Beranda / Dunia Islam / Misi Kemanusiaan ke Gaza Terhenti di Libya Timur: Konvoi Bantuan Gagal Menembus Wilayah Haftar (#1)
Dunia Islam Kabar Palestina
1 Jun 2026

Misi Kemanusiaan ke Gaza Terhenti di Libya Timur: Konvoi Bantuan Gagal Menembus Wilayah Haftar (#1)

Misi Kemanusiaan ke Gaza Terhenti di Libya Timur: Konvoi Bantuan Gagal Menembus Wilayah Haftar (#1)
Bagikan:

Caption foto: Sebuah papan reklame yang menampilkan gambar komandan wilayah timur Khalifa Haftar berdiri di wilayah Ras al-Alba di Libya tenggara pada 16 Mei 2026 (Abdullah Doma/AFP)

GAZA (Middle East Eye) – Penyitaan kapal bantuan Global Sumud Flotilla oleh serdadu ‘Israel’ dalam perjalanan menuju Gaza serta perlakuan yang dialami para aktivis di atasnya menjadi sorotan dunia pekan lalu.

Namun, jauh di sebelah barat, sekitar 2.000 kilometer dari lokasi kejadian, misi kemanusiaan lain yang juga membawa pesan solidaritas untuk Gaza menghadapi nasib serupa.

Konvoi darat global sumud, yang beranggotakan lebih dari 200 aktivis pro-Palestina dari berbagai negara, mengalami hambatan serius saat melintasi Libya dalam upaya mereka mencapai Gaza yang masih berada di bawah blokade dan serangan berkepanjangan.

Rombongan tersebut memasuki zona keamanan 5+5 di dekat Kota Sirte, Libya. Kawasan itu merupakan wilayah sensitif yang dibentuk berdasarkan perjanjian gencatan senjata Libya pada Oktober 2020 dan berada di antara area pengaruh pihak-pihak yang pernah bertikai dalam perang saudara negara tersebut.

Para aktivis berharap dapat bernegosiasi untuk memperoleh izin melanjutkan perjalanan menuju Gaza. Selama beberapa hari mereka bertahan di lokasi dan mendirikan perkemahan sambil menunggu kepastian jalur aman. Namun harapan itu pupus ketika pasukan bersenjata mendatangi lokasi perkemahan dan membubarkan konvoi.

Sebagian besar peserta kemudian dipaksa kembali ke Tripoli, ibu kota Libya, dengan pengawalan ketat aparat bersenjata. Sementara itu, sepuluh aktivis internasional ditahan dan hingga kini masih berada dalam tahanan otoritas Libya. Mereka berasal dari sejumlah negara, yakni Spanyol, Polandia, Amerika Serikat, Argentina, Uruguay, Portugal, Tunisia, dan Italia.

Setelah akhirnya kembali ke rumahnya di Johannesburg, Afrika Selatan, aktivis Jessica Breakey mengaku kepulangan itu tidak disertai rasa lega sepenuhnya. Baginya, meninggalkan Libya sementara sejumlah rekan seperjuangannya masih berada dalam tahanan merupakan keputusan yang sangat berat.

Breakey mengatakan para peserta konvoi sebenarnya enggan meninggalkan lokasi tanpa memastikan seluruh anggota rombongan dapat kembali bersama-sama. “Kami benar-benar tidak ingin pergi tanpa mereka,” ujarnya.

Menurut Breakey, sejak awal para aktivis memandang perjalanan menuju Gaza sebagai sebuah misi kolektif yang dibangun atas solidaritas dan kebersamaan. Karena itu, ketika konvoi dibubarkan dan sebagian peserta dipulangkan, muncul perasaan kehilangan dan kegagalan yang mendalam.

“Kami selalu merasa berada dalam perjuangan yang sama. Konvoi ini bergerak bersama sebagai satu kesatuan,” katanya.

Ia menambahkan, momen paling menyakitkan bukan hanya ketika kamp mereka dibongkar oleh aparat bersenjata, melainkan saat mereka harus meninggalkan lokasi tanpa sejumlah rekan yang masih ditahan.

“Bagian terburuk dari pembubaran kamp dan keputusan untuk kembali adalah kenyataan bahwa kami pulang tanpa mereka.”

Pemerintah Libya bagian timur akhirnya angkat bicara terkait nasib Global Sumud, konvoi internasional yang berupaya menembus jalur darat menuju Gaza.

Dalam pernyataan yang dirilis Selasa (17/6/2026), Kementerian Luar Negeri Libya Timur mengumumkan bahwa warga negara selain Libya dan Mesir tidak lagi diizinkan melanjutkan perjalanan menuju Mesir.

Menurut kementerian tersebut, langkah yang diambil aparat di wilayah timur Libya dilakukan dalam kerangka “tanggung jawab hukum dan kemanusiaan”.

“Pihak berwenang yang berwenang di wilayah timur menangani masalah ini sesuai dengan tanggung jawab hukum dan kemanusiaan,” demikian bunyi pernyataan resmi mereka.

Otoritas Libya juga menegaskan bahwa seluruh peserta yang terlibat dalam insiden tersebut tetap mendapatkan perawatan yang diperlukan, termasuk pendampingan medis dan bantuan kemanusiaan.

Meski kembali menegaskan dukungannya terhadap perjuangan rakyat Palestina, pemerintah Libya Timur menekankan bahwa dukungan tersebut tidak berarti mengabaikan aturan negara.

“Penghormatan terhadap kedaulatan nasional dan regulasi hukum yang mengatur pergerakan individu melintasi perbatasan adalah hal yang tidak dapat ditawar,” tegas erakanian tersebut.

Pernyataan ini memperlihatkan tantangan yang kerap dihadapi gerakan solidaritas internasional untuk Gaza. Di satu sisi, mereka berupaya menembus isolasi yang membelit wilayah Palestina itu. Di sisi lain, mereka harus berhadapan dengan kepentingan politik, keamanan, dan kedaulatan negara-negara yang menjadi jalur perjalanan.

Ketika Solidaritas Berhadapan dengan Realitas Politik

Apa yang semula digagas sebagai misi kemanusiaan lintas negara untuk membantu warga Gaza akhirnya terhenti. Bukan karena kehabisan semangat, melainkan karena berhadapan dengan kerumitan politik dan keamanan yang telah lama membelah Libya.

Sejak penggulingan Muammar Gaddafi yang didukung NATO pada 2011, Libya praktis terpecah menjadi dua pusat kekuasaan. Libya Timur berada di bawah kendali Panglima Khalifa Haftar dan sekutunya; yang mendapat dukungan dari Uni Emirat Arab serta Mesir.

Sementara itu, Libya Barat diperintah oleh pemerintahan yang diakui PBB dan berkedudukan di Tripoli. Di tengah lanskap politik yang rapuh itulah konvoi global sumud berusaha melintasi Afrika Utara menuju Gaza.

Perjalanan konvoi yang dimulai dari Mauritania dan bergerak melintasi sejumlah negara Afrika Utara sebenarnya berlangsung relatif lancar. Misi ini lahir dari inisiatif para aktivis Afrika Utara yang kemudian bergabung dengan peserta internasional dari berbagai negara.

Berbeda dengan armada bantuan laut yang selama ini lebih banyak membawa pesan simbolis solidaritas, konvoi darat ini berupaya menghadirkan bantuan yang dinilai lebih nyata dan langsung bermanfaat bagi warga Gaza.

Rombongan tersebut membawa tujuh ambulans, 20 rumah mobil, 10 truk bantuan kemanusiaan, serta melibatkan tenaga medis, insinyur, pendidik, dan pengamat hukum.

Mereka tidak hanya ingin menunjukkan dukungan moral, tetapi juga berusaha mengirimkan sumber daya yang dapat membantu masyarakat Gaza yang telah berbulan-bulan hidup di tengah agresi genosida, blokade, dan kehancuran infrastruktur.

Di balik kendaraan-kendaraan itu tersimpan harapan besar: membawa bantuan yang benar-benar bisa digunakan oleh warga sipil yang menghadapi krisis kemanusiaan berkepanjangan. Namun harapan tersebut mendadak terhenti ketika konvoi mencoba memasuki wilayah Libya Timur.

Upaya para aktivis global sumud untuk membuka jalan menuju Gaza berakhir jauh dari yang mereka bayangkan. Setelah berhari-hari menunggu kepastian di kawasan Sirte, Libya, proses negosiasi yang diharapkan menjadi jalan keluar justru berujung pada penangkapan.

Tim perunding konvoi yang ditugaskan berkomunikasi dengan pihak berwenang ditangkap saat berusaha membahas kelanjutan perjalanan menuju perbatasan Mesir. Penangkapan itu menjadi titik balik yang mengubah suasana optimistis para peserta menjadi ketidakpastian.

Keesokan harinya, aparat keamanan mendatangi perkemahan konvoi dan memaksa para aktivis yang masih berada di lokasi naik ke dalam bus dengan todongan senjata.

Dalam insiden tersebut, gas air mata juga dilaporkan ditembakkan ke sebuah masjid di dekat lokasi, tempat sejumlah peserta berlindung. Hingga kini belum jelas aparat keamanan tersebut berada di bawah komando otoritas mana.

Jessica Breakey, salah satu peserta konvoi asal Afrika Selatan, mengatakan situasi yang mereka hadapi selama di Sirte dipenuhi ketidakjelasan. Menurutnya, tidak pernah ada keputusan tegas dari pihak Khalifa Haftar mengenai apakah konvoi diizinkan melintas atau ditolak sepenuhnya.

“Kami tidak pernah benar-benar mendapat lampu hijau atau lampu merah dari Haftar. Yang ada hanyalah negosiasi yang terus berlangsung tanpa kepastian,” ujarnya.

Di tengah situasi itu, para penyelenggara terus berusaha menjaga jalur komunikasi dengan berbagai pihak. Bulan Sabit Merah Libya (Libyan Red Crescent) juga disebut terlibat dalam proses tersebut, meski hasilnya tidak sesuai harapan.

Bagi Breakey, pengalaman di Sirte terasa sangat kontras dengan sambutan yang mereka terima sebelumnya di Tripoli dan sepanjang perjalanan di Libya Barat.

Di berbagai kota yang mereka lewati, warga setempat menunjukkan dukungan kuat terhadap misi solidaritas untuk Gaza. Banyak yang menyambut rombongan dengan hangat dan memberikan bantuan selama perjalanan. Namun suasana persaudaraan itu berubah ketika konvoi memasuki wilayah yang lebih sensitif secara politik dan keamanan. (bersambung/Middle East Eye)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami