SUDAN (Al Jazeera | AFP) – Enam warga sipil tewas dan delapan lainnya luka-luka dalam serangan terhadap fasilitas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Sudan pada Sabtu (13/12/2025). Pemerintah Sudan menyebut serangan ini sebagai “tindakan teroris” dan membebankan tanggung jawab sepenuhnya kepada pasukan Rapid Support Forces (RSF).
Menurut sumber medis yang dikutip AFP, sedikitnya enam warga sipil tewas dalam serangan yang menargetkan gedung milik PBB di Kadugli, ibu kota negara bagian Kordofan Selatan yang terkepung, di selatan Sudan.
Saksi mata melaporkan bahwa korban serangan tersebut adalah pegawai PBB. Mereka mengindikasikan bahwa serangan dilakukan menggunakan drone yang menyerang gedung PBB.
Pasukan Perdamaian Bangladesh Jadi Korban
Di Dhaka, Bangladesh, pihak militer mengonfirmasi bahwa setidaknya enam personel mereka yang tergabung dalam misi penjaga perdamaian PBB di Sudan tewas, sementara delapan lainnya terluka dalam serangan terhadap pangkalan PBB di wilayah Abyei.
Dalam pernyataan resminya, militer Bangladesh menyatakan, “Situasi di wilayah tersebut tidak stabil dan bentrokan dengan teroris masih berlangsung.” Pihak militer menambahkan bahwa otoritas setempat tengah berupaya maksimal menyediakan perawatan medis dan operasi penyelamatan bagi para korban luka.
Bangladesh adalah salah satu kontributor terbesar dalam misi penjaga perdamaian PBB, dengan pasukannya telah lama ditempatkan di Abyei—wilayah yang dipersengketakan antara Sudan dan Sudan Selatan.
Pemerintah Sudan Mengecam Keras
Dari Port Sudan, pemerintah Sudan mengeluarkan kecaman keras terhadap “serangan udara yang dilakukan oleh milisi teroris Rapid Support Forces menggunakan drone yang menargetkan kantor PBB di kota Kadugli, yang merupakan pelanggaran berat terhadap perlindungan yang ditetapkan untuk fasilitas PBB dan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum humaniter internasional.”
Dalam pernyataannya, pemerintah Sudan menyatakan, “Milisi teroris Rapid Support Forces bertanggung jawab penuh atas serangan ini dan kami menyerukan PBB serta masyarakat internasional untuk mengambil sikap tegas dan tindakan pencegahan yang menjamin perlindungan fasilitas PBB dan pekerja kemanusiaan, serta meminta pertanggungjawaban para pelaku sesuai hukum internasional.”
Kota yang Terkepung Krisis Kelaparan
Pasukan RSF telah mengepung kota Kadugli selama satu setengah tahun. PBB pada November lalu mengonfirmasi kondisi kelaparan di kota tersebut.
Wilayah Kordofan yang luas—terbagi menjadi tiga negara bagian dan dikenal dengan pertanian serta peternakan—merupakan titik strategis bagi pergerakan unit militer dan logistik. Wilayah ini terletak di antara area yang dikuasai tentara di utara, timur, dan tengah, serta wilayah Darfur di barat yang kini telah jatuh ke tangan pasukan RSF.
Pasukan RSF telah melancarkan perang melawan tentara sejak April 2023, mengerahkan pejuang, drone, dan milisi sekutu di wilayah subur ini.
Para analis berpendapat bahwa fokus RSF di wilayah ini bertujuan untuk mematahkan garis pertahanan terakhir tentara di sekitar Sudan tengah, dalam upaya merebut kembali ibu kota Khartoum dan kota-kota besar lainnya. (ADR)
Mari Bersama Peduli untuk Sudan
Kondisi kemanusiaan di Sudan terus memburuk akibat konflik berkepanjangan. Ribuan warga sipil menjadi korban, termasuk mereka yang berusaha membawa bantuan kemanusiaan.
Yayasan KITA terus memantau situasi di wilayah-wilayah konflik dan siap menyalurkan dukungan untuk keluarga kita yang membutuhkan.
Mari kuatkan keluarga kita yang tengah bertahan di garis depan Sudan.
