GAZA (PIC) – Di tengah berlanjutnya agresi zionis ‘Israel’ di Gaza, sebuah pertarungan lain juga berlangsung secara paralel di, Kairo. Namun, ini adalah pertarungan yang sangat berbeda—berpusat pada perumusan kata-kata, jaminan-jaminan, dan berbagai kesepahaman.
Putaran perundingan kali ini berfokus pada isu yang sangat sensitif dan sejak lama menjadi penghalang tercapainya kesepakatan final: persoalan senjata yang dimiliki oleh faksi-faksi perlawanan Palestina.
Dilema Senjata: Dari Penolakan Menuju Pertanyaan tentang Bagaimana dan Kapan?
Perundingan di Kairo berlanjut dengan melibatkan kepala intelijen Mesir dan Turki serta Perdana Menteri Qatar. Selain itu, koordinasi terbuka juga dilakukan dengan utusan Amerika Serikat Steve Witkoff dan Perwakilan Tinggi BoP, Nikolay Mladenov.
Informasi yang muncul dari pembicaraan antara faksi-faksi Palestina dan para mediator di Kairo menunjukkan bahwa isu senjata telah ditempatkan di atas meja perundingan sebagai bagian dari paket yang lebih luas untuk mencapai berbagai kesepahaman yang lebih menyeluruh.
Informasi yang tersedia menunjukkan bahwa para mediator saat ini berfokus pada penyusunan ulang klausul delapan dan sembilan dalam rancangan rencana Mladenov, yakni dua klausul yang secara langsung berkaitan dengan isu sensitif tersebut.
Jurnalis dan analis Wissam Afifa melihat adanya pergeseran penting dalam arah pembahasan. Menurutnya, perdebatan tidak lagi berpusat pada prinsip menerima atau menolak, melainkan pada mekanisme, waktu pelaksanaan, dan jaminan-jaminan yang menyertainya.
Afifa menyebut bahwa faksi-faksi Palestina tetap mempertahankan sejumlah syarat yang jelas. Di antaranya adalah tidak menyentuh senjata yang dimiliki secara individu, mengaitkan setiap pengaturan dengan tahapan dan jalur penarikan pasukan ‘Israel’, serta menolak pembahasan mengenai penyerahan senjata sebelum “kelompok kolaborator” alias milisi antek zionis dihapuskan.
Mereka juga menegaskan bahwa setiap langkah yang berkaitan dengan isu ini harus dilakukan dalam kerangka Palestina murni dan dikaitkan dengan solusi politik yang komprehensif, bukan sekadar pengaturan keamanan yang bersifat sementara.
Menurut Afifa, pendekatan tersebut memberikan ruang gerak bagi para mediator dengan menggeser fokus pembahasan dari pertanyaan “apakah itu akan terjadi atau tidak” menjadi “bagaimana, kapan, dan dengan syarat-syarat apa hal itu akan dilakukan.”
Dari Pelucutan Senjata Menuju Pengendalian Senjata: Pendekatan Baru
Dalam analisisnya terhadap berbagai pendekatan yang tengah diajukan, peneliti dan analis politik Iyad al-Qarra menyatakan bahwa inti perdebatan saat ini berpusat pada isu yang diangkat oleh mantan utusan PBB, Nikolay Mladenov, yakni senjata milik kelompok perlawanan. Mladenov memandang isu tersebut sebagai hambatan utama yang menghalangi transisi menuju tahapan-tahapan baru dalam kesepakatan.
Dalam sebuah artikel opininya, Al-Qarra menjelaskan bahwa usulan yang kini mengemuka menawarkan pendekatan yang berbeda, yakni bergeser dari konsep “pelucutan senjata” menuju “pengendalian senjata.” Dengan pendekatan ini, persoalan senjata akan dibahas dalam kerangka konsensus nasional Palestina, bukan sebagai syarat awal yang dipaksakan penjajah ‘Israel’ kepada rakyat Palestina.
Menurut Al-Qarra, pendekatan tersebut merupakan upaya untuk menjembatani posisi ‘Israel’ dan AS di satu sisi, dengan sikap faksi-faksi Palestina yang menolak pelucutan senjata di sisi lain. Karena itu, pendekatan ini dinilai berpotensi membuka celah untuk memecahkan kebuntuan yang selama ini menghambat tercapainya kesepakatan.
Konteks Regional: Washington Membutuhkan Sebuah Terobosan
Perundingan di Kairo tidak dapat dipahami secara terpisah dari konteks regional yang sedang memanas. Menurut Iyad al-Qarra, pertemuan-pertemuan di Kairo berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan kawasan akibat konfrontasi antara Iran dan ‘Israel’, serta tersendatnya sejumlah isu regional yang telah menjadi sumber kekhawatiran bagi AS.
Di sisi lain, penjajah ‘Israel’ juga terhimpit. Gembong zionis Netanyahu menghadapi berbagai krisis yang kian menumpuk, mulai dari konfrontasi dengan Iran, tantangan yang terus berlanjut di Lebanon, hingga belum adanya pencapaian nyata yang dapat diumumkan kepada publik terkait agresi genosida di Gaza.
Perlu dicatat bahwa kesepakatan yang saat ini berlaku—dan menurut berbagai pihak kerap dilanggar ‘Israel’ setiap hari—dibentuk pada Oktober lalu di bawah sponsor bersama AS, Mesir, dan Qatar. Karena itu, kegagalan atau runtuhnya kesepakatan tersebut tidak hanya akan menjadi kegagalan dalam proses negosiasi, melainkan juga merupakan kerugian strategis bagi seluruh pihak yang menjadi penjaminnya.
Berdasarkan analisis terhadap situasi saat ini serta tumpang tindih kepentingan berbagai pihak yang terlibat, para pengamat melihat setidaknya ada tiga skenario yang mungkin terjadi pada fase berikutnya.
Skenario pertama adalah terobosan terbatas. Dalam skenario ini, tercapai sebuah formula yang disepakati bersama mengenai pengendalian senjata dalam kerangka nasional Palestina.
Kesepakatan tersebut diyakini membuka celah dalam kebuntuan yang selama ini menghambat proses negosiasi dan memungkinkan dimulainya pelaksanaan berbagai ketentuan operasional pada fase kedua perjanjian. Inilah skenario yang paling banyak mendapat perhatian di kalangan diplomatik.
Skenario kedua adalah perpanjangan proses negosiasi. Putaran perundingan di Kairo berhasil mencegah runtuhnya jalur perundingan secara total, tetapi belum menghasilkan kesepakatan akhir. Negosiasi kemudian terus berlanjut di bawah tekanan yang semakin besar, sementara semua pihak menunggu perkembangan baru yang dapat mempercepat tercapainya penyelesaian.
Skenario ketiga adalah kegagalan jalur perundingan. Dalam kondisi ini, pembicaraan tidak berhasil menjembatani perbedaan antara kedua pihak sehingga kesepakatan runtuh sepenuhnya, atau mengalami kebuntuan hingga secara efektif dianggap gagal.
Namun, skenario ini dinilai sebagai kemungkinan yang paling kecil mengingat besarnya biaya politik, keamanan, dan kemanusiaan yang harus ditanggung seluruh pihak apabila agresi dan genosida terus berlanjut.
Pada akhirnya, analisis Wissam Afifa dan Iyad al-Qarra bertemu pada satu keyakinan utama: perundingan saat ini bukan sedang mencari kesepakatan baru yang mengubah peta persoalan secara menyeluruh, melainkan mencari jembatan untuk melewati hambatan terakhir yang masih menghalangi jalan menuju kesepakatan. (PIC)