Oleh: Kritika Sharma | Alih Bahasa: ADR

Ketika Maria Bilal kembali ke Delhi bulan ini setelah cuti kerja selama tiga bulan, ia tidak bisa menemukan rumah untuk disewa. “Rasanya seolah kota yang saya tinggali selama 13 tahun tidak lagi menginginkan saya. Ini adalah tempat di mana saya menjalin persahabatan, menemukan jati diri, dan membangun kehidupan dari nol, namun kini terasa begitu asing,” ujar profesional komunikasi berusia 36 tahun itu, yang telah menghabiskan seluruh masa kerjanya di Delhi.
Karena rumah di Lajpat Nagar yang terakhir ia tempati sudah tidak tersedia, Maria menghubungi para agen properti. Mereka menunjukkannya rumah-rumah lain di Lajpat Nagar, serta Jangpura, Vivek Vihar, dan Noida. Namun, setiap kali tiba saatnya menandatangani perjanjian, ia selalu menemui jalan buntu.
Para agen kembali dengan jawaban yang sama—pemilik tidak ingin menyewakan rumah kepada seorang Muslim Kashmir, kata Maria. Ia mendarat di Delhi pada 11 November, hanya sehari setelah serangan teror di dekat Red Fort (Benteng Merah) yang dilakukan oleh sebuah kelompok dokter radikal dari Jammu & Kashmir (J&K).
Maria mengatakan ia telah menunjukkan kredibilitas profesionalnya dan memberi tahu para calon pemilik rumah bahwa ia pernah bekerja dengan pemerintah pusat, dengan harapan hal itu akan membuat mereka percaya. “Tapi mereka tetap tidak bisa menghilangkan keraguan mereka,” katanya.
Ini adalah perasaan yang disuarakan oleh banyak warga Kashmir, baik secara terbuka maupun pribadi, pasca rencana teror di Delhi tersebut. Situasinya begitu mendesak hingga Ketua Menteri J&K, Omar Abdullah, turun tangan dengan peringatan publik bahwa tindakan “segelintir orang tidak boleh mendefinisikan mayoritas besar penduduk J&K yang cinta damai.”
“Tidak semua orang Kashmir berada di pihak teroris. Hanya segelintir orang yang mencoba mengganggu perdamaian dan kerukunan di sini,” ujar sang Ketua Menteri pekan lalu.
Bilal telah melalui tiga agen properti. “Salah satu dari mereka merasa malu untuk memberi tahu saya bahwa pemilik rumah tidak menginginkan penyewa Muslim, jadi dia terus menunda pertemuan. Tapi setelah ditolak oleh begitu banyak pemilik, saya tahu persis apa yang sedang terjadi,” kata Maria. Ia akhirnya menemukan satu rumah, “tapi pemiliknya meminta 20.000 Rupee (sekitar Rp3,7 juta) lebih tinggi dari harga pasar.”
Dia kini telah kembali ke Srinagar, sebuah langkah yang ia harap hanya bersifat “sementara” karena kehidupannya ada di Delhi.
Omar Peerzada, yang bekerja sebagai konsultan manajemen di Gurgaon, mengatakan bahwa bagi Muslim memang sudah sulit untuk menyewa rumah di Delhi-NCR, dan situasi ini hanya akan menjadi semakin sulit sekarang.
Omar pindah ke sebuah lingkungan elit di Gurgaon—”di mana tidak ada yang peduli tentang agama saya”—setelah kesulitan mencari tempat tinggal di Delhi. “Namun belakangan ini, makin sulit bagi saya untuk membayar sewa rumah di Gurgaon. Saya pikir saya bisa pindah ke tempat yang lebih murah, tapi orang-orang tidak mau memberikan rumah mereka kepada penyewa Muslim Kashmir,” ujarnya.
Omar menceritakan bahwa ia mencoba mencari apartemen di Noida dan Ghaziabad tetapi terbentur segala macam aturan asosiasi warga (RWA). “Di beberapa tempat, mereka tidak menginginkan pria lajang, di tempat lain mereka tidak menginginkan pemakan daging. Jadi, untuk saat ini, saya tidak punya pilihan selain menanggung biaya tinggi dan tetap tinggal di Gurgaon,” katanya.
Neeraj Sahgal, seorang agen properti di Delhi, setuju bahwa beberapa orang memang merasa lebih sulit mendapatkan rumah. “Tapi tidak semua pemilik rumah peduli dengan agama penyewa. Bahkan saya pernah menghadapi masalah di mana calon penyewa ditolak karena pemiliknya tidak ingin memberikan rumah mereka kepada seorang Muslim, tetapi ada juga orang yang tidak mempedulikan hal-hal tersebut,” kata Sahgal, seraya menambahkan bahwa ia merasa sedih ketika agama menjadi alasan mengapa orang tidak bisa mendapatkan tempat tinggal.
Seorang agen yang berbasis di Jangpura mengatakan bahwa ia telah melihat banyak Muslim Kashmir ditolak sebagai calon penyewa, bahkan sebelum kejadian 10 November. “Dalam beberapa kasus, bahkan pemilik rumah asal Kashmir pun tidak siap menyewakan rumah mereka kepada sesama orang Kashmir yang tidak mereka kenal. Klien laki-laki saya, khususnya, mengalami banyak kesulitan menemukan rumah,” ujarnya.
Sadiq Mir, seorang pengusaha, mengatakan butuh waktu tiga bulan mencari rumah di Delhi pada tahun 2023 sebelum akhirnya menemukan satu setelah menghubungi lewat lingkaran keluarga. “Itu adalah perasaan yang sangat mengasingkan,” katanya.
(Beberapa nama telah disamarkan atas permintaan)
Kredit Artikel:
- Penulis Asli: Kritika Sharma
- Judul Asli: ‘City I lived in for 13 years doesn’t want me’: Kashmiri Muslim tenants face fresh housing bias in Delhi-NCR
- Penerjemah: ADR
- Sumber: https://timesofindia.indiatimes.com/city/gurgaon/after-13-years-in-delhi-she-took-a-3-month-break-when-she-returned-no-one-wanted-her-as-a-tenant/articleshow/125573321.cms
