Beranda / Palestina / Krisis Jaringan Telekomunikasi, Muhajirin di Kamp Daraa Suriah Kesulitan Mengakses Internet
Kabar Palestina
11 Sep 2026

Krisis Jaringan Telekomunikasi, Muhajirin di Kamp Daraa Suriah Kesulitan Mengakses Internet

Krisis Jaringan Telekomunikasi, Muhajirin di Kamp Daraa Suriah Kesulitan Mengakses Internet
Bagikan:

DAMASKUS, (PIC) — Selama 13 tahun, warga Kamp Daraa untuk pengungsi Palestina di selatan Suriah hidup tanpa jaringan telepon kabel. Jaringan yang terputus sejak 2013 akibat pencurian dan perusakan kabel itu hingga kini belum dipulihkan, meski Pusat Telepon al-Mahatta hanya berjarak sekitar 500 meter dari kamp.

Ketiadaan jaringan telepon kabel memaksa ratusan keluarga mengandalkan internet nirkabel, satelit, dan paket data seluler. Namun, layanan alternatif tersebut justru menjadi beban baru karena mahal, berkapasitas terbatas, dan tidak stabil.

Internet Mahal, Kapasitas Terbatas

Harga internet alternatif bergantung pada kapasitas paket. Paket 200 GB mencapai sekitar 200.000 lira Suriah per bulan, sedangkan paket 20 GB sekitar 25.000 lira.

Kapasitas itu dinilai tidak sebanding dengan kebutuhan warga. Pelajar membutuhkannya untuk mengikuti pembelajaran, melakukan riset, dan mengakses materi pendidikan. Pelaku usaha mengandalkannya untuk bekerja dan berkomunikasi dengan pelanggan.

Sebagian warga memilih paket data seluler. Paket 7 GB dapat mencapai sekitar 45.000 lira per orang. Sementara lemahnya sinyal di dalam kamp—ditambah tidak adanya menara telekomunikasi yang memadai—membuat layanan semakin sulit diandalkan.

Warga akhirnya dihadapkan pada pilihan sulit: membayar mahal untuk koneksi dengan kapasitas terbatas atau bertahan dengan layanan lemah yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar.

Internet Nirkabel Dihentikan, Pilihan Makin Sempit

Kondisi tersebut semakin buruk setelah sejumlah jaringan internet nirkabel berbasis satelit baru-baru ini dihentikan. Keluarga yang selama ini mengandalkan layanan itu kehilangan akses komunikasi.

Dampaknya terasa dalam berbagai aktivitas; mulai dari berkomunikasi dengan kerabat di luar Suriah hingga menjalankan usaha. Pelajar juga semakin kesulitan mengikuti pembelajaran, melakukan riset, dan mengakses bahan pendidikan.

Menurut informasi lokal, penghentian sejumlah jaringan dilakukan melalui prosedur resmi untuk membatasi dan menutup layanan internet nirkabel yang tidak berizin. Langkah tersebut semakin mempersempit pilihan warga, sementara jaringan telepon kabel yang terputus sejak 2013 tetap belum dipulihkan.

Internet Bukan Lagi Kemewahan

Aktivis media Kamp Daraa, Abu al-Baraa al-Hourani, mengatakan krisis internet kini menjadi beban serius, terutama bagi pelajar dan pelaku usaha. Tingginya harga, rendahnya kualitas, dan ketidakstabilan layanan alternatif membuat warga semakin tertekan.

Al-Hourani mempertanyakan mengapa jaringan telepon kabel belum juga direhabilitasi selama 13 tahun, padahal Pusat Telepon al-Mahatta hanya berjarak sekitar 500 meter dari kamp. Menurutnya, warga selama ini terpaksa mengandalkan solusi alternatif yang mahal dan tetap tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar.

Penghentian sejumlah jaringan nirkabel semakin memperburuk keadaan. Al-Hourani mendesak pihak berwenang segera memulihkan jaringan telepon kabel, memasang kabel hingga ke kamp, serta menyediakan layanan internet resmi yang stabil dengan tarif terjangkau.

Ia menegaskan bahwa internet kini bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan dasar untuk pendidikan, pekerjaan, komunikasi, dan mengakses berbagai layanan. Karena itu, krisis komunikasi di Kamp Daraa membutuhkan penanganan segera.

Pernah Dibuka Pendaftaran, Layanan Tak Kunjung Hadir

Sekitar setahun lalu, Pusat Telepon al-Mahatta membuka pendaftaran bagi warga di wilayah yang belum terlayani untuk mengajukan permohonan internet nirkabel. Ratusan warga mendaftarkan diri.

Namun, menurut warga, proses tersebut tidak pernah berlanjut ke tahap penyediaan layanan. Pendaftaran hanya sebatas pendataan, mengukur jumlah peminat, dan memetakan kebutuhan; tanpa realisasi di lapangan.

Sementara menunggu jaringan telepon kabel dipulihkan, keluarga terus mengeluarkan sebagian pendapatan untuk layanan alternatif yang mahal tanpa memperoleh koneksi yang stabil dan dapat diandalkan.

Warga Tuntut Solusi Permanen

Warga Kamp Daraa mendesak pemerintah memulihkan jaringan telepon kabel dan memasang kabel baru dari Pusat Telepon al-Mahatta hingga ke kamp. Mereka juga meminta penyediaan akses ADSL dengan tarif resmi dan terjangkau sesuai kemampuan ekonomi warga.

Bagi mereka, persoalannya bukan lagi sekadar jaringan telepon yang terputus selama 13 tahun. Ketiadaan akses internet telah berubah menjadi hambatan terhadap pendidikan, pekerjaan, komunikasi, dan layanan dasar.

Selama jaringan telepon kabel belum dipulihkan dan pilihan alternatif terus menyusut, warga Kamp Daraa masih terjebak dalam krisis komunikasi yang berkepanjangan—sembari menunggu solusi permanen yang mengakhiri ketergantungan pada layanan sementara yang mahal dan tidak stabil. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami