Beranda / Palestina / Genosida Penjajah Zionis Menganggu Langkah Satu Generasi Dokter Muda Gaza
Kabar Palestina
28 Agu 2026

Genosida Penjajah Zionis Menganggu Langkah Satu Generasi Dokter Muda Gaza

Genosida Penjajah Zionis Menganggu Langkah Satu Generasi Dokter Muda Gaza
Bagikan:

Seorang dokter memeriksa cairan infus di unit dialisis Rumah Sakit Al-Aqsa Martyrs di Deir al-Balah, Gaza, pada 1 Februari 2026 (Eyad Baba/AFP).

GAZA (Middle East Eye) – Pada Juli 2025, ketika serdadu ‘Israel’ tiba-tiba memerintahkan evakuasi Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir al-Balah dengan ancaman agresi yang segera terjadi, sahabat saya, Ahmed Shabat, seorang dokter muda, menghadapi pilihan yang menentukan batas tipis antara hidup dan mati.

Kepanikan melanda rumah sakit. Staf dan pasien bergegas menyelamatkan diri. Di tengah kekacauan itu, Dr. Ahmed melihat seorang pemuda yang baru dibawa ke unit gawat darurat, tetapi luput dari perhatian ketika semua orang berusaha menyelamatkan diri.

Pemuda itu mengalami pendarahan hebat akibat pecahan peluru yang menembus pahanya. Sebuah arteri utama telah putus dan nyawanya berpacu dengan waktu.

Memperbaiki arteri yang putus merupakan tindakan berisiko tinggi yang membutuhkan keahlian dokter bedah vaskular. Namun, para spesialis telah lebih dulu dipaksa meninggalkan rumah sakit. Di tengah ruangan yang kian kosong, Dr. Ahmed memilih tetap bertahan dan menyelamatkan pasiennya.

“Saya melihatnya dan berpikir, bagaimana jika dia adalah anggota keluarga saya sendiri?” kenangnya.

Dengan hanya bermodal telepon genggam dan rasa tanggung jawab, ia menghubungi dokter bedah senior yang baru saja meninggalkan rumah sakit. Di tengah jaringan seluler yang terus terputus, ia mengikuti instruksi darurat langkah demi langkah.

Bi-idznillaahi Ta’ala, dengan tangan gemetar namun mantap, Dr. Ahmed berhasil menjepit arteri yang putus, menghentikan pendarahan, dan menstabilkan pasien.

Saat itu, ia telah dua tahun lulus dari sekolah kedokteran dan seharusnya menjalani pendidikan residensi. Namun, alih-alih mendalami spesialisasi melalui program resmi, hari-harinya kini dihabiskan dalam shift sukarela 12 jam, menangani korban yang terus berdatangan tanpa kepastian kapan semua ini berakhir.

Hingga kini, ia terus melayani warga Gaza di unit gawat darurat yang sama. Ia adalah bagian dari “generasi yang terhenti”; yakni tenaga medis muda Gaza—para dokter berbakat yang kehilangan kesempatan berkembang tepat ketika seharusnya mereka memasuki tahap penting dalam karier.

Kehancuran sistem kesehatan Gaza bukan hanya tentang rumah sakit yang hancur, tetapi juga terhentinya generasi dokter yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam membangun kembali layanan kesehatan Gaza.

Jalur yang Menghilang

Bahkan sebelum genosida ‘Israel’ di Gaza, pendidikan kedokteran telah menghadapi keterbatasan sumber daya, minimnya peralatan, dan terbatasnya program spesialis lanjutan.

Para dokter muda masih dapat menyelesaikan sebagian pendidikan di Gaza, tetapi banyak yang harus melanjutkan ke luar negeri untuk memperoleh pelatihan dan keahlian spesialis yang tidak tersedia secara memadai di Gaza.

Mendapatkan tempat residensi, izin perjalanan, dan biaya pendidikan memang tidak mudah. Namun, setidaknya masih ada jalan menuju masa depan.

Sejak agresi genosida pecah, jalan itu nyaris tertutup. Perlintasan Gaza ditutup dan rumah sakit yang tersisa sibuk bertahan menghadapi krisis setiap hari, membuat dokter-dokter muda kehilangan ruang untuk melanjutkan pendidikan dan menjadi spesialis.

Meski demikian, mereka menolak menyerah pada keadaan. Berbagai inisiatif lokal bermunculan di Gaza untuk menjaga pendidikan medis tetap berjalan di tengah kondisi yang nyaris mustahil.

Salah satunya adalah Samir Foundation, yang didirikan oleh sesama mahasiswa kedokteran. Yayasan ini mendirikan pusat pelatihan bagi mahasiswa dan dokter muda, termasuk pelatihan praktik menjahit luka, agar mereka tetap dapat mengasah keterampilan medis di tengah pusaran kekerasan penjajah.

Upaya ini menunjukkan ketangguhan luar biasa, sekaligus menegaskan besarnya krisis yang mereka hadapi. Sebab, lokakarya maupun inisiatif lokal tak akan mampu menggantikan pendidikan klinis bertahun-tahun di bawah supervisi dokter spesialis atau program residensi formal. Namun tekad dapat membuat pendidikan kedokteran tetap bertahan.

Di sinilah kehancuran nyata sistem kesehatan Gaza berubah menjadi kesulitan yang jauh lebih dalam: terhambatnya kesempatan satu generasi dokter untuk berkembang.

Kedokteran dibangun melalui kesinambungan. Dokter senior mewariskan pengalaman, pengetahuan, penilaian klinis, dan keahlian kepada generasi berikutnya agar ilmu tersebut terus hidup. Namun, ketika satu generasi dokter muda terjebak dalam situasi ini, mata rantai pewarisan ilmu terancam terputus.

Kerusakan akibat perang pun tak lagi sekadar menghancurkan rumah sakit dan infrastruktur. Kini, masa depan kedokteran Gaza turut dipertaruhkan.

“Waktu Kami Terus Terkuras”

Pada 2026, kondisi ini telah memasuki tahun ketiga berturut-turut. Ini bukan lagi gangguan sementara.

Sejak 2023, mahasiswa kedokteran dari berbagai angkatan harus berjuang dalam kondisi yang nyaris tak terbayangkan hanya untuk menyelesaikan pendidikan. Mereka belajar di tenda, mencari dosen yang mengungsi, dan menjalani ujian akhir di tengah reruntuhan universitas yang telah hancur.

Namun setelah berhasil melewati semua kehancuran itu dan meraih gelar, mereka kembali menghadapi jalan buntu yang sama seperti angkatan sebelumnya. Jumlah mereka terus bertambah, tetapi masa depan profesional mereka tetap terkatung-katung.

Dampak jangka panjang pengepungan ini bukan hanya apa yang dirampas dari Gaza hari ini. Suatu hari, bom mungkin berhenti dan dunia mungkin membantu membangun kembali rumah sakit Gaza. Namun, siapa yang akan mengisinya?

Kekurangan terbesar Gaza kelak bukanlah gedung rumah sakit atau peralatan medis, melainkan tenaga spesialis. Ahli bedah saraf, spesialis kanker anak, dan dokter perawatan intensif akan sangat dibutuhkan.

Namun, generasi yang seharusnya mengisi posisi tersebut justru menghabiskan tahun-tahun paling penting dalam pembentukan karier mereka di balik pelintasan yang tertutup—menangani korban perang, alih-alih mengembangkan keahlian yang dibutuhkan untuk menjadi spesialis.

Ketika baru-baru ini saya berbicara dengan Dr. Ahmed tentang tahun-tahun yang terpaksa ia habiskan dalam penantian, kata-katanya mencerminkan kelelahan sunyi yang dirasakan seluruh generasinya.

“Kami menangani korban massal dan menjalankan tugas yang seharusnya dilakukan orang-orang yang usianya puluhan tahun di atas kami. Namun, kami tak bisa selamanya hidup dalam adrenalin situasi darurat. Kami ingin belajar. Kami ingin berkembang.”

Dunia internasional kerap mengukur kehancuran perang dari apa yang runtuh dalam sekejap—bangunan yang rata dengan tanah dan jumlah korban yang berjatuhan.

Namun, kehancuran yang paling berbahaya justru berlangsung perlahan dan senyap: tercekiknya potensi manusia.

Ketika satu generasi dokter muda terhalang untuk berkembang, dampaknya jauh melampaui karier individu. Yang dipertaruhkan adalah kemampuan sebuah masyarakat untuk memulihkan diri. Dr. Ahmed dan rekan-rekannya tidak meminta belas kasihan atau pujian. Mereka memperjuangkan hak untuk belajar, menjadi spesialis, dan kembali mengabdi.

Jika dunia terus berpaling ketika mata rantai pengetahuan medis ini diputus, satu pertanyaan yang membayangi akan tetap ada: “Ketika debu akhirnya mengendap, siapa yang akan tersisa untuk menyembuhkan luka-luka Gaza?” (Middle East Eye)

*Naskah ini ditulis oleh Shoug Mukhaimar, penulis Palestina yang tinggal di Gaza. Ia meraih gelar sarjana bahasa dan sastra Inggris. Melalui laporan lapangan dan esai personal, ia mengangkat kisah kemanusiaan, isu sosial, serta realitas kehidupan di Gaza. Karyanya telah dimuat di Al Jazeera English, We Are Not Numbers, Kritica, dan Baladi Magazine.

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami