GAZA (PIC) – Bagi Inshirah Hajjaj, seorang pasien diabetes yang kini tinggal di tenda pengungsian di Kota Gaza, rasa takut tak lagi hanya datang dari dentuman bom atau perut yang kosong. Kini, malam hari pun menjadi ancaman tersendiri.
Ia mengaku tak bisa tidur nyenyak. Bukan karena suara perang, melainkan ketakutan akan tikus-tikus yang berkeliaran—merayap di atas tubuh mereka, masuk ke dalam selimut, bahkan menyentuh makanan yang tersisa.
Bagi Inshirah, ini bukan sekadar gangguan. Sebagai penderita diabetes, luka kecil saja bisa berujung fatal. Gigitan tikus berisiko menyebabkan infeksi serius hingga kemungkinan amputasi.
Kisah Inshirah hanyalah satu dari banyak cerita serupa di Gaza. Dalam beberapa waktu terakhir, kasus gigitan tikus meningkat tajam—seiring memburuknya krisis lingkungan akibat tumpukan sampah, genangan air limbah, dan hancurnya infrastruktur.
Seorang sumber medis menyebutkan bahwa rumah sakit, khususnya di Kota Gaza, mencatat puluhan kasus gigitan tikus. Korbannya beragam: anak-anak, lansia, perempuan, hingga pasien dengan penyakit kronis. Banyak di antaranya mengalami infeksi akut, bahkan terancam cacat permanen atau amputasi.
Menteri Kesehatan Palestina, Majed Abu Ramadan, sebelumnya telah memperingatkan potensi merebaknya wabah penyakit akibat lonjakan populasi tikus di tengah kondisi lingkungan yang kian memburuk.
Peringatan serupa juga datang dari Direktur Regional WHO, Hanan Balkhy, yang menyebut penyebaran penyakit di Gaza bisa meluas hingga ke luar wilayah tersebut jika situasi tidak segera ditangani.
Krisis Lingkungan yang Mencekam
Juru bicara Pemerintah Kota Gaza, Hosni Muhanna, menjelaskan bahwa ledakan populasi tikus dan serangga dipicu oleh penumpukan sampah, meluasnya air limbah, serta kehancuran infrastruktur. Reruntuhan bangunan yang menumpuk justru menjadi tempat ideal bagi hama untuk berkembang biak.
Ia menyebut kondisi ini sebagai bencana nyata. Saat ini, sekira 350.000 ton sampah menumpuk di Gaza. Petugas kebersihan tak mampu menjangkau tempat pembuangan karena alat-alat rusak dan bahan bakar sangat terbatas.
Lebih parah lagi, tidak tersedianya pestisida dan racun tikus akibat blokade membuat situasi semakin tak terkendali. Pemerintah kota praktis tak mampu menangani krisis ini.
Kesulitan serupa dialami Basil al-Dahnoun (47), pengungsi yang juga menderita diabetes dan gagal ginjal. Ia tak merasakan saat seekor tikus menggigit kakinya ketika tidur—akibat penurunan sensitivitas saraf.
“Saya terbangun dan melihat kaki saya sudah berdarah,” ujarnya. Sejak itu, ia harus menjalani perawatan intensif untuk mencegah infeksi yang bisa berujung pada amputasi.
Lingkungan di sekitar tenda, katanya, dipenuhi air limbah, sampah, dan serangga. Kondisi ini membuat isiko infeksi semakin tinggi, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan pasien kronis.
Sistem Kesehatan Gaza Nyaris Lumpuh
Dokter konsultan di Kompleks Medis Al-Shifa, Munir al-Shakhrit, mengatakan bahwa kasus gigitan tikus terus meningkat. Penanganannya pun tidak sederhana, terutama bagi pasien dengan penyakit penyerta.
Ia memperingatkan kemungkinan komplikasi serius seperti “demam gigitan tikus” atau infeksi bakteri berat yang bisa memerlukan perawatan intensif. Ia menegaskan pentingnya penanganan medis segera setelah gigitan terjadi.
Namun, krisis ini datang di saat sistem kesehatan Gaza sendiri nyaris lumpuh. Kementerian Kesehatan melaporkan kekurangan obat mencapai 50 persen, alat medis habis pakai 57 persen, dan bahan laboratorium hingga 71 persen.
Kondisi ini membuat rumah sakit kesulitan memenuhi lonjakan kebutuhan pasien, di tengah kondisi hampir runtuhnya sistem kesehatan.
Meski perjanjian gencatan senjata mulai berlaku sejak 10 Oktober 2025, kondisi kemanusiaan di Gaza belum juga membaik. Dari total sekitar 2,4 juta penduduk, sebanyak 1,4 juta di antaranya masih mengungsi.
Pembatasan ketat oleh penjaha zionis ‘Israel’ terhadap masuknya bantuan, bahan bakar, dan peralatan berat membuat layanan dasar lumpuh. Sumur air tak berfungsi optimal, listrik terbatas, dan pengelolaan sampah terhenti.
Selama lebih dari dua tahun agresi genosida sejak Oktober 2023, lebih dari 72.000 warga Palestina dilaporkan tewas dan lebih dari 172.000 lainnya terluka—sebagian besar perempuan dan anak-anak. Sekira 90 persen infrastruktur Gaza hancur.
Di tengah semua itu, ketakutan Inshirah akan malam hari menjadi simbol dari krisis yang lebih besar—ketika ancaman tak hanya datang dari angkasa, tetapi juga dari tanah tempat mereka berpijak. (PIC)
