Beranda / Uyghur / Sembilan Tahun Tanpa Kabar, Berita Pertama yang Tiba adalah Kepergiannya
Kabar Uyghur
2 Jun 2026

Sembilan Tahun Tanpa Kabar, Berita Pertama yang Tiba adalah Kepergiannya

Sembilan Tahun Tanpa Kabar, Berita Pertama yang Tiba adalah Kepergiannya
Bagikan:

Kaşghar, Turkistan Timur (Satu Garis Depan) — Tidak ada tangisan yang bisa dilepas di sisi jenazah. Tidak ada wajah terakhir yang bisa ditatap. Bahkan tanggal kepergiannya pun tidak diketahui.

Itulah kenyataan yang harus diterima oleh Ust. Abdul Ahad Ucatlı, Sekretaris Jenderal Persatuan Ulama Turkistan Timur, ketika kabar wafatnya sang ayah — Muhammed Emin Ruzi Niyaz — akhirnya sampai kepadanya, Senin (01/06) malam.

“Pedih sekali membayangkan ayah kandung yang sembilan tahun tak bisa berkomunikasi langsung sama sekali, karena kekejaman rezim komunis Cina, tahu-tahu kabar pertama adalah kabar wafatnya — tanpa bisa melihat jenazahnya, bahkan fotonya pun tidak, dan tak tahu kapan Allah taqdirkan bisa mengunjungi kuburnya,” tulis Ust. Dzikrullah W. Pramoedya, pendiri Sahabat Al-Aqsha, dalam pernyataan takziyah yang disampaikan atas nama keluarga besar Sahabat Al-Aqsha, ISA, dan Yayasan KITA.


Kaşghar yang Dibungkam

Kaşghar — kota tua di jantung Turkistan Timur yang pernah menjadi simpul peradaban Islam di Asia Tengah — kini adalah salah satu wilayah dengan pengawasan paling ketat di dunia. Terputusnya komunikasi Ust. Abdul Ahad dengan ayahandanya bukan pengecualian, melainkan cerminan dari realitas yang dialami jutaan keluarga Muslim Uyghur.

Melansir laporan Uyghur Human Rights Project (UHRP), sejak 2016–2017 komunitas Uyghur di diaspora mengalami keruntuhan komunikasi yang hampir total dengan keluarga mereka di dalam negeri — kehilangan kontak yang bagi sebagian besar dimulai tidak lebih awal dari 2016, sebagai akibat langsung dari kejahatan represif rezim komunis Cina yang terus meningkat.

Warga Uyghur di luar negeri terputus dari orang tua, saudara kandung, dan anggota keluarga besar hingga satu dekade lamanya. Akibatnya: duka yang tak terselesaikan atas kematian anggota keluarga yang baru diketahui bertahun-tahun setelah kejadian, trauma lintas generasi, dan isolasi dari ekspresi budaya yang berakar pada kehidupan keluarga.

Yang lebih menyakitkan, anggota keluarga yang berada di dalam wilayah Cina dihukum atas tindakan, ucapan, atau keberadaan kerabat mereka di luar negeri.

Ancaman ini bertujuan membungkam suara-suara kritis di luar negeri — bukan karena warga Uyghur tidak punya keluhan, melainkan karena memiliki keluarga di wilayah Uyghur adalah sebuah bentuk leverage yang digunakan rezim.

Sejak 2014, rezim komunis Cina mengerahkan 200 ribu kader Partai untuk secara rutin mengunjungi dan mengawasi kelompok-kelompok Turkik di seluruh Turkistan Timur.

Sejak Desember 2017, program ini diperluas dengan inisiatif “Menjadi Keluarga” — sebuah program wajib di mana lebih dari satu juta kader menghabiskan setidaknya lima hari setiap dua bulan di dalam rumah warga Turkik.


Duka yang Melampaui Kehilangan Pribadi

Ust. Abdul Ahad adalah wajah dari jutaan Muslim Uyghur yang hidup dalam diaspora — tercerabut dari tanah leluhur, terputus dari orang-orang yang mereka cintai, dan menghadapi kenyataan bahwa kematian pun tidak memberi ruang untuk berduka secara layak.

Sejak 2017, rezim komunis Cina menjalankan apa yang oleh banyak pihak disebut sebagai genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang menyasar umat Muslim Uyghur dan Turkik lainnya di Turkistan Timur.

Antara 1,8 hingga 3 juta warga Uyghur diyakini telah ditahan secara sewenang-wenang di kamp-kamp “re-edukasi”. Sementara ratusan ribu lainnya dipenjara atau berada di bawah pengawasan ketat.

Kisah ini bukan hanya tentang seorang ayah dan putranya. Ini adalah potret dari apa yang sedang terjadi di Turkistan Timur — sebuah penindasan sistematis yang berlangsung senyap, jauh dari sorotan dunia.


Keluarga besar Yayasan KITA, Sahabat Al-Aqsha, dan ISA (Institut Al-Aqsa untuk Riset Perdamaian) menyampaikan takziyah yang sebesar-besarnya kepada Ust. Abdul Ahad Ucatlı dan seluruh keluarga.

Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu. Semoga Allah mengampuni seluruh dosa beliau, menerima amal ibadahnya, dan mengumpulkan Allahyarham bersama para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, dan Shalihin.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.


Kita beriman bahwa Allah Maha Membalikkan keadaan. Suriah mengajarkan kita: 13 tahun yang tampak mustahil, lalu Allah taqdirkan kemenangan itu datang. Doa dan harapan yang sama kita panjatkan untuk Turkistan Timur.

Satu Garis Depan, Satu Keluarga.

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami