GAZA (PIC) – Gempuran serdadu zionis terhadap gudang obat-obatan dan bahan medis habis pakai di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa terjadi di tengah tekanan berkepanjangan terhadap sistem kesehatan Gaza. Rumah sakit di wilayah itu saat ini menghadapi kekurangan obat dan perlengkapan medis yang sangat parah serta beroperasi dengan kapasitas minimum.
Pengeboman tersebut merusak gudang obat dan bahan medis habis pakai, menghilangkan berbagai kebutuhan medis dasar untuk ruang operasi, unit gawat darurat, dan perawatan intensif. Sebagian sistem penyimpanan dan distribusi rumah sakit juga terganggu, sehingga mengancam kemampuan tenaga medis menangani meningkatnya jumlah pasien dan korban luka.
Kementerian Kesehatan Gaza menyebut pengeboman gudang obat dan bahan medis habis pakai sebagai kejahatan keji. Daya ledak rudal menghancurkan dua dari empat gudang yang menjadi sasaran dan menyebabkan kerusakan berat pada dua gudang lainnya, awal Agustus lalu.
Gempuran itu juga merusak gedung klinik rawat jalan di dekat lokasi serta mengakibatkan hilangnya sejumlah besar perlengkapan medis penting bagi pasien dan korban luka.
Kementerian menyebut penjajah tak hanya memberlakukan blokade yang menghambat masuknya obat dan perlengkapan medis serta membatasi ribuan pasien untuk berobat ke luar negeri, tetapi juga terus menghancurkan sisa infrastruktur kesehatan yang masih bertahan di Gaza.
Kementerian mendesak komunitas internasional, lembaga PBB, organisasi hak asasi manusia, dan lembaga kemanusiaan untuk segera menghentikan gempuran tersebut serta melindungi fasilitas dan tenaga kesehatan di wilayah Gaza.
Memperdalam Krisis
Pakar kesehatan menilai dampak gempuran terhadap gudang obat jauh melampaui kerugian material. Tindakan ini menghantam mata rantai terakhir pasokan medis yang sudah tertekan akibat blokade dan pembatasan masuknya kebutuhan dasar.
Meski bangunan rumah sakit dan unit perawatan masih beroperasi – dalam kondisi sangat darurat dan terbatas – ketiadaan obat dan bahan medis habis pakai dapat membuat layanan kesehatan sulit dipertahankan.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan rumah sakit di Gaza masih beroperasi dalam kondisi luar biasa dengan kekurangan obat-obatan, bahan medis habis pakai, perlengkapan laboratorium, dan suku cadang peralatan medis. Kebutuhan terus meningkat seiring berlanjutnya serangan dan bertambahnya jumlah korban.
Menurut pejabat kementerian, krisis ini merupakan akumulasi pembatasan berkepanjangan terhadap masuknya kebutuhan medis. Akibatnya, stok obat esensial berada pada tingkat kritis, bahan medis habis pakai semakin langka, dan layanan bedah, perawatan intensif, cuci darah, serta pengobatan kanker dan penyakit kronis terdampak serius.
Ribuan pasien juga masih menunggu perawatan atau rujukan medis karena keterbatasan kapasitas. WHO menyatakan sektor kesehatan Gaza menghadapi salah satu krisis pasokan obat terburuk.
Persediaan obat-obatan esensial dan bahan medis habis pakai berada pada tingkat kritis, sementara rumah sakit mengalami kekurangan akut obat anestesi, antibiotik, cairan infus, dan perlengkapan bedah.
WHO memperingatkan bahwa pembatasan berkelanjutan terhadap masuknya pasokan medis dapat menghentikan lebih banyak layanan penyelamat nyawa dan melemahkan kemampuan tenaga kesehatan memenuhi kebutuhan pasien yang terus meningkat.
Sementara itu, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyebut sistem kesehatan Gaza beroperasi dengan kapasitas sangat terbatas akibat gempuran berulang terhadap fasilitas kesehatan, kekurangan kronis bahan bakar dan pasokan medis, serta pembatasan bantuan kemanusiaan.
OCHA menegaskan kebutuhan kesehatan di Gaza jauh melampaui bantuan yang berhasil masuk. Kondisi ini memperburuk penderitaan ratusan ribu pasien, terutama penderita penyakit kronis, pasien kanker, pasien cuci darah, ibu hamil, dan anak-anak.
Lembaga-lembaga PBB juga menekankan bahwa bahan medis habis pakai sama pentingnya dengan obat-obatan. Kategori ini mencakup kasa, perban, benang jahit bedah, kateter, cairan infus, jarum suntik, dan perlengkapan sterilisasi yang digunakan setiap hari di unit gawat darurat, ruang operasi, dan perawatan intensif.
Kehabisan persediaan tersebut dapat menghentikan operasi bedah dan mengurangi layanan medis meski tenaga kesehatan masih tersedia.
Gempuran terhadap gudang obat dan bahan medis habis pakai tidak dapat dipisahkan dari krisis yang lebih luas yang melanda sistem kesehatan Gaza. Ketika rumah sakit kehilangan tenaga, kapasitas operasional, dan stok obat secara bersamaan, kemampuan mereka memenuhi kebutuhan medis menjadi semakin rapuh.
Setiap serangan baru bisa memperparah krisis kemanusiaan yang telah berlangsung lama. Di tengah peringatan mengenai potensi runtuhnya sistem kesehatan Gaza, penghancuran gudang obat dan perlengkapan medis menambah beban baru pada situasi yang oleh pejabat kesehatan dan organisasi internasional telah dinilai berada pada tahap kritis. (PIC)