GAZA (PIC) – Di Gaza, mukena tak lagi sekadar pakaian yang dikenakan perempuan saat menunaikan shalat. Di tengah genosida yang terus berlangsung, mukena telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari—pendamping setia yang nyaris tak pernah lepas dari tubuh mereka.
Pemandangan itu mudah dijumpai di berbagai sudut Gaza, mulai dari permukiman, pusat-pusat pengungsian, hingga tenda-tenda pengungsian.
Para muslimah duduk berjam-jam dengan mengenakan mukena. Sebagian memasak atau merapikan tempat tidur darurat dengan pakaian yang sama. Ada pula yang menggendong anak-anak mereka atau mengantre untuk mendapatkan air bersih dan bantuan kemanusiaan, tetap mengenakan mukena.
Perubahan ini bukan semata-mata didorong oleh alasan ibadah. Kondisi tersebut lahir akibat agresi zionis ‘Israel’ yang terus berlangsung, disertai kekhawatiran akan pengeboman sewaktu-waktu atau perintah mengungsi secara mendadak yang selalu membayangi kehidupan mereka.
Selalu Siap Mengungsi
“Kini kami tidur dengan mengenakan mukena dan bangun pun masih memakainya,” ujar Um Mohammed, seorang muhajirin asal Gaza Utara.
“Sewaktu-waktu kami bisa diperintahkan mengungsi atau tiba-tiba terjadi pengeboman di sekitar kami. Tak ada lagi waktu untuk bersiap atau berganti pakaian.”
Ia menambahkan, “Sebelum perang, saya hanya mengenakan mukena ketika shalat. Sekarang, rasanya mukena telah menjadi bagian dari diri saya. Mukena memberi saya rasa aman karena tubuh tetap tertutup jika kami tiba-tiba harus meninggalkan tempat ini.”
Di sebuah pusat penampungan di Al-Mawasi, Khan Yunis, para perempuan duduk berdampingan di atas kasur-kasur sederhana. Warna dan model mukena yang mereka kenakan tampak serupa, seolah-olah agresi genosida telah menjadikannya sebagai “seragam” yang dikenakan oleh semua orang.
“Perang telah mengubah setiap aspek kehidupan kami,” kata Um Ahmed, ibu dari lima anak. “Kami sudah tidak lagi memiliki privasi seperti dulu. Kami hidup berdampingan dengan ratusan orang, dan mukena menjadi cara paling mudah bagi kami untuk tetap merasa nyaman sekaligus menjaga privasi.”
Fenomena ini tidak hanya terlihat di pusat-pusat pengungsian dan tenda darurat. Bahkan di rumah-rumah yang masih berdiri, banyak erempuan memilih untuk selalu menempatkan mukena dalam jangkauan mereka, siap dikenakan kapan saja jika keadaan darurat memaksa mereka mengungsi.
Perubahan yang Dipaksakan Imbas Agresi
Peneliti sosial Maram Al-Azayza mengatakan, meluasnya kebiasaan mengenakan mukena sepanjang hari mencerminkan besarnya perubahan psikologis dan sosial yang dipaksakan genosida terhadap kehidupan muslimah Gaza.
“Mukena kini bukan lagi sekadar pakaian,” jelasnya. “Ia telah menjadi cara perempuan beradaptasi dengan rasa takut dan ketidakpastian yang mereka hadapi setiap hari. Ini adalah respons terhadap kenyataan yang memaksa mereka untuk selalu siap meninggalkan tempat tinggal kapan saja.”
Di Gaza – wilayah di mana deru pesawat perang telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari – banyak perempuan mulai mengaitkan mukena dengan rasa aman secara psikologis.
Di tengah ancaman pengeboman, pengungsian yang terus berulang, dan hilangnya privasi, mereka menemukan dalam mukena sesuatu yang menyerupai pelindung—yang senantiasa menyertai perjalanan panjang mereka dalam bertahan dan tetap tegar menghadapi perang.
Um Mohammed seolah merangkum seluruh kenyataan itu dalam satu kalimat singkat sambil memandang anak-anaknya yang duduk di dalam tenda.
“Kami tidak lagi tahu kapan bisa kembali menjalani kehidupan yang normal,” ujarnya. “Namun, kami telah terbiasa untuk selalu siap menghadapi apa pun, bahkan jika itu berarti mengenakan mukena sepanjang hari.” (PIC)