Beranda / Palestina / Kisah Muslimah Tangguh Gaza: Bertahan di Bawah Reruntuhan, Terus Merawat Harapan
Kabar Palestina
10 Mar 2026

Kisah Muslimah Tangguh Gaza: Bertahan di Bawah Reruntuhan, Terus Merawat Harapan

Kisah Muslimah Tangguh Gaza: Bertahan di Bawah Reruntuhan, Terus Merawat Harapan
Bagikan:

GAZA (PIC) – Ketika dunia memperingati Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret, realitas yang dihadapi perempuan di Gaza justru sangat berbeda.

Di wilayah yang porak-poranda akibat perang sejak musim gugur 2023 itu, para perempuan berjuang setiap hari untuk bertahan hidup di tengah krisis kemanusiaan yang semakin parah.

Ribuan erempuan kini harus memikul beban ganda setelah kehilangan suami, rumah, serta sumber penghidupan mereka.

Di tenda-tenda pengungsian yang tersebar di wilayah selatan Gaza, banyak erempuan terpaksa menjadi satu-satunya pencari nafkah bagi keluarga. Sebagian dari mereka kehilangan suami akibat serangan bom, sementara yang lain tercerai-berai dari anggota keluarganya setelah berkali-kali mengalami pengungsian.

Dalam situasi ini, peran erempuan tidak lagi sekadar merawat keluarga. Mereka kini juga harus berjuang menyediakan makanan, air, dan kebutuhan hidup paling dasar bagi anak-anak dan anggota keluarga lainnya—di tengah lingkungan yang dipenuhi kehancuran serta kelangkaan sumber daya.

Tanggung Jawab Ganda dalam Kondisi Sulit

Di sebuah tenda lusuh di selatan Gaza, Umm Yusri (42) berusaha menyalakan api untuk memanggang roti bagi keempat anaknya. Ia kehilangan suaminya setelah rumah mereka di Gaza hancur akibat serangan bom.

Sejak saat itu, hidupnya berubah sepenuhnya. “Saya harus menjadi ibu, ayah, sekaligus pencari nafkah,” ujarnya.

Setiap hari Umm Yusri memulai pagi dengan mencari air. Setelah itu, ia mengumpulkan potongan kayu dari puing-puing bangunan yang hancur untuk dijadikan bahan bakar pengganti gas. Barulah kemudian ia berusaha mencari makanan bagi anak-anaknya; di tengah kelangkaan bahan pokok yang semakin parah.

Selama berbulan-bulan terakhir, Gaza dilanda krisis gas memasak yang serius akibat pembatasan pasokan yang masuk ke wilayah tersebut. Kondisi ini memaksa banyak keluarga kembali menggunakan kayu bakar atau metode memasak sederhana.

Situasi tersebut semakin menambah beban erempuan, yang sebagian besar harus menjalankan pekerjaan rumah tangga sekaligus memastikan kebutuhan dasar keluarga tetap terpenuhi—semuanya dilakukan di tengah kondisi hidup yang serba sulit dan tidak pasti.

Pengungsian Berulang dan Hilangnya Stabilitas Hidup

Miram Madi (35) kini tinggal di sebuah tenda di kawasan Al-Mawasi, dekat Khan Yunis, setelah berulang kali berpindah tempat bersama keluarganya. Mereka terpaksa mengungsi dari utara, lalu ke wilayah tengah, hingga akhirnya ke selatan Gaza akibat perintah evakuasi paksa dan serangan udara yang terus berlanjut.

Menurut Miram, tantangan paling berat selama perjalanan pengungsian itu adalah mencari tempat yang cukup aman untuk melindungi anak-anaknya.

Ia juga mengungkapkan bahwa banyak lokasi pengungsian tidak memiliki kebutuhan dasar yang layak, seperti air bersih dan fasilitas sanitasi.

Pengalaman Miram mencerminkan keadaan ribuan perempuan di Gaza yang tiba-tiba harus menjalani kehidupan sebagai pengungsi— di tengah hilangnya rasa stabilitas dalam kehidupan sehari-hari.

Angka-Angka yang Mencerminkan Skala Kesulitan

Data yang dikeluarkan oleh Biro Pusat Statistik Palestina mengungkapkan skala kerugian manusia akibat perang, dengan jumlah korban jiwa melebihi 72 ribu, di samping lebih dari 171 ribu orang yang terluka.

Di antara para korban terdapat ribuan perempuan dan anak-anak. Perkiraan lokal juga menunjukkan bahwa lebih dari 21 ribu perempuan kehilangan suami mereka selama perang; sehingga mereka kini harus menjadi satu-satunya penopang keluarga bagi puluhan ribu anak yang menjadi yatim.

Kondisi ini membuat banyak keluarga di Gaza kini sepenuhnya bergantung pada erempuan untuk mengelola kehidupan sehari-hari sekaligus memastikan kebutuhan dasar keluarga tetap terpenuhi di tengah krisis yang berkepanjangan.

Dampak Psikologis yang Mendalam

Kesulitan yang dialami perempuan di Gaza tidak hanya terbatas pada kondisi hidup yang serba sulit. Perang yang berkepanjangan juga meninggalkan luka psikologis yang mendalam.

Laporan yang dirilis oleh Kementerian Urusan Perempuan Palestina menunjukkan bahwa terdapat persentase besar erempuan di Gaza mengalami gangguan psikologis akibat tekanan perang yang terus berlangsung.

Menurut laporan tersebut, kasus depresi, kecemasan, dan insomnia meningkat tajam di tengah kondisi pengungsian, kehilangan orang-orang tercinta, serta hilangnya rasa aman dalam kehidupan sehari-hari.

Meski demikian, banyak perempuan berusaha menyembunyikan kekhawatiran mereka di hadapan anak-anak. Mereka berupaya tetap terlihat kuat demi menjaga setidaknya sedikit stabilitas emosional di dalam keluarga yang tengah dilanda krisis.

Keteguhan dalam Menghadapi Kehancuran

Salwa Taha (35), yang kehilangan suaminya pada awal perang, mengaku berusaha tetap terlihat kuat di hadapan keempat anaknya, meski setiap hari hidup dalam bayang-bayang serangan bom.

Ia mengatakan harus menahan duka atas anggota keluarganya yang gugur selama perang. Baginya, runtuh secara emosional bukanlah pilihan, karena anak-anaknya bergantung padanya.

“Saya tidak boleh terlihat lemah di depan mereka,” ujarnya, menggambarkan tekanan batin yang harus ia pikul setiap hari.

Kisah serupa dialami Samira Zamlut (40). Selain merawat tiga anaknya, ia juga harus mengurus ayah mertuanya yang tunanetra.

Samira membantu pria lansia itu berjalan, menemaninya ke klinik kesehatan, sekaligus memastikan kebutuhan obat-obatannya terpenuhi—semuanya dilakukan di tengah kesibukan dan keterbatasan hidup sehari-hari.

Perempuan, Pilar Kelangsungan Hidup

Di tengah kondisi yang sangat berat, perempuan Gaza kini menjadi pilar utama bagi keberlangsungan hidup keluarga yang tercerai-berai akibat perang.

Di antara tenda-tenda pengungsian, puing-puing bangunan, dan antrean air, mereka terus mengatur kehidupan sehari-hari keluarga—meski rasa aman dan stabilitas hampir sepenuhnya hilang.

Di tengah bahaya, tekanan psikologis, dan tantangan sosial yang mengelilingi mereka, perempuan Gaza menunjukkan gambaran ketangguhan yang luar biasa. Bagi mereka, mempertahankan kehidupan bukan lagi sekadar harapan, tetapi perjuangan yang harus dijalani setiap hari dengan kesabaran dan kekuatan besar.

Pada saat dunia merayakan Hari Perempuan Internasional, pesan yang datang dari perempuan Gaza terdengar berbeda: bertahan hidup, melindungi anak-anak, dan terus menjaga harapan—di tengah kenyataan yang semakin keras dari hari ke hari. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami