Di Kashgar, saya melihat banyak bangunan yang telah diubah menjadi bar, tempat usaha, dan restoran, padahal struktur arsitekturnya menunjukkan dengan jelas bahwa bangunan-bangunan tersebut dulunya adalah masjid.
Taha Kılınç
ISTANBUL (East Turkistan Press) – Jurnalis dan penulis asal Turki, Taha Kılınç, telah menerbitkan buku baru berjudul Kayıp Coğrafyanın İzinde: Doğu Türkistan Seyahatnamesi (Menapak Jejak Geografi yang Terlupakan: Catatan Perjalanan ke Turkistan Timur). Dalam buku tersebut, ia mengungkap kejahatan dan pelanggaran yang dilakukan China terhadap etnis Uyghur, berdasarkan kunjungan langsungnya ke Turkistan Timur beberapa bulan lalu.
Buku ini diterbitkan oleh penerbit Ketebe, dan acara peluncurannya diselenggarakan pada tanggal Senin, 13 Oktober 2025 lalu di Pusat Kebudayaan dan Seni Masjid Taksim, Istanbul.
Dalam pengantar bukunya, sang penulis menuturkan:
“Ketika saya memutuskan untuk pergi ke Turkistan Timur, ada beberapa pertanyaan di benak saya: Pertama, apakah ada kebebasan beragama yang nyata? Kedua, apakah masjid-masjid benar-benar dibuka? Dan ketiga, apakah perempuan diizinkan mengenakan jilbab di jalan-jalan dan tempat umum? Namun sayangnya, kami mendapati masjid-masjid tertutup, dan kami bahkan tidak dapat menunaikan salat di dalamnya. Kami juga menyaksikan pembatasan ketat yang diberlakukan terhadap perempuan Muslim untuk mengenakan jilbab secara terbuka.”
Taha Kılınç menyatakan bahwa tujuannya menulis buku ini mencakup tiga poin utama:
- Menyampaikan kebenaran tentang apa yang terjadi di Turkistan Timur kepada para pembaca sebagaimana yang ia saksikan sendiri di lapangan.
- Mendokumentasikan kesaksiannya bagi sejarah, agar generasi mendatang mengetahui apa yang telah terjadi di tempat ini.
- Menyoroti sejarah dan kekayaan budaya etnis Uyghur, serta memperkenalkan peradaban Turkistan Timur kepada khalayak.
Kılınç juga menjelaskan bahwa selama kunjungannya, ia tidak melihat satu pun perempuan berjilbab di kota-kota seperti Hotan, meskipun wilayah tersebut secara historis dikenal dengan religiusitas dan akar Islamnya yang kuat. Ia menambahkan:
“Di Kashgar, saya melihat banyak bangunan yang telah diubah menjadi bar, tempat usaha, dan restoran, padahal struktur arsitekturnya menunjukkan dengan jelas bahwa bangunan-bangunan tersebut dulunya adalah masjid.”
Ia menegaskan bahwa dirinya telah mendokumentasikan secara akurat lokasi masjid-masjid yang dihancurkan maupun yang dialihfungsikan di setiap wilayah yang dikunjunginya.
Demi menyampaikan kenyataan dengan sejelas dan sejujur mungkin, ia menyertakan lebih dari 300 foto yang ia potret sendiri selama perjalanannya di dalam buku tersebut. Selain itu, buku ini juga memuat informasi mengenai sejarah Turkistan Timur, negara-negara yang pernah berdiri di sana, serta tokoh-tokoh sejarah pentingnya.
Setelah kembali dari perjalanannya, jurnalis Taha Kılınç berpartisipasi dalam berbagai program televisi dan seminar. Ia terus mengungkap kejahatan genosida yang dilakukan China terhadap etnis Uyghur. Kehadirannya menjadi pembanding yang kontras dengan sejumlah jurnalis Turki pro-China yang mengunjungi Turkistan Timur atas undangan pemerintah China dan turut serta mempromosikan narasi palsu mereka.
Buku ini merupakan dokumen lapangan penting yang menyingkap tabir rahasia, dan mengembalikan suara suatu bangsa yang hendak dikubur dalam kebisuan. Buku ini adalah jeritan hati nurani di hadapan Naga China sang Penindas.
