GAZA (PIC) – Di sebuah gang sempit di Khan Yunis, Umm Ahmad Al-Arablashi duduk sambil memegangi pipinya. Wajahnya menegang menahan nyeri yang tak kunjung reda. Sudah berhari-hari ia hampir tak bisa tidur—bukan karena dentuman bom atau serangan udara, melainkan karena infeksi gigi yang tak bisa ia obati.
“Dulu saya pergi ke klinik pemerintah dan mendapat perawatan gratis,” ujarnya lirih. “Sekarang tidak ada klinik. Tidak ada dokter.”
Kisah Umm Ahmad hanyalah satu dari sekian banyak potret krisis kemanusiaan yang nyaris tak terlihat di Jalur Gaza. Di balik gambar kehancuran dan jatuhnya korban jiwa, ada kesulitan lain yang berlangsung diam-diam: rasa sakit yang tak tertangani.
Sakit gigi, infeksi, dan berbagai kondisi yang sebenarnya bisa dicegah kini menjadi kesulitan harian bagi ribuan warga; seiring runtuhnya sistem layanan kesehatan gigi akibat agresi genosida dan blokade.
Di sudut kota lain, Mahmoud Jumaa berdiri di depan bangunan yang dulunya klinik gigi 24 jam. Kini, tempat itu tinggal puing. Papan amanya yang pudar masih bertuliskan “Layanan Gigi”—seolah menjanjikan sesuatu yang tak lagi ada.
“Tempat ini tidak pernah tutup,” kenangnya. “Sekarang sudah hilang. Dan kalaupun menemukan dokter gigi, tidak ada alat untuk bekerja.”
Keruntuhan ini bukan terjadi tiba-tiba. Ini adalah akibat yang bisa diperkirakan dari penghancuran infrastruktur sipil yang berlangsung terus-menerus. Sektor kesehatan Gaza yang sejak awal sudah rapuh kini berada di ambang kegagalan total, dengan layanan kesehatan gigi termasuk yang paling terdampak.
Layanan Kesehatan di Bawah Reruntuhan
Dr. Mohammed Abu Amouna, pengawas layanan gigi di Gaza selatan, menggambarkan situasi ini sebagai bencana.
Menurutnya, sebagian besar klinik gigi milik pemerintah maupun lembaga amal—yang dulu menjadi tumpuan keluarga berpenghasilan rendah—kini berhenti beroperasi setelah hancur atau rusak parah. Ribuan pasien kehilangan akses bahkan untuk pemeriksaan dasar atau penanganan darurat.
Klinik swasta pun kondisinya tidak lebih baik. Banyak yang rata dengan tanah atau tak lagi bisa digunakan. Para dokter gigi terpaksa berhenti praktik, meninggalkan wilayah-wilayah tanpa layanan sama sekali.
Di salah satu klinik yang masih setengah berfungsi, seorang dokter gigi muda bekerja dengan persediaan yang terus menipis, dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit.
“Pasien datang membutuhkan perawatan saluran akar,” katanya. “Tapi tanpa bahan, kami tidak bisa menyelamatkan gigi. Pencabutan jadi satu-satunya pilihan. Kami mencabut gigi yang seharusnya bisa dirawat.”
Krisis ini tak hanya soal bangunan yang hancur. Peralatan penting langka, suku cadang tak tersedia, dan harga yang melambung membuat pembukaan kembali klinik hampir mustahil.
Kelangkaan yang Sengaja Dikondisikan
Hambatan terbesar, menurut para tenaga medis, adalah pembatasan masuknya pasokan medis. Obat bius gigi, bahan tambal, alat perawatan anak, hingga perlengkapan prostetik kini sulit didapat atau hampir habis.
Tanpa hal-hal mendasar ini, layanan kesehatan gigi modern praktis tak bisa dilakukan. Para dokter memperingatkan, layanan yang tersisa bisa berhenti total dalam hitungan minggu jika pasokan tidak segera masuk.
Dampaknya sudah terasa. Di sebuah kamp pengungsian yang padat, seorang anak kecil menangis tanpa henti. Ibunya mencoba menenangkan dengan cara seadanya setelah gagal menemukan dokter gigi yang bisa—atau mampu—membantu.
“Ini tidak tertahankan,” katanya. “Bagaimana mungkin rasa sakit seperti ini tidak punya solusi?”
Darurat Kemanusiaan yang Tak Terdengar
Sakit gigi jarang menjadi sorotan. Ia tak menghadirkan gambar dramatis atau angka korban jiwa yang mencolok. Namun infeksi yang tak ditangani dapat memicu komplikasi serius, penyakit kronis, bahkan dampak kesehatan jangka panjang—terutama bagi anak-anak.
Dr. Abu Amouna mendesak organisasi internasional dan pihak terkait untuk segera membuka akses masuk peralatan medis serta mendukung pemulihan fasilitas kesehatan yang hancur.
Tanpa intervensi, ia memperingatkan, Gaza berisiko kehilangan hampir seluruh layanan kesehatan gigi—mengubah kondisi medis yang biasa menjadi kesulitan berkepanjangan. Di Gaza hari ini, bahkan sakit gigi telah menjadi krisis kemanusiaan. (PIC)