Oleh: Abu Ahmad (Rohingya Youth Foundation) | Alih Bahasa: Abu Hanif (sahabatalaqsha.com)

SHILKHALI, MAUNGDAW, ARAKAN (Sahabat Al-Aqsha) – Darurat kemanusiaan yang parah sedang terjadi di desa Rohingya di Shilkhali (Keyoukshang) setelah Tentara Arakan (Arakan Army/AA) melancarkan operasi penyisiran pada 29 November 2025, yang membuat penduduknya ketakutan dan terisolasi. Para saksi mata mengonfirmasikan bahwa krisis ini bermula dari penangkapan massal terkoordinasi yang dilakukan sekitar pukul 13.00 pada hari yang sama.
Pria Berusia 20–45 Tahun Diculik
Menurut para penyintas dan laporan lokal, personel Tentara Arakan memasuki desa tersebut tak lama setelah tengah hari dan menculik semua pria Rohingya berusia antara 20 dan 45 tahun. Setidaknya 40 pria dibawa paksa dari rumah mereka dan diangkut ke lokasi yang dirahasiakan, tanpa informasi yang diberikan kepada keluarga mereka.
Komunikasi yang bocor dari dalam wilayah tersebut menunjukkan bahwa banyak pria yang ditahan mungkin telah menghadapi pemukulan, penyiksaan, dan interogasi yang keras sehingga menimbulkan kekhawatiran akan penganiayaan yang lebih parah yang belum terungkap.
Perempuan dan Anak-Anak Disekap Tanpa Makanan atau Air
Setelah penculikan tersebut, semua penduduk yang tersisa—perempuan, anak-anak, dan lansia—ditahan di rumah-rumah mereka dengan pengamanan ketat. Penduduk desa melaporkan bahwa mereka tidak mendapatkan makanan, air bersih, dan kebutuhan pokok sehingga beberapa keluarga berada di ambang dehidrasi dan penyakit. Pembatasan pasokan penting yang disengaja ini telah menempatkan perempuan hamil, bayi, dan lansia dalam risiko langsung.
Pemadaman Komunikasi untuk Menutupi Kekejaman
Dalam apa yang digambarkan para ahli sebagai upaya untuk mencegah dokumentasi pelanggaran, Tentara Arakan telah memberlakukan pemadaman komunikasi penuh, menonaktifkan jaringan seluler, memblokir akses internet, dan mencegah kontak apa pun dengan dunia luar.
Pemantau kemanusiaan memperingatkan bahwa pemadaman ini telah menghasilkan kekosongan informasi yang berbahaya sehingga mustahil untuk memverifikasi skala penuh pelanggaran yang terjadi secara langsung.
Tidak Ada Akses Kemanusiaan
Wilayah tersebut masih tertutup rapat, tidak ada lembaga-lembaga kemanusiaan yang dapat masuk atau memberikan bantuan. Warga menggambarkan kondisi tersebut seperti desa yang dikepung, dengan persediaan makanan yang menipis dan ketakutan yang meluas di antara keluarga-keluarga yang menunggu kabar tentang para pria yang diculik dan ditahan.
Dibutuhkan Respons Internasional yang Mendesak
Organisasi-organisasi hak asasi manusia dan advokat Rohingya menyerukan intervensi global segera. Mereka mendesak masyarakat internasional untuk:
- Menuntut pembebasan yang aman bagi semua pria yang ditahan
- Menekan Tentara Arakan untuk memulihkan jaringan komunikasi
- Mengizinkan akses kemanusiaan tanpa hambatan
- Memastikan perlindungan dan keselamatan warga sipil yang terjebak di Shilkhali/Keyoukshang
Seiring krisis yang semakin dalam, para pengamat memperingatkan bahwa setiap jam tanpa komunikasi atau pengawasan eksternal meningkatkan risiko kekejaman lebih lanjut.

Laporan Situasi Terkini — 2 Desember 2025, 09.00 (Waktu Setempat)
Berdasarkan laporan terbaru yang diterima dari dalam wilayah Shilkhali (Keyoukshang), Arakan Army (AA) dikabarkan telah membebaskan 26–27 pria Rohingya dari sekitar 40 orang yang sebelumnya ditangkap secara paksa pada tanggal 29 November lalu.
Pembebasan ini dilakukan setelah para tahanan mengalami penyiksaan fisik yang berat, pemukulan, dan interogasi keras selama tiga hari—tindakan yang diklaim oleh pihak AA sebagai bagian dari “proses penyelidikan”.
Saksi mata melaporkan bahwa 9 orang pria masih dinyatakan hilang. Mereka dibawa ke lokasi yang tidak diketahui dalam kondisi fisik yang sangat memprihatinkan. Mereka yang masih ditahan ini diyakini merupakan tokoh masyarakat dan tetua desa yang dihormati, sehingga memicu kekhawatiran besar bahwa mereka mungkin akan menghadapi perlakuan yang jauh lebih kejam.
Para penyintas menggambarkan masa tiga hari penahanan tersebut penuh dengan tindakan yang tidak manusiawi dan merendahkan martabat. Hal ini termasuk penyiksaan yang dilakukan secara terbuka di hadapan perempuan dan anak-anak. Warga setempat meyakini bahwa kekerasan yang sengaja dipertontonkan ini bertujuan untuk menghancurkan mental, harga diri, dan stabilitas psikologis seluruh komunitas desa.
Mereka yang telah kembali ke rumah dilaporkan mengalami trauma yang sangat mendalam. Beberapa di antaranya menderita luka fisik yang terlihat jelas, sementara yang lain bahkan tidak mampu berjalan atau berbicara akibat kekejaman luar biasa yang baru saja mereka alami.