Beranda / Palestina / Ramadhan Penuh Dahaga di Gaza, Warga Bertaruh Tenaga Setiap Hari Demi Mendapatkan Air
Kabar Palestina
10 Mar 2026

Ramadhan Penuh Dahaga di Gaza, Warga Bertaruh Tenaga Setiap Hari Demi Mendapatkan Air

Ramadhan Penuh Dahaga di Gaza, Warga Bertaruh Tenaga Setiap Hari Demi Mendapatkan Air
Bagikan:

GAZA (PIC) – Di Gaza, bulan suci Ramadhan tidak lagi hanya identik dengan suasana ibadah dan kebersamaan saat berbuka puasa. Kini, Ramadhan juga dibayangi kekhawatiran besar akibat krisis air yang semakin mencekik di berbagai wilayah tersebut.

Agresi genosida ‘Israel’ dan kehancuran luas infrastruktur dasar telah memaksa ribuan keluarga di Gaza menjalani perjuangan harian untuk mendapatkan salah satu kebutuhan hidup paling mendasar: air.

Sejak fajar menyingsing, banyak warga memulai hari mereka dengan membawa jeriken kosong, berjalan mencari sumber air. Mereka berharap menemukan air dari sumur yang masih beroperasi dalam jumlah terbatas, atau dari truk tangki air keliling yang hanya sesekali datang ke beberapa lingkungan permukiman.

Antrean Panjang Mendapatkan Air

Di gang-gang dan sekitar pusat-pusat pengungsian di wilayah Gaza, pemandangan antrean panjang warga yang menunggu giliran mendapatkan air kini menjadi hal yang biasa.

Dengan membawa jeriken kosong, mereka berdiri berjam-jam hanya untuk mengisi beberapa liter air—jumlah yang sering kali nyaris tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan satu hari.

Krisis ini tidak hanya berkaitan dengan kelangkaan air, tetapi juga sulitnya akses untuk mendapatkannya.

Pemadaman listrik yang berlangsung lama, ditambah kerusakan jaringan pompa dan reservoir akibat pengeboman, membuat kemampuan pemerintah kota dan lembaga lokal untuk mengoperasikan sumur atau menyalurkan air ke rumah-rumah menjadi sangat terbatas.

Di banyak wilayah Gaza, air bahkan tidak lagi mengalir melalui jaringan pipa seperti sebelumnya. Akibatnya, warga terpaksa mencari air melalui berbagai cara alternatif yang sering kali mahal, melelahkan, dan tidak selalu tersedia.

Pasokan Air Mekorot Terhenti

Krisis air di Gaza semakin memburuk setelah terhentinya pasokan air dari jalur perusahaan air ‘Israel’, Mekorot. Jalur tersebut sebelumnya menjadi salah satu sumber utama yang memasok air dalam jumlah besar ke wilayah Gaza.

Dengan terhentinya sumber itu, warga kini lebih bergantung pada sumur-sumur lokal. Namun, banyak sumur juga menghadapi kendala serius, mulai dari kekurangan bahan bakar hingga kerusakan teknis, yang menyebabkan jumlah air yang tersedia menurun drastis.

Kondisi ini berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari warga, baik di rumah maupun di pusat-pusat pengungsian.

Kegiatan sederhana seperti memasak, mencuci piring, membersihkan pakaian, bahkan mandi, kini menjadi pekerjaan yang harus dilakukan dengan perhitungan ketat terhadap penggunaan setiap tetes air.

Banyak keluarga terpaksa melakukan penghematan ekstrem. Air yang terbatas diprioritaskan untuk minum dan memasak, sementara kebutuhan lainnya sering kali ditunda atau dipenuhi dengan cara-cara alternatif.

Perjuangan Mendapatkan Air

Bagi banyak keluarga di Gaza, menyiapkan hidangan berbuka puasa di bulan Ramadhan kini menjadi tugas yang rumit. Setiap proses—mulai dari memasak, mencuci sayuran, hingga membersihkan peralatan makan—membutuhkan air, sementara ketersediaannya sangat terbatas.

Umm Mohammad Al-Far, seorang perempuan yang mengungsi dari Jabalia ke wilayah barat Gaza, mengatakan bahwa mendapatkan air kini menjadi tantangan terbesar bagi keluarga-keluarga yang tinggal di kamp pengungsian.

Dalam wawancara dengan Pusat Informasi Palestina, ia menceritakan perjuangan sehari-hari untuk memperoleh air.

“Kami keluar setiap hari membawa jeriken dan berjalan jauh hanya untuk mendapatkan sedikit air. Kami membutuhkannya untuk minum, memasak, mencuci, dan semua kebutuhan hidup. Terkadang kami menunggu berjam-jam sampai truk air datang,” ujarnya.

Namun, air yang berhasil didapat sering kali hanya cukup untuk kebutuhan satu hari. Akibatnya, perjalanan mencari air harus diulang setiap hari.

“Kadang berhari-hari truk air tidak datang. Kami terpaksa mencari ke tempat lain, dan sering kali pulang tanpa mendapatkan apa pun,” tambahnya.

Di tengah kelangkaan air bersih, sebagian keluarga bahkan mulai menggunakan air laut untuk membersihkan rumah atau mencuci pakaian, meski hal itu menimbulkan risiko kesehatan dan menambah beban mereka.

Kisah serupa disampaikan Hala Al-Kahlout. Menurutnya, krisis air kini bukan sekadar masalah layanan dasar, tetapi telah menjadi tekanan psikologis yang terus membayangi kehidupan sehari-hari.

“Setiap pagi kami memikirkan bagaimana mendapatkan air untuk sisa hari itu. Apakah cukup untuk minum dan memasak? Bagaimana dengan mandi anak-anak atau mencuci pakaian? Pertanyaan-pertanyaan itu sekarang menjadi bagian dari hidup kami,” katanya.

Ia menambahkan bahwa penghematan air kini menjadi pilihan yang tidak terhindarkan. Banyak keluarga terpaksa mengurangi frekuensi mandi dan mencuci pakaian demi memastikan kebutuhan paling dasar tetap terpenuhi—meskipun kondisi tersebut berpotensi memicu masalah kesehatan, terutama ketika cuaca semakin panas dan krisis terus berlanjut.

Sumur Menjadi Sumber Air Andalan

Pemerintah Kota Gaza menyatakan bahwa krisis air yang melanda wilayah Gaza saat ini terutama disebabkan oleh terhentinya pasokan air dari jalur perusahaan air ‘Israel’, Mekorot, serta kerusakan besar pada infrastruktur jaringan air dan sumur akibat agresi zionis.

Pihak pemerintah kota menjelaskan bahwa mereka kini berupaya mengoperasikan sekitar 27 sumur air di dalam kota. Selain itu, mereka juga menyediakan bahan bakar untuk menghidupkan sekitar 1.320 sumur bor milik warga.

Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi dampak krisis dan memastikan setidaknya sebagian kebutuhan air warga dapat terpenuhi.

Meski demikian, menurut pemerintah kota, sejumlah kawasan masih mengalami kekurangan air yang sangat parah. Wilayah yang terdampak antara lain Al-Zeitoun, Al-Shuja’iya, Tal Al-Hawa, Jalan Al-Shawa, Jalan Yafa, kawasan Kota Tua, Al-Rimal bagian selatan, lingkungan Al-Daraj, bundaran Haidar, bundaran Al-Abbas, serta sebagian wilayah Al-Sabra. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami