Beranda / Rohingya / Ratusan Muhajirin Rohingya Hilang Setelah Kapal Mereka Karam di Laut Andaman — PBB
Kabar Rohingya
16 Apr 2026

Ratusan Muhajirin Rohingya Hilang Setelah Kapal Mereka Karam di Laut Andaman — PBB

Ratusan Muhajirin Rohingya Hilang Setelah Kapal Mereka Karam di Laut Andaman — PBB
Bagikan:

PBB dan Organisasi Internasional untuk Migrasi menyebut sekitar 250 orang, termasuk anak-anak, dikhawatirkan hilang.


ANDAMAN (Al Jazeera) – Sekira 250 muhajirin Rohingya dan warga Bangladesh dilaporkan hilang setelah sebuah kapal karam di Laut Andaman, demikian disampaikan badan pengungsi PBB (UNHCR) dan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).

“Kapal yang penuh sesak dengan pria, perempuan, dan anak-anak itu dilaporkan tenggelam akibat angin kencang, laut yang ganas, dan kelebihan muatan,” demikian bunyi pernyataan bersama UNHCR dan IOM yang dikeluarkan pada Selasa (14/04/2026).

Kapal tersebut diketahui bertolak dari Teknaf di Bangladesh selatan dan sedang berupaya mencapai Malaysia.

“Tragedi ini menyoroti besarnya korban jiwa akibat pengungsian yang berkepanjangan dan terus absennya solusi permanen bagi masyarakat Rohingya,” ujar UNHCR dan IOM dalam pernyataan mereka.

Telah lama menghadapi penindasan di Myanmar, lebih dari 730 ribu Rohingya terpaksa meninggalkan rumah mereka pada 2017 di tengah kampanye pembersihan etnis yang dilancarkan militer Myanmar, dan mencari keselamatan di kamp-kamp di Bangladesh.

Ribuan Rohingya setiap tahunnya mempertaruhkan nyawa demi melarikan diri dari penindasan dan perang saudara di Myanmar serta kamp-kamp yang sudah jauh melampaui kapasitas di Bangladesh, kerap melaut dengan kapal-kapal seadanya demi mencapai negara-negara tetangga dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Penjaga pantai Bangladesh menyatakan salah satu kapalnya — yang tengah dalam perjalanan menuju Indonesia — berhasil menyelamatkan sembilan orang dari kapal yang karam itu, termasuk satu perempuan, pada 9 April.

Juru bicara Penjaga Pantai, Letnan Komandan Sabbir Alam Sujan, menyatakan kapal mereka “menemukan beberapa orang yang mengapung di laut dengan berpegangan pada drum dan kayu, lalu menyelamatkan mereka dari perairan dalam.”

Dari sembilan orang yang selamat, enam di antaranya diduga terlibat dalam jaringan perdagangan manusia dan telah ditahan oleh pihak kepolisian.

‘Kami Mengapung Selama 36 Jam’

Salah satu korban selamat, Rafiqul Islam, menuturkan bahwa ia tertipu oleh para sindikat yang menjanjikannya pekerjaan di Malaysia.

“Sejumlah dari kami dikurung di ruang bawah kapal; beberapa meninggal di sana. Saya terluka karena terkena tumpahan minyak dari kapal,” katanya, seraya menambahkan bahwa kapal tersebut berlayar selama empat hari sebelum akhirnya karam.

“Kami mengapung hampir 36 jam sebelum sebuah kapal menyelamatkan kami dari perairan dalam,” tambahnya, seraya menyebutkan bahwa 25 hingga 30 orang meninggal akibat sesak napas imbas kondisi kapal yang terlalu penuh selama perjalanan.

Laut Andaman membentang di sepanjang pesisir barat Myanmar, Thailand, dan Semenanjung Melayu.

Malaysia menjadi tujuan utama bagi warga Rohingya karena statusnya sebagai negara mayoritas Muslim dan adanya komunitas diaspora Rohingya yang cukup besar di sana.

Tahun lalu, UNHCR melaporkan 427 Rohingya dikhawatirkan tewas dalam dua insiden kapal karam di lepas pantai Myanmar pada bulan Mei.


Diterjemahkan dari Al Jazeera English. Artikel asal dapat dibaca di sini.

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami