Beranda / Palestina / Anak-anak Gaza dengan Sindrome Down Berjuang Pulihkan Kemampuan yang Hilang Akibat Genosida
Kabar Palestina
8 Okt 2026

Anak-anak Gaza dengan Sindrome Down Berjuang Pulihkan Kemampuan yang Hilang Akibat Genosida

Anak-anak Gaza dengan Sindrome Down Berjuang Pulihkan Kemampuan yang Hilang Akibat Genosida
Bagikan:

Seorang anak dengan sindrom down mengikuti pembelajaran di dalam tenda darurat di Gaza Tengah (MEE/Abdallah al-Naami).

GAZA (Middle East Eye) – Setelah berjalan jauh melewati kamp-kamp pengungsian dan jalanan berdebu, Heba Alataar, 13 tahun, tiba dalam kondisi kelelahan di kelasnya di pusat Right to Live Society (RLS) di Al-Zawaida, Gaza Tengah.

Di dalam sebuah tenda darurat kecil yang dibagi menjadi dua ruang kelas, gadis Palestina itu duduk di lantai bersama teman-teman sekelasnya—semuanya anak-anak dengan sindrom down—berusaha mempelajari berbagai keterampilan baru.

Heba adalah satu dari lebih dari 1.000 anak dengan sindrom down di Gaza. Seperti anak-anak Gaza lainnya, mereka harus menanggung dampak berat dari genosida yang dilakukan penjajah ‘Israel’. Namun, agresi genosida membawa kehancuran yang jauh lebih besar bagi anak-anak seperti mereka.

Gempuran ‘Israel’ menghancurkan berbagai lembaga yang selama ini menyediakan pendidikan dan layanan perawatan bagi mereka, sekaligus menghapus keterampilan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.

Kini, di tengah pengungsian, trauma, dan keterbatasan sumber daya yang parah, anak-anak ini bersama keluarga mereka harus berjuang membangun kembali keterampilan dan kehidupannya.

Kehidupan Sebelum Genosida

Sebelum perang, banyak anak dengan sindrom down di Gaza mendapatkan layanan khusus sejak lahir hingga dewasa, terutama melalui Right to Live Society (RLS). Didirikan pada 1993, RLS mengoperasikan tiga fasilitas di berbagai wilayah Gaza dan mempekerjakan sekitar 200 orang.

Raoufa Salama, direktur program rehabilitasi, mengatakan bahwa layanan RLS mencakup intervensi dini, pendidikan, program rehabilitasi, serta konseling psikologis bagi para orang tua. Bagi Alaa Alattar, ayah Heba, dukungan tersebut mengubah hidup keluarganya.

“Ketika mengetahui putri saya mengalami sindrom Down, saya menangis berhari-hari. Saya tidak memahami kondisinya dan tidak tahu bagaimana harus membesarkannya. Saya sangat khawatir tentang masa depannya,” ujar Alattar.

“Semua ketakutan dan kekhawatiran saya sirna ketika kami mengunjungi RLS. Kami melihat bagaimana anak-anak dirawat dan betapa banyak keterampilan yang berhasil mereka kuasai.”

Pada usia 10 tahun, Heba telah menguasai berbagai keterampilan dasar, termasuk memahami, berbicara, dan menjaga kebersihan diri. Ia juga mulai belajar membaca dan menulis.

“Saya sangat bahagia dan bangga melihat perkembangan putri saya,” kata Alattar. “Saya mulai membayangkan masa depan yang cerah untuknya.”  Namun, perkembangan Heba terhenti ketika gempuran zionis ‘Israel’ dimulai pada Oktober 2023.

Kemunduran Besar

Gempuran ‘Israel’ menghancurkan seluruh fasilitas RLS dan menewaskan banyak anak dengan sindrom down. Sebagian lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang. Anak-anak yang selamat harus menjalani kehidupan dalam ketakutan, di tengah kerasnya kondisi pengungsian.

Nabila Abed Rabbo mengenang bagaimana setiap gelombang serangan membuat putrinya, Saja Abed Rabbo (13), diliputi ketakutan.

“Setiap kali mendengar ledakan, Saja langsung ketakutan. Ia menutup telinga, lalu berlari kepada saya sambil berteriak dan memaksa tetap berada di sisi saya,” ujarnya.

Ketakutan yang terus-menerus dan buruknya kondisi selama mengungsi membuat Saja kehilangan seluruh keterampilan dasarnya, bahkan kemampuan menggunakan toilet. Keluarganya terpaksa menggunakan popok yang pun sulit diperoleh akibat blokade.

Bagi Alattar, menyaksikan putrinya kehilangan kemampuan yang telah dibangun bertahun-tahun menjadi pukulan yang sangat berat.

“Perang merenggut segalanya dari Heba. Ia kehilangan keterampilan, minat, dan rutinitasnya. Ia kembali ke titik nol, seolah tak pernah mendapatkan pendidikan maupun perawatan,” ujar ayah asal Palestina itu dengan suara bergetar.

“Tak ada kata-kata yang mampu menggambarkan suasana hati saya. Bertahun-tahun kerja keras Heba, serta dedikasi guru dan keluarga yang mendampinginya, lenyap dalam sekejap. Yang tersisa adalah melihat putri kecil saya tertekan dan duduk sendirian di tempat pengungsian.”

Dampak serupa dialami keluarga Bahjat Sultan. Putrinya, Fatima (14), mengalami kemunduran akibat pengeboman, pengungsian, dan terputusnya dukungan dari lingkungan pendidikan yang selama ini membantunya berkembang.

“Perang sangat memengaruhi Fatima. Ia kehilangan kemampuan mengungkapkan perasaannya dan mulai menunjukkan perilaku agresif,” kata Bahjat. “Pada malam hari, ia juga sulit tidur. Ia kerap terbangun dalam ketakutan dan menangis karena mimpi buruk.”

Salama mengatakan trauma perang berdampak sangat berat pada kondisi psikologis anak-anak dengan sindrom down di Gaza, hingga menyebabkan kemunduran dalam berbagai keterampilan, termasuk komunikasi dan kemampuan menjaga kebersihan diri.

Ia juga mengatakan pusat RLS di Al-Zawaida kini menerima empat hingga lima kasus baru setiap pekan; meningkat dari satu hingga dua kasus sebelum genosida. Menurut Salama, peningkatan tersebut berkaitan dengan paparan polusi tingkat tinggi akibat bahan peledak ‘Israel’ serta tekanan psikologis.

Membangun Kembali di Tengah Kehancuran

Meski mengalami kesulitan luar biasa, anak-anak itu tetap menyimpan kenangan tentang RLS. Di tengah pengungsian yang memaksa keluarga mereka berpindah-pindah, Fatima Sultan selalu memastikan seragam RLS tetap tersimpan di dalam tasnya.

“Fatima sering mengenakan seragamnya dan meminta saya mengantarnya ke pusat. Saya terus berjanji akan membawanya nanti, dengan harapan suatu hari pendidikan bisa kembali berjalan,” kata ayahnya.

Pada Juli 2024, tim RLS mulai menghidupkan kembali sebagian layanannya. Fokusnya adalah memberikan dukungan psikologis bagi anak dan orang tua, membantu memulihkan keterampilan yang hilang, serta meningkatkan kesadaran tentang bahaya perang dan pengungsian.

Upaya tersebut diawali dengan kegiatan rekreatif dan kunjungan ke rumah, kemudian dilanjutkan dengan program intervensi dini, pendidikan, dan rehabilitasi.

Kembalinya layanan RLS disambut penuh sukacita oleh anak-anak dan keluarga.

“Saya sudah mencoba mendaftarkan Saja ke beberapa sekolah, tetapi dia ditolak karena kondisinya,” ujar Abed Rabbo. “Ketika mendapat undangan dari RLS, dia sangat bahagia karena akhirnya bisa kembali ke sekolahnya, belajar, dan berteman.”

Kini, RLS melayani lebih dari 1.000 anak dengan sindrom down dan autisme melalui tenda-tenda darurat di tiga lokasi di Gaza.

Namun, kehancuran fasilitas dan blokade membuat kebutuhan dasar masih jauh dari terpenuhi. Salama mengatakan RLS menghadapi kekurangan parah berbagai sumber daya penting, termasuk ruang belajar yang layak dan peralatan pendidikan yang sesuai.

Untuk mengatasi keterbatasan bahan, para guru membuat sendiri media pembelajaran dari kardus bekas kemasan bantuan dan kertas warna.

Menurut Salama, gempuran ‘Israel’ yang terus berlangsung menjadi tantangan terbesar bagi proses rehabilitasi. Anak-anak berisiko kembali kehilangan keterampilan yang baru mereka kuasai akibat trauma serangan udara dan pengungsian.

Meski gencatan senjata diumumkan pada Oktober tahun lalu, zionis ‘Israel’ masih melakukan gempuran hampir setiap hari di berbagai wilayah Gaza dan membatasi ketat masuknya bantuan.

Sejak gencatan senjata, serdadu ‘Israel’ telah membunuh sedikitnya 1.386 warga Palestina, termasuk sedikitnya 300 anak-anak.

Ratusan lainnya terluka, termasuk Ahmed Al-Mabhouh (14), siswa RLS yang ditembak lima kali oleh seorang serdadu ‘Israel’ saat bermain di dekat rumahnya, sebelah timur kamp pengungsi Al-Bureij. Luka-luka tersebut membuatnya tidak mampu kembali mengikuti kelas.

Membangun Harapan melalui Pendidikan

Meski menghadapi tantangan besar, anak-anak itu perlahan kembali menunjukkan kemajuan.

Salama mengatakan anak-anak dan keluarga mereka tetap berkomitmen menjalani rehabilitasi. Mereka mulai memperoleh kembali keterampilan penting, seperti berkomunikasi dan menjaga kebersihan diri, sekaligus belajar membaca, menulis, serta mengenali dan menghindari berbagai bahaya.

Sejak kembali bergabung dengan RLS, kehidupan Heba berubah. Menurut ayahnya, belajar kini menjadi bagian dari rutinitas hariannya.

“Belajar menjadi gaya hidup baru bagi Heba. Hampir sebagian besar waktunya dihabiskan untuk belajar. Ia selalu bersemangat pergi ke pusat dan senang bercerita kepada kami tentang teman-temannya dan apa yang dipelajarinya,” ujarnya.

Bagi Alattar, perkembangan Heba kembali menumbuhkan harapan. “Saya berharap perang benar-benar berakhir dan anak-anak kami tidak lagi hidup dalam ketakutan terhadap gempuran udara atau pengungsian yang datang tiba-tiba,” katanya.

“Saya berharap putri saya memiliki lingkungan pendidikan yang aman agar ia dapat pulih, berkembang, dan tumbuh hingga mewujudkan impian kami: menjadi guru bagi anak-anak dengan sindrom down.” (Middle East Eye)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami