Beranda / Palestina / Tiga Tahun Terpisah, Ayah Gaza Pulang Membawa Harapan: Enam Akta Kematian Menyambutnya
Kabar Palestina
28 Agu 2026

Tiga Tahun Terpisah, Ayah Gaza Pulang Membawa Harapan: Enam Akta Kematian Menyambutnya

Tiga Tahun Terpisah, Ayah Gaza Pulang Membawa Harapan: Enam Akta Kematian Menyambutnya
Bagikan:

Ahmed al-Siqali menggenggam enam akta kematian anak-anaknya yang tewas dalam gempuran udara ‘Israel’ (Shehab News Agency).

GAZA (Middle East Eye) – Selama hampir tiga tahun, Ahmed al-Siqali hidup dengan satu keinginan sekaligus kekhawatiran: pulang ke Gaza dan kembali memeluk keluarganya.

Ayah tujuh anak itu meninggalkan Gaza untuk bekerja di wilayah Palestina yang diduduki ‘Israel’, hanya sepekan sebelum perang pecah pada Oktober 2023. Penutupan pelintasan kemudian membuatnya terjebak di Tepi Barat yang dijajah, terpisah dari keluarga selama lebih dari dua tahun.

Sementara ia bertahan hidup di luar Gaza, keluarganya berlindung di sebuah rumah di kawasan al-Sahaba, Kota Gaza. Pada Desember 2023, gempuran udara ‘Israel’ menghantam rumah tersebut. Enam anak al-Siqali tewas. Hanya Rosan yang selamat.

Sejak saat itu, kepulangan yang semula menjadi impian berubah menjadi kekhawatiran. Ia tahu, jika akhirnya kembali, ia harus berhadapan dengan ujian yang sangat berat dalam hidupnya: enam anak yang dulu ditinggalkannya demi mencari masa depan sudah tiada.

Bulan lalu, kepulangan itu akhirnya terjadi—dengan cara yang tak pernah ia bayangkan. Serdadu zionis ‘Israel’ membobol sebuah kompleks di Qalqilya, Tepi Barat, tempat al-Siqali tinggal bersama para pekerja asal Gaza. Ia ditahan selama dua pekan sebelum akhirnya dipulangkan ke Gaza.

“Pulang ke Gaza dan memeluk keluarga adalah impian saya, terutama selama berada di penjara dan setelah semua yang saya alami,” ujar al-Siqali kepada Middle East Eye. Namun, kehkhawatiran yang lebih besar. “Saya sangat takut bertemu istri dan putri saya tanpa keenam anak saya.”

Perpisahan yang Menjadi Terakhir

Sebelum perang, warga Palestina biasa bepergian ke wilayah Palestina terjajah dan Tepi Barat untuk bekerja dengan “izin” dari pihak ‘Israel’. Al-Siqali bekerja di sektor konstruksi. Ia pergi dengan satu tujuan: mencari penghidupan dan membangun masa depan bagi anak-anaknya.

“Saya tak pernah membayangkan bahwa saat mengucapkan selamat tinggal kepada anak-anak sebelum berangkat bekerja di bagian lain dari tanah air kami, ternyata itulah kali terakhir saya bersama mereka,” kenangnya.

“Saya tak pernah membayangkan perjalanan yang saya tempuh untuk membangun masa depan mereka justru memisahkan kami—membuat saya tak mampu melindungi mereka, bahkan sekadar mengucapkan selamat tinggal.”

Ketika perang pecah, komunikasi di Gaza berkali-kali terputus. Al-Siqali pun kesulitan menghubungi keluarganya. Setiap kali berhasil tersambung, anak-anaknya hanya meminta satu hal: “Kami ingin Ayah ada di samping kami. Kami tidak butuh pekerjaan atau uang. Kami hanya ingin Ayah bersama kami.”

Pada 8 Desember 2023, setelah berkali-kali gagal menghubungi keluarga, al-Siqali akhirnya berhasil tersambung melalui eSIM. Hanya beberapa menit. “Mereka begitu ketakutan. Kata-kata saya pun tak mampu melindungi mereka dari kenyataan yang sedang mereka hadapi,” ujarnya.

Ia pun meminta istrinya menuliskan nama setiap anak di tangan mereka, jika sesuatu terjadi. Tak lama kemudian, sambungan telepon terputus.

Beberapa menit kemudian, seorang kerabat menelepon. Kabar yang disampaikan sungguh berat bagi al-Siqali. “Dia mengatakan rumah tempat keluarga saya berlindung telah dibom. Istri dan enam dari tujuh anak saya menjadi korban gempuran itu.”

Alhamdulillaah, istrinya Hayat dan anaknya Rosan berhasil ditemukan hidup-hidup dari reruntuhan, meski keduanya terluka. Terpisah ribuan jarak dari keluarganya, al-Siqali hanya bisa memelihara ingatan melalui foto dan video.

Berulang kali ia memutar rekaman perjalanan keluarga mereka ke Resor al-Nour, hanya beberapa hari sebelum keberangkatannya. “Mereka begitu bahagia. Mereka mengatakan betapa bersyukurnya mereka kepada saya.”

Ia bahkan telah membeli rumah di dekat laut, di al-Sudaniya, utara Kota Gaza, untuk mewujudkan impian anak-anaknya tinggal dekat pantai. Rumah itu pun kemudian hancur.

“Saya bekerja keras untuk mewujudkan impian mereka. Saya masih ingat kegembiraan mereka ketika berjalan mengelilingi rumah, memilih kamar dan warna dinding.”

Mohammed dan Muhannad memimpikan kamar yang besar. Kinan, Rayan, dan Basant memimpikan perjalanan bersama ayah mereka. Sementara Eileen baru berusia dua bulan ketika gempuran terjadi. Al-Siqali hanya pernah melihat putri bungsunya itu sekali.

Selama hampir tiga tahun perang, ia menunggu kesempatan untuk kembali kepada Hayat dan Rosan. Penutupan pelintasan membuatnya tak berdaya. Hingga akhirnya, bulan lalu, kesempatan itu datang.

Reuni yang Tak Lagi Utuh

Pada 21 Juli, ketika berbicara dengan istrinya melalui WhatsApp, al-Siqali mendengar suara gerakan tak biasa dan gonggongan anjing di luar. Ia meminta Hayat menjaga diri dan Rosan. Ia menduga serdadu akan datang menangkapnya.

Tak lama kemudian, serdadu zionis ‘Israel’ menerobos gedung tersebut dan menangkap seluruh pekerja di dalamnya, termasuk al-Siqali. Dua pekan kemudian, ia dibebaskan dari Penjara Ofer dan dipulangkan ke Gaza bersama 23 pekerja lainnya.

Dalam perjalanan empat jam menuju Kerem Shalom, mereka diborgol dan ditutup matanya. Dari sana, mereka diserahkan kepada Palang Merah dan dibawa ke Rumah Sakit Nasser. “Ketika berjalan menuju pelintasan, kaki saya nyaris tak mampu menopang tubuh. Saya merasa seperti akan kehilangan kesadaran.”

Yang ada dalam pikirannya hanya satu: “Reuni yang tak lagi utuh. Pertemuan yang sudah begitu lama saya nantikan akhirnya tiba. Namun, keluarga saya sudah tidak lagi lengkap.”

Lalu muncul pertanyaan yang tak menemukan jawaban: “Apa yang telah dilakukan anak-anak saya hingga impian mereka direnggut dan mereka dibunuh seperti ini?”

Menurut PBB, sejak perang dimulai, lebih dari 21 ribu anak telah tewas di Gaza dan Tepi Barat. Ribuan lainnya masih hilang dan diyakini meninggal. “Bukannya anak-anak saya yang menyambut kepulangan saya, justru enam akta kematian merekalah yang menyambut saya,” kata al-Siqali.

Di Rumah Sakit Nasser, Hayat, 36 tahun, telah menunggunya. Ia baru menerima kabar pembebasan suaminya pukul 14.00, setelah dua pekan tanpa mengetahui keberadaannya.

“Jantung saya berdegup kencang. Saya ingin segera berlari menemuinya, tetapi saya tidak tahu bagaimana harus menghadapinya tanpa keenam anak kami.”

Ketika bus Palang Merah tiba, kerabat dan sahabat berlari menyambut al-Siqali. Hayat tetap terpaku. “Saya tidak mampu berlari. Bahkan berjalan pun saya tak sanggup. Rasanya seluruh tubuh saya tak mampu bergerak.”

Ketika al-Siqali mendekatinya, hampir tiga tahun perpisahan berakhir dalam diam dan air mata. Hayat kemudian berkata: “Maafkan saya. Saya tidak mampu menjaga apa yang telah kamu titipkan kepada saya.”

Hayat sendiri harus menghadapi kehilangan keenam anaknya sembari memulihkan luka fisik akibat gempuran dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain demi bertahan hidup.

Hidup Setelah Kehilangan

Kini, keluarga yang tersisa tinggal di sebuah tenda di al-Mawasi, Khan Younis. Bagi al-Siqali, pulang ternyata bukan akhir ujian. Ia harus belajar menjalani kehidupan baru di tengah kehancuran yang tersisa.

“Sangat sulit baginya menyesuaikan diri dengan kehidupan di tenda, terutama pada musim panas ketika panasnya begitu menyengat,” kata Hayat.

PBB menyebut lebih dari 90 persen bangunan di Gaza telah rusak atau hancur. Hampir 1,9 juta orang terpaksa mengungsi, termasuk sekitar 800 ribu orang yang hidup di tenda-tenda darurat.

Tenda-tenda itu hanya memberi sedikit perlindungan dari cuaca, sekaligus membuat penghuninya rentan terhadap serangga, tikus, dan penyakit.

“Ketika kami pulang dari rumah sakit ke tenda, saya tidak mampu menggambarkan raut wajah suami saya,” ujar Hayat. “Dia terkejut melihat luasnya kehancuran dan jalan-jalan yang rusak. Kini, di dalam tenda, dia menghadapi keterkejutan lain: kondisi hidup yang serba terbatas dan jauh dari layak.”

Bagi Hayat, suaminya kini harus membangun kembali kehidupan yang telah porak-poranda. “Selain kehilangan anak-anak kami, dia kini harus menghidupi kami. Namun, sebagai pekerja konstruksi, dia menghadapi sektor pekerjaan di Gaza yang telah benar-benar runtuh.” Semoga Allah kuatkan semua keluarga #GazaKita. (Middle East Eye)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami