GAZA (PIC) – Setiap kali Idul Fitri tiba di Jalur Gaza, dua gambaran yang kontras muncul dalam ingatan penduduk. Satu gambaran lama yang penuh dengan kehidupan dan sukacita, dan gambaran lain yang baru-baru ini dipenuhi dengan kehilangan dan kesedihan.
Di antara kedua gambaran ini, terbentuklah kisah Idul Fitri di Gaza, sebagai cermin yang mencerminkan transformasi tempat dan orang-orang.
Idul Fitri di Masa Lalu: Ketika Hal-hal Kecil Menciptakan Sukacita
Hajj Ahmed Abu Mahadi, 68 tahun, berbicara dengan penuh nostalgia, “Dulu kami menunggu Idul Fitri sejak malam pertama, kami akan mendengar takbir, dan keluar saat subuh untuk shalat, dan setelah itu kunjungan akan dimulai dari rumah ke rumah. Tidak banyak, tetapi sukacitanya sangat besar.”
Ia menambahkan kepada koresponden PIC, “Anak-anak senang dengan jumlah kecil apa pun, eidiya (hadiah uang) tidak bernilai besar, tetapi itu berarti segalanya.”
Hajja Maryam Shlayel, 63 tahun, mengenang detail rumah-rumah di masa lalu, “Dulu kami membuat kaak (kue Idul Fitri) beberapa hari sebelum Idul Fitri, dan para tetangga akan berkumpul bersama, Idul Fitri adalah semangat kebersamaan, bukan hanya sebuah acara.”
Idul Fitri Hari Ini, Situasi yang Tidak Lengkap
Sebaliknya, Samer Thabet, 45 tahun, menggambarkan kenyataan Idul Fitri sekarang, dengan mengatakan, “Saat ini kami mencoba menciptakan suasana Idul Fitri, tetapi semuanya berbeda, tidak ada kemampuan untuk berbelanja, suasananya tidak sama seperti dulu.”
Ia melanjutkan, “Bahkan kunjungan pun berkurang, orang-orang sibuk memenuhi kebutuhan pokok hidup.”
Umm Luay Basla, 39 tahun, mengatakan, “Anak-anak saya bertanya tentang pakaian Idul Fitri dan uang hadiah, dan terkadang saya tidak dapat menemukan jawabannya. Kami mencoba menggantinya dengan hal-hal sederhana, tetapi perbedaannya jelas terasa.”
Anak bernama Sami, 10 tahun, berkata, “Ayahku bercerita bagaimana Idul Fitri dulu, mereka biasa bermain dan membeli mainan. Aku ingin bisa hidup di hari seperti itu.”
Anak bernama Reem, 7 tahun, berkata, “Aku ingin Idul Fitri diisi dengan permen dan permainan, uang tidak penting.”
Ucapan-ucapan ini mencerminkan kesenjangan antara generasi yang menjalani Idul Fitri dengan segala detailnya, dan generasi lain yang hanya mengenalnya melalui cerita.
Nostalgia, Ruang Bersama Antar Generasi
Pemuda bernama Khaled, 27 tahun, berkata, “Kita terjebak di antara dua generasi, kita mengingat Idul Fitri yang indah, dan kita menjalani Idul Fitri yang sama sekali berbeda. Nostalgia telah menjadi bagian dari Idul Fitri itu sendiri.”
Ia menambahkan, “Bahkan ketika kita mencoba merasakan kegembiraan, ada perasaan yang belum lengkap, seolah-olah ada sesuatu yang besar hilang.”
Kenangan yang Bertahan
Terlepas dari semua itu, Umm Ahmed, 50 tahun, menegaskan bahwa Idul Fitri belum sepenuhnya hilang.
“Memang benar banyak hal telah berubah, tetapi kami mencoba untuk melestarikan detail-detail sederhana, bahkan jika itu hanya sepotong manisan, yang penting adalah anak-anak merasakan kebahagiaan.”
Di Gaza, Idul Fitri saat ini tidak diukur dari apa yang dulu, tetapi dari apa yang masih bisa diselamatkan darinya. Di antara kenangan yang penuh sesak dan kenyataan yang keras, orang-orang terus mencari makna kebahagiaan, meskipun itu sederhana. (PIC)
