GAZA (PIC) – Setiap tahun pada waktu seperti ini, laut di lepas pantai Gaza berdenyut mengikuti musim sarden. Kawanan ikan berkilau perak merapat ke pesisir, jaring-jaring terisi penuh, dan ribuan keluarga kembali punya alasan untuk bertahan.
Namun pertengahan April tahun ini terasa berat: tanpa musim sarden, tanpa kelimpahan, tanpa harapan yang biasanya menyertai. Untuk tahun ketiga berturut-turut, sarden absen dari meja makan—bukan karena laut kehabisan, melainkan karena aksesnya diblokir.
Di perairan Mediterania, kapal perang ‘Israel’ menjadi sekat antara nelayan dan sumber nafkahnya, sementara ruang melaut dipersempit hingga hanya beberapa meter—nyaris tak cukup untuk menangkap seekor ikan.
Pilar Ekonomi yang Runtuh
Bagi nelayan Gaza, musim sarden bukan sekadar siklus alam. Ia adalah penopang ekonomi dan sumber gizi bagi ribuan keluarga. Biasanya berlangsung dari pertengahan April hingga awal musim panas, lalu kembali lagi di musim gugur, membawa sarden dan makarel dalam jumlah melimpah. Kini, ritme itu patah—dan bersamanya, keseimbangan hidup para nelayan ikut runtuh.
Serikat Nelayan mencatat kerugian awal sektor perikanan mencapai lebih dari 80 juta dolar AS. Ratusan perahu hancur, kapal-kapal besar tak bisa lagi berlayar. Nelayan yang dulu melaut kini hanya bertahan di bibir pantai dengan perahu kecil seadanya —hasil tangkapannya pun hanya cukup untuk sekadar menahan lapar sehari.
Beberapa tahun lalu, produksi sarden saja bisa mencapai sekitar 30 ton per hari. Kini, hampir lenyap. Di antara dua angka itu tersimpan kisah-kisah pilu: sekira 200 hingga 230 nelayan gugur selama genosida ‘Israel’ di Gaza, dan ribuan lainnya kehilangan alat kerja, mata pencaharian, atau keduanya sekaligus.
Secercah Harapan di Perahu Kecil
Di Khan Younis, Ibrahim Abu Odeh duduk di tepi perahu kecil yang dikenal sebagai hasaka. Ia membelinya bersama empat nelayan lain, setelah banyak yang terpaksa menjual kapal mereka. Perahu ini tak butuh bahan bakar—sebuah keuntungan di masa serba langka—namun juga hanya membawa sedikit harapan.
Menurut Ibrahim, musim sarden dulu menjadi momen untuk menutup kerugian sepanjang tahun. Saat ikan mendekat ke pantai, perjalanan lebih singkat dan hasil tangkapan lebih banyak. Kini, setiap kali melaut justru dipenuhi kecemasan: ancaman bahaya, risiko kerugian, dan pasar yang keras—di mana ikan dihargai murah.
Di balik perahu kecil itu, ada keluarga beranggotakan enam orang yang kini mengungsi dari rumah mereka dan hidup dalam kondisi keras di dekat pantai. Laut bukan lagi sekadar sumber nafkah, tetapi juga tempat yang diandalkan untuk berjuang mengobati kesulitan.
Kehancuran Menyeluruh
Direktur Jenderal Perikanan, Insinyur Walid Thabet, menyebut kondisi ini sebagai kehancuran menyeluruh sektor perikanan. Lebih dari 100 kapal hancur, sekitar 1.800 perahu kecil rusak, ratusan fasilitas nelayan luluh lantak—mulai dari ruang kerja, pabrik es, tambak ikan, hingga sistem energi surya. Bahkan infrastruktur penyimpanan hasil tangkapan pun tak luput dari kerusakan.
Laut Gaza sendiri kian “menyempit”. Area tangkap kini hanya sekira 200–300 meter dari garis pantai. Akibatnya, pesisir penuh sesak dengan jaring dan pancing, memicu penangkapan berlebih di lingkungan yang tak lagi mampu menopangnya.
Sebelum agresi genosida, produksi ikan Gaza melampaui 5.000 ton per tahun, ditambah ratusan ton dari budidaya. Kini, angka itu terus merosot—seolah laut pun ikut terkuras.
Dalam lanskap ini, hilangnya sarden bukan sekadar kehilangan musim. Ia menjadi tanda ketimpangan yang lebih dalam: ketika akses ke laut dibatasi, kehidupan ikut terkungkung. Dan ketika nelayan tak lagi bisa melaut, yang hilang bukan hanya satu hari kerja—melainkan bagian dari keberlangsungan mata pencaharian mereka. (PIC)