Beranda / Palestina / Memanfaatkan Kembali Sisa Reruntuhan: Upaya Warga Gaza Bertahan di Tengah Kekerasan dan Pengungsian
Kabar Palestina
18 Jun 2026

Memanfaatkan Kembali Sisa Reruntuhan: Upaya Warga Gaza Bertahan di Tengah Kekerasan dan Pengungsian

Memanfaatkan Kembali Sisa Reruntuhan: Upaya Warga Gaza Bertahan di Tengah Kekerasan dan Pengungsian
Bagikan:

GAZA (PIC) – Kesulitan warga Palestina di Gaza kini tidak lagi sekadar tentang mencari tempat aman dari gempuran bom. Krisis yang berkepanjangan telah merambah hingga ke kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan sehari-hari.

Mulai dari tempat tidur untuk beristirahat, lemari untuk menyimpan pakaian, hingga fasilitas kesehatan sederhana yang mampu menjaga martabat manusia di tengah tenda-tenda pengungsian.

Seiring kekerasan yang terus berlangsung, meluasnya wilayah kehancuran, dan semakin langkanya kebutuhan pokok di pasar, ribuan warga yang terusir dari rumah mereka dipaksa menghadapi kenyataan baru yang keras. Mereka tidak hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga kehilangan hampir seluruh sarana penunjang kehidupan.

Dalam kondisi serba terbatas itu, lahirlah berbagai bentuk kreativitas untuk bertahan hidup. Warga Gaza mulai memanfaatkan puing-puing rumah yang hancur, potongan kayu, logam bekas, dan material apa pun yang masih bisa diselamatkan untuk menciptakan kembali peralatan rumah tangga yang mereka butuhkan.

Di antara reruntuhan, mereka merakit ranjang sederhana, membuat lemari penyimpanan darurat, hingga membangun fasilitas sanitasi dan layanan kesehatan seadanya di lingkungan pengungsian. Apa yang tersisa dari kehancuran perlahan diubah menjadi sarana untuk melanjutkan kehidupan.

Pemandangan ini menghadirkan potret nan kontras: di satu sisi, agresi zionis terus meluluhlantakkan ruang hidup warga sipil. Di sisi lain, masyarakat Gaza terus menunjukkan daya tahan luar biasa dengan menemukan cara-cara baru untuk beradaptasi, bertahan, dan menjaga martabat mereka di tengah krisis yang belum berujung.

Merakit Perabot dari Reruntuhan

Di depan sebuah tenda kecil di kawasan Al-Mawasi, Khan Younis, Tamer Hamdan (32) berdiri memandangi sebuah ranjang sederhana dengan wajah puas. Ranjang itu bukan barang bantuan kemanusiaan, melainkan hasil kerja tangannya sendiri yang diselesaikan selama tiga hari tanpa henti.

Selama berbulan-bulan mengungsi, Hamdan dan keluarganya hanya tidur di atas kasur usang yang langsung dialasi lantai tenda yang lembap. Kondisi itu perlahan menjadi semakin berat seiring berlarut-larutnya perang dan pengungsian.

“Saya tidak pernah membayangkan pengungsian akan berlangsung selama ini,” ujar Hamdan. “Awalnya kami mengira hanya beberapa hari, lalu bisa kembali ke rumah. Namun waktu terus berjalan, dan kehidupan di dalam tenda membutuhkan banyak kebutuhan dasar agar kami bisa bertahan.”

Kesadaran bahwa kepulangan masih jauh dari kenyataan memaksanya mencari solusi sendiri. Dari puing-puing bangunan yang hancur akibat serangan, ia memperoleh kayu bekas yang kemudian diolah menjadi perabot sederhana.

“Saya membeli kayu dari reruntuhan meski harganya mahal, lalu membuat ranjang ini. Tidur di lantai sudah terlalu melelahkan, terutama karena udara dingin dan kelembapan yang tinggi,” katanya. “Saya ingin membuat ranjang untuk anak-anak juga, tetapi semuanya mahal dan sulit didapat.”

Di Gaza, kayu yang berasal dari bangunan runtuh kini memiliki nilai baru. Material yang dikenal warga setempat dengan sebutan mashatih itu telah berubah menjadi komoditas penting bagi ribuan keluarga pengungsi.

Dari kayu-kayu bekas reruntuhan tersebut, warga membuat ranjang, meja, kursi, hingga lemari penyimpanan berukuran kecil. Ketika pasar tidak lagi mampu menyediakan furnitur konvensional, puing-puing bangunan yang hancur justru menjadi sumber utama untuk membangun kembali ruang hidup yang paling sederhana.

Bengkel Pertukangan di Tengah Pengungsian

Di Jalan Pesisir Al-Rashid, sebelah barat Khan Younis, Nahed Abu Azab kembali membuka bengkel pertukangannya di sebuah ruang sederhana yang ditutupi terpal plastik. Ia terpaksa memulai dari awal setelah perang menghancurkan bengkel utama miliknya di daerah Abasan, bagian timur Khan Yunis.

Nahed mengatakan, “Sebelum perang, saya biasa membuat pintu, jendela, dan set kamar tidur. Namun sekarang semuanya berubah. Kami bekerja enga napa yang tersedia, dan memanfaatkan kembali kayu-kayu sederhana agar dapat memenuhi kebutuhan orang-orang yang tinggal di tenda pengungsian.”

Ia menambahkan, “Orang-orang membutuhkan apa saja yang bisa membantu mereka menjalani hidup; kursi, meja, lemari kecil, bahkan sekadar alas yang lebih tinggi dari permukaan tanah. Dengan mahalnya harga bahan baku dan terputusnya pasokan sebagian besar barang, daur ulang kini menjadi bagian dari keseharian dan pekerjaan kami.”

Fasilitas Sanitasi dari Puing-Puing

Di sebuah sudut kecil di sebelah barat Khan Younis, Youssef Saud (25) memperlihatkan toilet rumah tangga alternatif yang dibuatnya dari lempengan marmer dan keramik yang dikumpulkan kembali dari rumah-rumah serta bangunan yang rusak akibat perang.

Saud mengatakan, “Alternatif bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Toilet siap pakai hampir tidak tersedia. Kalaupun ada, harganya sangat mahal. Karena itu, orang-orang mulai mencari solusi dengan cara apa pun yang mereka bisa.”

Ia menjelaskan bahwa keterbatasan pasokan memaksa warga memanfaatkan kembali berbagai material yang masih tersisa di tengah reruntuhan untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

“Bahkan wastafel untuk mencuci piring kini kami buat dari wadah logam bekas yang dipasang di atas rangka kayu. Orang-orang berusaha menyediakan apa pun yang dapat membantu mereka bertahan hidup di dalam tenda, meskipun dengan kemampuan dan sumber daya yang sangat terbatas,” ujarnya.

Saat Pakaian Bekas Menjadi Perlengkapan Hidup Sehari-hari

Upaya warga Gaza untuk beradaptasi dengan kehidupan pengungsian tidak hanya terlihat pada perabot dan fasilitas sanitasi. Kreativitas mereka juga menjangkau pakaian serta kain-kain bekas yang telah kehilangan fungsi utamanya, lalu disulap menjadi berbagai perlengkapan penting untuk menunjang kehidupan di dalam tenda.

Umm Mohammad Al-Najjar, seorang erempuan pengungsi di kawasan Al-Mawasi, Khan Younis, mengatakan bahwa kini setiap potongan kain memiliki nilai yang sangat berharga.

“Setiap lembar kain menjadi sesuatu yang bernilai. Kami menggunakan selimut lama dan pakaian yang sudah rusak sebagai sekat di dalam tenda, agar ruang tidur anak-anak terpisah dari bagian lainnya dan kami tetap memiliki sedikit privasi,” ujarnya.

Menurut Al-Najjar, perang telah mengubah cara pandang warga terhadap banyak hal yang sebelumnya dianggap biasa dan mudah didapat. Kini, benda-benda sederhana justru menjadi kebutuhan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.

“Dulu ada banyak hal yang kami anggap sepele sebelum genosida. Hari ini semuanya menjadi kebutuhan. Bahkan kain-kain bekas pun kami jahit kembali menjadi penutup untuk menyimpan pakaian atau bahan makanan di dalam tenda,” tuturnya.

Jeriken: Kebutuhan Pokok di Pengungsian

Di tengah krisis air yang kian memburuk di Gaza, jeriken dan wadah plastik bekas kini menjadi pemandangan yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari di kamp-kamp pengungsian. Benda sederhana yang sebelumnya kerap dianggap remeh itu kini menjelma menjadi aset berharga bagi ribuan keluarga yang berjuang memenuhi kebutuhan dasarnya.

Salem Abu Shamala, seorang muhajirin yang tinggal di sebuah kamp di sebelah barat Khan Yunis, mengatakan bahwa wadah plastik kini memiliki nilai yang jauh melampaui fungsi biasanya.

“Hari ini, wadah plastik sangat berharga. Kami menggunakannya untuk mengangkut air dan menyimpannya selama beberapa hari, terutama karena pasokan air sangat sulit diperoleh secara teratur,” ujarnya.

Kelangkaan air bersih memaksa warga memanfaatkan setiap wadah yang tersedia. Jeriken bekas, botol plastik, dan berbagai kontainer sederhana menjadi sarana penting untuk menyimpan persediaan air demi menghadapi ketidakpastian distribusi yang terus berlangsung.

Abu Shamala menambahkan bahwa fungsi wadah-wadah tersebut tidak berhenti pada penyimpanan air semata.

“Bahkan wadah berukuran kecil pun kami gunakan untuk menyimpan minyak goreng, tepung, atau kebutuhan pokok lainnya. Tidak ada alternatif yang tersedia, dan kalaupun ada, harganya berada di luar kemampuan sebagian besar warga,” katanya.

Pelepah Kurma, Pengganti Kayu di Tengah Keterbatasan

Di pinggiran kamp-kamp pengungsian Gaza, pelepah kurma kini menemukan fungsi baru. Material yang selama ini hanya dimanfaatkan sebagai peneduh itu berubah menjadi salah satu alternatif penting untuk menggantikan kayu yang semakin langka dan mahal.

Mustafa Al-Agha (42) mengatakan bahwa pada awalnya pelepah kurma hanya digunakan untuk mengurangi urni matahari yang menyengat tenda-tenda pengungsian. Namun seiring berjalannya waktu dan semakin beratnya kondisi hidup, warga mulai menemukan berbagai kegunaan lain dari material tersebut.

“Pada awalnya kami hanya menggunakannya sebagai peneduh. Setelah beberapa waktu, orang-orang mulai membuat lemari sederhana dan sekat-sekat di dalam tenda dari pelepah kurma,” ujarnya.

Kelangkaan bahan bangunan memaksa warga memanfaatkan sumber daya yang masih tersedia di sekitar mereka. Dalam situasi ketika kayu menjadi barang yang sulit diperoleh dan harganya terus melambung, pelepah kurma menjadi solusi yang lebih mudah dijangkau.

“Kayu mahal dan sulit ditemukan, sementara pelepah kurma masih tersedia di beberapa kawasan pertanian. Karena itu kami mulai memanfaatkannya untuk menyimpan pakaian dan selimut agar tidak terkena pasir maupun kelembapan,” tambahnya.

Ketika Puing-Puing Menjadi Sarana Bertahan Hidup

Di kamp-kamp pengungsian Gaza, puing-puing bangunan yang hancur tak lagi sekadar menjadi jejak kehancuran akibat perang. Sisa-sisa rumah yang rata dengan tanah kini telah menyatu dengan kehidupan sehari-hari warga, berubah fungsi menjadi berbagai sarana untuk membantu mereka bertahan di tengah keterbatasan.

Mahmoud Baraka, seorang muhajirin asal wilayah timur Khan Younis, mengatakan bahwa hampir setiap bagian dari reruntuhan kini memiliki kegunaan baru.

“Batu dan pecahan beton mulai digunakan untuk menahan tenda agar tidak bergeser atau terhempas angin. Terkadang kami juga memanfaatkan batang besi dan lembaran logam untuk membuat sekat atau pintu darurat,” ujarnya.

Di tengah minimnya material bangunan dan perlengkapan dasar, warga tidak lagi memiliki banyak pilihan selain memanfaatkan apa pun yang masih tersisa dari rumah mereka yang telah hancur.

Potongan beton menjadi pemberat tenda, besi bekas menjadi rangka penyangga, sementara lembaran logam disulap menjadi pelindung dari panas, debu, maupun pandangan luar.

Baraka mengakui bahwa keadaan saat ini adalah sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

“Tidak seorang pun menyangka kami akan sampai pada tahap harus membuat kebutuhan hidup dari sisa-sisa rumah kami sendiri. Namun inilah kenyataan yang kami hadapi hari ini,” katanya.

Ekonomi yang Dipaksa Lahir oleh Kekerasan

Para pakar ekonomi menilai bahwa fenomena yang terjadi di Gaza saat ini merupakan bentuk nyata dari ekonomi sirkular—sebuah sistem yang bertumpu pada penggunaan kembali material bekas dan sisa-sisa barang untuk diolah menjadi produk baru yang dapat dimanfaatkan kembali.

Namun, model ekonomi yang tumbuh di Gaza berbeda dari konsep ekonomi sirkular yang lazim diterapkan dalam program pembangunan berkelanjutan atau agenda pelestarian lingkungan. Di Gaza, praktik tersebut tidak lahir dari perencanaan, inovasi industri, atau kesadaran ekologis, melainkan dipaksa oleh agresi genosida yang berkepanjangan.

Runtuhnya aktivitas pasar, terbatasnya pasokan berbagai bahan baku akibat pembatasan masuknya barang, serta melonjaknya angka kemiskinan dan pengangguran telah menciptakan kondisi yang memaksa warga mencari cara-cara baru untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Dalam situasi seperti itu, pemanfaatan kembali puing-puing bangunan, sisa-sisa rumah yang hancur, dan berbagai material sederhana yang masih tersedia telah berubah menjadi kebutuhan sehari-hari. Apa yang sebelumnya dianggap limbah kini menjadi sumber daya yang sangat berharga bagi ribuan keluarga pengungsi.

Di dalam tenda-tenda pengungsian, warga Palestina terus berupaya menciptakan berbagai perlengkapan yang memungkinkan mereka menjalani hari demi hari. Dari kayu bekas, pelepah kurma, potongan logam, pecahan marmer, hingga kain usang, semuanya diolah kembali demi mempertahankan kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan.

Gaza hari ini menghadirkan sebuah ironi yang menyentuh sekaligus menggetarkan. Puing-puing tidak lagi hanya menjadi bukti kehancuran yang ditinggalkan perang, tetapi telah berubah menjadi sumber kehidupan baru bagi mereka yang kehilangan hampir segalanya.

Di tengah reruntuhan, warga Palestina menghadapi kerasnya perang dengan kreativitas yang lahir dari keterpaksaan. Mereka merakit ranjang dari sisa bangunan, membuat lemari dari kayu bekas, membangun fasilitas sanitasi dari material yang tersisa, dan menciptakan ruang hidup dari apa yang dahulu merupakan rumah mereka sendiri.

Kisah-kisah itu menunjukkan bahwa di balik kehancuran yang begitu luas, masih ada daya hidup yang menolak padam. Di Gaza, setiap potongan puing kini menjadi simbol perlawanan sehari-hari—upaya mempertahankan kehidupan, martabat, dan harapan, meskipun perang terus berusaha merenggut semuanya. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami