Beranda / Palestina / Zanana: Ketika Kebisingan Menjadi Teror Berkepanjangan di Wilayah Udara Gaza
Kabar Palestina
9 Mar 2026

Zanana: Ketika Kebisingan Menjadi Teror Berkepanjangan di Wilayah Udara Gaza

Zanana: Ketika Kebisingan Menjadi Teror Berkepanjangan di Wilayah Udara Gaza
Bagikan:

GAZA (PIC) – Dengung pesawat nirawak zionis ‘Israel’ di langit Gaza bukan lagi sekadar kebisingan yang lewat begitu saja. Ia telah berubah menjadi judul berita harian bagi kehidupan yang menggantung di antara kecemasan dan penantian.

Warga Palestina menyebutnya “Zanana” — istilah yang lahir dari bunyi denging tajam yang menembus kesunyian, terutama pada malam hari.

Saat suara jalanan mereda dan aktivitas kota berhenti, dengung itu justru menguat, melayang di atas rumah-rumah dan tenda-tenda pengungsian.

Drone-drone itu berputar hampir tanpa henti – siang dan malam – terus meneror warga Gaza. Baik dalam masa perang maupun ketika situasi sementara mulai tenang, kehadirannya menjadi bagian dari misi pengawasan dan pengumpulan intelijen. Namun bagi warga di bawahnya, maknanya melampaui urusan militer semata.

Dalam kesadaran kolektif masyarakat Gaza, zanana telah menjelma alat pengawasan yang terus-menerus. Ia menjadi penanda psikologis bahwa serangan bisa datang kapan saja—tanpa peringatan.

Bahkan ketika ada ledakan yang menyusul, suaranya saja sudah cukup untuk membuat warga tetap siaga. Setiap dengung adalah kemungkinan. Setiap malam adalah pertanyaan yang tak pernah benar-benar terjawab.

Di Antara Hidup dalam Keterpaksaan dan Kelelahan Psikologis

Di kamp pengungsi Al-Shati, sebelah barat Gaza City, Umm Khaled Miqdad (42) menunjuk ke langit. “Kami berusaha meyakinkan diri bahwa itu hanya pesawat biasa. Tapi suaranya masuk ke setiap sudut rumah dan membangunkan anak-anak dari tidur,” katanya.

Yang ia maksud adalah dengung drone ‘Israel’—suara yang oleh warga disebut “Zanana”. Pada malam hari, ketika kebisingan jalanan mereda dan suasana menjadi sunyi, bunyi itu justru terdengar semakin tajam.

“Malam hari dengungnya terasa lebih keras, karena semuanya hening. Rasanya seperti melayang tepat di atas kepala kami. Bahkan setelah gencatan senjata, kami tidak merasa perang benar-benar usai. Zanana tidak pernah meninggalkan langit,” ujarnya.

Bagi Umm Khaled, dampak paling menyakitkan terlihat pada anak-anak. Mereka kini mengaitkan suara drone dengan kematian. “Setiap dengungnya menguat, mereka berlari ke sudut tenda dan bersembunyi, seolah-olah pengeboman bisa terjadi kapan saja,” katanya lirih.

Cerita serupa datang dari kamp pengungsi Nuseirat. Mahmoud Al Shafii (31) mengaku warga memang mulai terbiasa dengan suara itu—namun bukan berarti bisa menerimanya. “Kami terbiasa mendengarnya, tapi tidak pernah benar-benar tahan. Itu sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tapi terus-menerus mengganggu saraf,” ujarnya.

Mahmoud bekerja dari rumah. Dengung tanpa jeda membuatnya sulit berkonsentrasi. “Kadang saya tidak bisa fokus karena suara yang terus-menerus. Rasanya seperti ada mata yang selalu mengawasi saya,” katanya.

Ironisnya, ketika suara itu tiba-tiba menghilang, ketakutan justru berlipat. “Saat mendadak sunyi, saya malah merasa lebih takut—seperti ada sesuatu yang akan terjadi.”

Dengung yang Lebih Keras dari Suara Pelajaran

Di tengah keterbatasan dan bayang-bayang konflik di Gaza, Samar Abu Ouda (35) berinisiatif membuka pusat belajar bagi anak-anak dengan dana dan tenaga pribadinya. Namun ruang kelas kecil itu pun tak luput dari gangguan yang sama: dengung drone yang oleh warga disebut “Zanana”.

“Kadang kami harus mengeraskan suara saat menjelaskan aka dan karena dengungnya begitu jelas terdengar. Anak-anak sering bertanya, kenapa suaranya tidak pernah berhenti?” kata Samar.

Menurutnya, dampak Zanana tak berhenti di dalam rumah, tetapi merembes hingga ke bangku belajar. Banyak muridnya menggambar drone di buku tulis mereka, bahkan ketika topiknya tidak ada hubungan dengan perang.

“Seorang anak menggambar rumah dengan pesawat besar di atasnya. Saat saya tanya kenapa, dia menjawab: karena itu selalu ada di atas rumah kami,” ujarnya.

Bagi Samar, gambar-gambar itu menunjukkan bahwa drone bukan lagi peristiwa luar biasa dalam imajinasi anak-anak. Ia telah menjadi bagian tetap dari lanskap harian.

Dampak yang Melampaui Kebisingan

Sejumlah laporan hak asasi manusia dan pemantauan lapangan menegaskan, suara drone yang terus-menerus menciptakan kecemasan permanen. Dengung berulang dan tak terduga itu mampu membangkitkan kembali ingatan akan serangan sebelumnya, bahkan ketika tak ada eskalasi militer.

Abdullah al-Khatib, spesialis psikologi komunitas, menjelaskan bahwa dampaknya bukan hanya terkait kemungkinan pengeboman yang bisa terjadi setelahnya. “Suaranya sendiri sudah menjadi faktor tekanan (baca: teror) psikologis,” katanya kepada PIC.

“Bunyi yang berulang dan tak terprediksi membuat sistem saraf terus berada dalam kondisi siaga. Manusia membutuhkan keheningan untuk memulihkan keseimbangan mental, tetapi di Gaza, keheningan itu hampir tidak ada,” jelasnya.

Menurut Al-Khatib, ketika suara tersebut terhubung dengan pengalaman traumatis seperti pengeboman dan kehilangan, ia berubah menjadi pemicu trauma. “Hanya dengan mendengarnya, ingatan akan adegan menyakitkan bisa muncul kembali, terutama pada anak-anak dan para penyintas serangan.”

Ia memperingatkan dampak jangka panjang yang mengintai: gangguan tidur kronis, kecemasan menyeluruh, kewaspadaan berlebihan, hingga masalah perilaku pada anak-anak. “Suara drone bukan sekadar kebisingan. Ia adalah pesan terus-menerus yang menjaga masyarakat dalam ketegangan kolektif,” tegasnya.

Bagi warga Gaza, perang kini tak lagi diukur hanya dari dentuman ledakan. Ia juga diukur dari suara yang mendahuluinya—atau bahkan menggantikannya. Zanana, meski tak selalu menembakkan rudal, tetap menjadi sinyal kuat bahwa bahaya belum benar-benar pergi. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami