para psikolog telah lama berargumen bahwa manusia membutuhkan landasan aman (secure base) untuk menjelajahi dunia. Teori kelekatan (attachment theory) menjelaskan bahwa anak-anak tumbuh penuh percaya diri karena mereka tahu ada seseorang yang menunggu ketika mereka kembali.
Aku percaya bahwa bagi orang dewasa, landasan aman ini meluas dari sekadar manusia ke sebuah tempat. Rumah menjadi bagian dari arsitektur psikologis kita. Ia secara tenang meyakinkan kita bahwa apa pun yang terjadi di luar sana, kita tidak sendirian.
Mungkin itulah mengapa kebanyakan orang jarang menyadarinya. Keberanian untuk merantau ke luar negeri, mengambil isiko, bangkit dari kegagalan, atau memulai awal yang baru sering kali bertumpu pada satu asumsi terselubung: jika semuanya hancur berantakan, masih ada tempat untuk kembali.
Hak Istimewa untuk Memiliki Rumah
Orang-orang sering memberi tahu kami yang telah kehilangan rumah untuk “terus melangkah maju”. Ada niat baik di balik kata-kata itu, dan melangkah maju memang sebuah keharusan. Namun, aku mulai menyadari bahwa banyak orang memberikan nasihat ini dari posisi yang jarang mereka sadari sendiri.
Mereka berbicara dari posisi yang menikmati hak istimewa rumah. Meski tak pernah secara sadar memikirkannya, mereka tahu selalu ada tempat yang tersisa di belakang mereka. Perjalanan mereka ke depan disokong oleh kepastian yang menenangkan; bahwa jika hidup menjadi terlalu berat, mereka bisa pulang.
Bagi kami yang rumahnya telah hancur, melangkah maju membawa makna yang sama sekali berbeda. Kami melangkah maju bukan karena dengan yakin memilih arah baru, melainkan karena sudah tak ada lagi tempat untuk kembali.
Ketika menoleh ke belakang, aku menyadari bahwa pengalaman pertamaku di Inggris mengajarkan sesuatu yang baru kupahami bertahun-tahun kemudian: rasa rindu rumah (homesickness), secara paradoks, adalah sebuah hak istimewa. Rasa rindu itu mengandaikan bahwa rumah tersebut masih ada dan dengan sabar menanti kepulanganmu.
Kini, aku tak lagi menghitung hari hingga aku bisa pulang. Malahan, aku mendapati diriku menghitung tahun hingga studi PhD-ku usai, membawa sebuah pertanyaan yang tak sanggup kujawab: di mana rumahku berada saat hari itu tiba? Mungkin itulah luka dalam yang ditinggalkan oleh kehancuran Gaza (*)
—
Naskah ini ditulis oleh Bahzad Al Akhras. Ia merupakan seorang dokter Palestina dan peneliti kebijakan kesehatan yang berfokus pada trauma masa kanak-kanak dan kesehatan mental masyarakat. Pada 2019–2020, ia menerima Beasiswa Chevening untuk para calon pemimpin guna menempuh pendidikan magister di Inggris. Pada 2020, ia meraih gelar MSc Child and Adolescent Mental Health dengan predikat distinction dari King’s College London. Ia bercita-cita melanjutkan karier di bidang psikiatri anak. (*)